共有

BAB 87

作者: Jw Hasya
last update 公開日: 2026-05-09 21:23:25

Zehewa menarik kekang kudanya, namun ia tidak segera memacu hewan itu pergi. Ia berhenti sejenak, membiarkan keheningan Valeria yang mencekam meresap ke dalam pori-porinya. Dari dalam gubuk, ia masih bisa mendengar isak tangis Satta yang tertahan—suara yang baginya lebih merdu daripada denting harpa di aula perjamuan Alderaan.

Setiap tetes air mata Satta adalah konfirmasi atas kemenangannya.

Ia memejamkan mata, dan seketika memori pahit itu menghantamnya seperti ombak pasang. Ia teringat malam
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 87

    Zehewa menarik kekang kudanya, namun ia tidak segera memacu hewan itu pergi. Ia berhenti sejenak, membiarkan keheningan Valeria yang mencekam meresap ke dalam pori-porinya. Dari dalam gubuk, ia masih bisa mendengar isak tangis Satta yang tertahan—suara yang baginya lebih merdu daripada denting harpa di aula perjamuan Alderaan.Setiap tetes air mata Satta adalah konfirmasi atas kemenangannya.Ia memejamkan mata, dan seketika memori pahit itu menghantamnya seperti ombak pasang. Ia teringat malam ketika ibunya, Permaisuri Viona, diseret keluar dan dibunuh oleh Allard."Kau menghancurkan ibuku serta impianya," bisik Zehewa pada kabut, teringat bagaimana Allard menuduh Viona sebagai penyebab kematian ratu sebelumnya. "Kau membalas dendam untuk sebuah sejarah yang bahkan kau sendiri tidak alami sepenuhnya, Allard. Jadi, jangan salahkan aku jika aku melakukan hal yang sama padamu."Selama bertahun-tahun, Zehewa memainkan peran sebagai adik tiri yang penurut, yang lemah lembut, yang lebih suk

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 86

    Langkah kaki kuda-kuda hitam itu meredam di atas tanah lembap Valeria yang tertutup lumut dan kabut abadi. Bagi Zehewa, udara hutan ini berbau seperti kekalahan—sebuah aroma tanah basah dan pembusukan yang menurutnya sangat cocok untuk mengakhiri riwayat Sang Singa Alderaan.Iring-iringan kecil itu berhenti tepat di depan gubuk kayu yang tampak terlalu sederhana untuk menampung seorang penguasa besar. Zehewa turun dari kudanya dengan keanggunan yang disengaja. Ia memperbaiki lipatan mantel sutranya, memastikan setiap inci penampilannya memancarkan kontras yang tajam dengan kemelaratan di sekelilingnya.Di ambang pintu, Satta berdiri. Wajahnya yang pucat karena kelelahan seketika mengeras saat melihat sosok yang turun dari kuda tersebut. Ia mengira bantuan atau tabib istana yang datang, namun yang berdiri di hadapannya adalah perwujudan dari ambisi yang dingin."Zehewa?" bisik Satta, suaranya parau.Zehewa tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya melemparkan senyum miring yang sanggup

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 85

    Kabar tentang sekaratnya Sang Singa Alderaan merambat seperti api liar di antara lorong-lorong dingin istana. Namun, jika di Valeria langit tampak muram dan penuh air mata, di sudut terjauh sayap barat istana—di sebuah ruangan yang dipenuhi aroma kemenyan mahal dan permadani bulu—sebuah seringai kemenangan justru merekah.Zehewa.Adik tiri Allard itu berdiri di balkon, menatap ke arah utara, tempat di mana hutan Valeria bersembunyi di balik kabut. Di tangannya, sebuah cawan perak berisi anggur merah terbaik ia goyang-goyangkan dengan santai. Mantel sutranya yang bersulam benang emas berkilau tertimpa cahaya lilin, memantulkan ambisi yang selama ini ia simpan di balik kedok kepatuhan yang palsu."Dua bulan?" Zehewa bergumam sendiri, suaranya halus namun tajam seperti sembilu. "Terlalu lama bagi seorang penguasa untuk mati, tapi cukup cepat untuk sebuah suksesi."Zehewa meneguk anggurnya dengan satu gerakan mantap. Baginya, penderitaan Allard adalah melodi paling merdu yang pernah ia de

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 84

    Kesunyian Valeria yang biasanya hanya dipecah oleh kicau burung dan gemericik sungai tiba-tiba terusik oleh suara derap kaki kuda yang teratur namun berat. Jhonatan, yang sedang mengasah pisaunya di luar gubuk, adalah yang pertama kali menyadari kehadiran mereka. Sepasukan kecil pengawal dengan jubah yang disamarkan—namun tetap memancarkan aura kemiliteran yang kaku—berhenti di batas hutan. Di tengah-tengah mereka, seorang wanita dengan jubah beludru biru tua yang kontras dengan debu jalanan turun dari kereta kuda sederhana.Ratu Helena.Wajahnya yang biasanya kaku dan penuh wibawa kini tampak pias. Garis-garis kekhawatiran terpahat dalam di sudut matanya yang sembab. Tanpa menunggu pengawalnya membuka jalan, ia melangkah cepat menyusuri jalan setapak yang sempit menuju gubuk kayu Satta.Satta, yang baru saja keluar dari ladang dengan bakul berisi sayuran, terpaku di tempatnya. Ia mengenal sosok itu. Sosok yang dulu pernah ia benci sebagai simbol kekuasaan Alderaan yang menindas. Namu

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 83

    Satta terpaku di ambang pintu, suaranya tercekat di tenggorokan. Kata-kata Jhonatan barusan bukan sekadar peringatan; itu adalah vonis yang dijatuhkan tepat ke ulu hatinya. Dua bulan. Angka itu terasa begitu kerdil dibandingkan dengan kebencian yang ia pelihara, namun terasa begitu raksasa ketika ia menyadari betapa sedikitnya waktu yang tersisa untuk sekadar saling memaafkan.Angin malam Valeria berembus kencang, membawa aroma pinus dan tanah basah. Satta menoleh ke arah teras, di mana Allard masih duduk termenung menatap kegelapan hutan. Pria itu tampak begitu rapuh, seolah embusan angin yang sedikit lebih keras saja bisa membawanya terbang menjadi debu.Satta melangkah keluar, mendekati Allard dengan gerakan yang tidak lagi dipenuhi oleh kewaspadaan yang tajam. Ia duduk di undakan tangga kayu di samping Allard, menjaga jarak yang cukup namun mampu merasakan panas tubuh pria itu yang masih berjuang melawan sisa-sisa racun dan kelelahan paru-parunya."Kenapa kau tidak memberitahuku?"

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 82

    Minggu-minggu berikutnya adalah masa transisi yang aneh. Allard tidak lagi diperbolehkan melakukan pekerjaan berat. Jhonatan melarangnya menyentuh kapak atau memikul air sampai parunya benar-benar pulih. Sebagai gantinya, Satta memberinya tugas yang lebih "ringan" namun jauh lebih menyiksa bagi mental Allard: menjaga Abraham saat Satta bekerja di ladang.Allard duduk di kursi kayu di teras, dengan Abraham di pangkuannya. Mantan penguasa yang dulunya ditakuti karena kekejamannya itu kini tampak bingung menghadapi seorang bayi yang menarik-narik jenggot tipisnya."Dia tidak menggigit, Allard. Dia anakmu," ujar Jhonatan yang lewat sambil membawa hasil buruan.Allard menatap bayi itu dengan penuh pemujaan. "Dia terlalu suci untuk disentuh oleh tangan yang pernah menghunuskan pedang ke arah ibunya sendiri, Jhonatan.""Mungkin itu sebabnya dia ada di sini," sahut Jhonatan filosofis. "Untuk membersihkan tanganmu dengan tawa kecilnya."Sore itu, Satta kembali dari ladang dengan wajah yang lel

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 13

    “Cepat keluar, Elena ….” Perintahnya saat sang kaisar telah pergi. Satta segera keluar, sebelum langkahnya mendekati Allard, gadis itu segera memungut celana dalamnya yang semoat berserak di atas lantai. Dengan wajah merah menahan malu, Satta kemudian mendekat dan segera pamit pada Allard. Na

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 12

    Ujung jemari Allard memasuki lembah belukar milik Satta dengan begitu lembut. Membuat gadis itu mendesah penuh hasrat. Saat satu jari sukses masuk, tubuhnya menggelinjang. “Nikmatilah, kau harus tahu jika surga dunia itu nyata, Elena ….” Satta memejamkan matanya, sesekali membeliak hanya ters

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 14

    Satta tertegun cukup lama saat melihat melihat kondisi Allard yang begitu mengenaskan. Wajah pemuda itu sudah sepenuhnya ditutupi oleh darah. Satta kemudian berjongkok dan meraih tubuh pria itu dengan penuh kehati-hatian. “Kenapa kau bisa seperti ini, Allard?” Tangisannya oecah, saat melihat keada

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 19

    Ruangan yang semula begitu berisik akibat dari suara Satta, kini tiba-tiba senyap. Langkah kaki dengan tubuh kekar dan menjulang berjalan mendekat. Matanya menatap Satta dengan tatapan penuh intimidasi. “A-Allard?!” Satta menatap keheranan. “Kenapa kau melakukan ini?” Air matanya berlinang. Ya, p

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status