Matahari baru saja menyembul dari ufuk timur, menyirami ruko kelontong yang kini menjadi saksi bisu transisi sebuah generasi. Madun—nama yang kini resmi tersemat di kartu identitas pria berusia dua puluh satu tahun itu—berdiri di depan pintu harmonika yang masih terkunci. Ia memegang kunci besar yang dulu selalu dipegang ayahnya dengan jemari yang kokoh. Hari ini adalah hari pertama baginya untuk benar-benar mengelola toko itu seorang diri sebagai pemilik sah, setelah semua urusan administrasi dan warisan diselesaikan. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan aroma sisa-sisa kayu tua dan dupa yang biasa dinyalakan ibunya dulu, sebuah aroma yang selalu membawa ketenangan di tengah riuhnya pikiran."Aku siap, Ayah, Ibu," bisiknya pelan, seolah sedang meminta restu dari dua sosok yang kini telah bersemayam di keabadian. Ia membuka pintu toko dengan sekali sentakan, suara derit logam yang akrab menyambutnya. Madun melangkah masuk, tidak ke meja kasir, melainkan langsung menuju rak paling
Read more