ホーム / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 269: Teror di Ujung Fajar

共有

Bab 269: Teror di Ujung Fajar

作者: Ibrahiman
last update 公開日: 2026-07-21 08:04:25

​Pukul tiga pagi, suara alarm darurat berbunyi nyaring dari pos ronda pemuda desa, membangunkan seluruh warga yang masih terlelap lelap.

​Madun langsung melompat dari tempat tidurnya, mengenakan kaus oblong hitam ketat yang mencetak otot lengan bidang dan dada bidangnya dengan sempurna.

​Sarah menyusul di belakangnya dengan daster sutra tipis warna merah marun yang memperlihatkan lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang tampak naik-turun menahan panik.

​"Mas Madun, ada asap hitam mem
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 277: Air Mata di Balik Pelukan

    ​Suara deru motor yang tadi menggelegar di luar mendadak lenyap digantikan kesunyian malam, menyisakan deru napas Madun yang masih berat setelah kejadian menegangkan di dalam toko.​Sarah berdiri tegap di hadapannya, mengenakan blus krem pas badan yang memamerkan lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun menahan emosi mendalam. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang rampingnya dengan sempurna, sementara paha mulus jenjangnya tampak sedikit bergetar karena rasa lelah yang teramat sangat.​Madun menatap istrinya dengan rasa bersalah yang teramat dalam, menyadari betapa besar pengorbanan wanita tercintanya itu dalam menjaga kehormatan keluarga mereka.​"Maafkan aku, Sarah... Aku sempat goyah sedetik tadi saat wanita itu mencoba meruntuhkan pertahananku dengan cara murahan," ucap Madun lirih dengan suara berat bernada rendah.​Sarah menggeleng pelan, air mata bening tiba-tiba menetes membasahi pipinya yang mulus, namun senyum tulus tetap tersungging di bib

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 276: Tamu Misterius di Depan Toko

    ​Wanita berparas cantik jelita itu melangkah anggun mendekati pintu ruko, mengenakan gaun malam merah muda ketat yang memamerkan lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang menggoda.​Sarah langsung menyipitkan mata tajamnya, memperhatikan setiap gerak-gerik wanita asing tersebut sementara blus krem dan rok pensil hitamnya membingkai pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna.​Madun berdiri tegar di dekat meja kasir, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol tegas di balik kaus oblong hitamnya yang maskulin.​"Malam, Mas Madun... Boleh saya minta tolong dicarikan air mineral dingin? Perjalanan dari kota bikin tenggorokan saya kering banget," ucap wanita itu dengan suara mendesah manja.​Siska yang berdiri di sebelah rak langsung melipat tangan di dadanya, mendengus pelan melihat gaya genit si tamu asing dari balik daster oranye ketatnya. "Ih, cari air mineral kok gayanya kayak mau casting sinetron azab! Toko sebelah masih buka tuh kalau

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 275:

    Satu Tamparan untuk Si Utusan​Pria berjas rapi yang baru saja menebar ancaman penyitaan lahan langsung tertegun di tempat, sementara keringat dingin mendadak membasahi keningnya yang licin.​Sarah berdiri tegap di sisi kiri Madun, mengenakan blus krem pas badan yang memamerkan lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun menahan emosi. Rok pensil hitam ketat yang membalut pinggang rampingnya membuat paha mulus jenjangnya terlihat sangat memukau di bawah terik matahari pagi halaman ruko.​Madun melangkah maju dengan gerakan tenang namun penuh wibawa, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol tegas di balik kaus oblong hitamnya. Wajah tampannya dengan rahang tegas tampak sangat dingin, memancarkan aura preman berhati pahlawan yang membuat sang utusan korporasi mendadak salah tingkah.​"Kamu pikir ancaman kertas merah itu bisa bikin kami takut?" tanya Madun dengan suara berat dan jantan yang menggelegar.​Utusan berjas itu menelan ludah su

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 274: Fajar Baru di Halaman Ruko

    ​Matahari pagi perlahan naik, memancarkan kehangatan ke seluruh sudut desa dan menyinari halaman ruko Madun yang sudah ramai dikunjungi warga.​Sarah berdiri di samping meja kasir mengenakan blus krem elegan yang pas badan, memperlihatkan lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang, dipadukan dengan rok pensil hitam yang membungkus pinggang ramping dan paha mulus jenjangnya dengan sempurna.​Madun berdiri tegar di dekat pintu masuk, mengenakan kaus oblong hitam ketat yang mencetak otot lengan bidang dan dada bidangnya secara maskulin, memancarkan wibawa yang membuat siapa pun merasa segan.​"Pakto, silakan duduk dulu di sini, jangan sungkan," ucap Madun ramah sambil menarik kursi kayu untuk ayah Jono yang datang dengan wajah pucat pasi dan tubuh gemetar.​Ayah Jono duduk perlahan, menunduk malu karena masalah utang rentenirnya kini harus merepotkan sang pemilik toko.​Siska yang sedang merapikan toples kerupuk langsung mendekat dengan daster oranye cerah, mempertontonk

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 273: Misteri di Ujung Gudang

    ​Madun langsung melemparkan potongan mangga ke piring, gerakannya begitu cepat dan penuh antisipasi hingga membuat meja kasir bergetar pelan. Otot lengan bidang dan dada bidangnya menegang di balik kaus oblong hitam, memancarkan aura ketegasan seorang pemimpin sejati yang siap menghadapi marabahaya kapan pun. Sarah yang berdiri tepat di sampingnya langsung merapatkan tubuh sintalnya, memperlihatkan gundukan buah dadanya yang kencang menempel di lengan suaminya. Blus putih ketat dan rok pensil hitam yang dikenakannya membingkai pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah lampu ruko yang temaram.​"Ada apa lagi, Mas? Jangan bilang kelompok preman kemarin balik lagi buat merusak gudang kita?" tanya Sarah cemas, jemari lentiknya memegang erat lengan kekar Madun.​Siska yang tadinya sibuk merapikan toples kue di rak depan langsung berlari kecil mendekat, daster ketat oranye yang dipakainya membuat belahan dadanya terlihat sangat jelas saat ia ikut mengintip dari b

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 272: Panen Raya di Ujung Senja

    ​"Mas Madun, gawat! Warung sebelah tiba-tiba banting harga beras setengah mati, pelanggan kita pada minggat ke sana!" teriak Siska histeris sambil menerobos masuk ruko dengan napas terengah-engah.​Siska siang itu tampil sangat memukau dalam balutan daster ketat warna merah muda yang menonjolkan lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun menahan emosi. Rok pendek ketatnya memperlihatkan paha mulus jenjang yang kontras dengan lantai keramik ruko, membuat beberapa pelanggan pria langsung salah fokus dan menjatuhkan belanjaannya.​Madun yang sedang mengangkat karung beras langsung menghentikan kegiatannya, menampilkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol di balik kaus oblong hitam ketatnya. Wajah tampannya dengan rahang tegas tampak sangat tenang, memancarkan wibawa dingin yang langsung meredakan kepanikan di dalam toko.​"Biarkan saja mereka banting harga sampai bangkrut, Siska. Kualitas beras lokal yang kita punya jauh lebih murni daripada beras

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 4 : Terapi Lanjutan di Rumah Bidan

    ​"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.​Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 3: Malam Terdahsyat

    ​"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 2: Lastri sang Penggoda

    ​"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. ​Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 1 : Pusaka di Balik Celana Kuli

    ​"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status