Madun menghela napas panjang, rahang tegasnya mengeras sejenak sebelum ia memaksakan senyum tipis di wajahnya. Ia tahu betul siapa yang sedang berdiri di depan pintu itu; namanya Aris, pria dari masa lalu Vina yang selalu membanggakan jabatan sebagai petugas inspeksi kesehatan kecamatan. Dengan langkah yang tenang dan berwibawa, Madun membuka pintu ruko, menyambut sang tamu tak diundang dengan tangan terbuka meski hatinya sedikit bergejolak. Vina yang baru saja terbangun ikut menyusul ke depan, wajahnya yang cantik dan segar meski tanpa riasan tampak terkejut melihat siapa yang datang pagi-pagi sekali."Selamat pagi, Pak Aris. Ada keperluan apa sampai Bapak datang sepagi ini ke ruko sederhana kami?" tanya Madun dengan suara berat yang sopan namun tegas. Aris berdiri tegak dengan seragam dinasnya, matanya menatap tajam ke arah ruko, lalu beralih menatap Vina yang berdiri di samping Madun. Vina tampak sangat menawan dalam balutan daster satin merahnya, dan meski ia sedang hamil, aura
Read more