MasukSuasana di meja sudut Kafe Senja & Rindu mendadak berubah drastis setelah aksi panggung konyol Madun menyanyikan dangdut koplo. Ketiga gadis remaja high class—Celine, Audrey, dan Vanesha—yang tadinya memandang Madun sebelah mata, kini menatap sang jagoan desa dengan binar kekaguman yang sulit disembunyikan.Celine meneguk es cokelatnya dengan salah tingkah, sementara Audrey tidak bisa berhenti senyum-senyum sendiri sambil memainkan sedotan. Bahkan Vanesha, si gadis paling angkuh dan sinis sedunia, kini melunak. Dinding pertahanannya runtuh total di hadapan pesona urakan namun penuh percaya diri milik Madun."Oke, Om Madun... Lu emang di luar nalar," aku Vanesha sambil menopang dagunya, menatap Madun lekat-lekat. "Biasanya cowok-cowok seumuran kita bakal malu setengah mati kalau disuruh joget begitu. Tapi lu... malah kayak jagoan panggung."Madun menyeringai maut, menyandarkan tubuhnya dengan santai. "Namanya juga pengalaman hidup, Neng. Hidup itu nggak usah kaku-kaku amat. Kalau d
Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, menyisakan bias jingga yang memantul di kaca-kaca gedung modern sebuah kota kecamatan yang mulai berkembang. Di sudut sebuah kafe kekinian bergaya minimalis industrial bernama Kafe Senja & Rindu, aroma biji kopi arabika panggang berpadu sempurna dengan wangi parfum mahal dari para pengunjung mudanya.Madun duduk sendiri di meja sudut luar ruangan (outdoor). Penampilannya malam itu sedikit dipaksa rapi—meski celana jeans belel dan jaket kulit usangnya masih melekat, rambutnya yang biasanya menyerupai sarang burung puyuh kini disisir ke belakang menggunakan pomade murah beraroma jeruk nipis pinjaman dari tukang pangkas rambut sebelah.Sudah tiga hari ia berpisah sementara dari Rara dan Nabila. Dan jujur saja, kejenuhan luar biasa mulai merayap di kepalanya. Bosan dengan urusan karung beras, durian curian, dan kejar-kejaran pakai panci soto, Madun memutuskan untuk "naik kelas". Ia ingin mencari suasana baru. Sasaran empuknya malam ini adalah
Setelah berminggu-minggu hidup di tengah hutan, dikejar-kejar sapu lidi Nabila, dipalak monyet liar, dan bersembunyi dari amukan Pak RT, Madun mulai merasakan kejenuhan yang luar biasa. Petualangan ekstrem bersama Rara yang hobi manggil "babi" itu memang sangat membakar adrenalin. Namun, sebagai seorang jagoan desa berdarah panas, jiwa petualangnya mulai merindukan suasana baru—suasana yang lebih kinclong, wangi, dan tentu saja, menguji daya pikat tingkat dewanya.Pagi itu, di sebuah kota kecamatan sebelah yang jauh lebih modern, Madun memutuskan untuk "pensiun" sejenak dari status buronan hutan. Ia meninggalkan Rara yang sedang tertidur pulas di hotel melati murahan, lalu melangkah mantap memasuki sebuah café bergaya aesthetic paling hits di pusat kota bernama Café Velvet Glow.Tempat itu jauh dari kesan kumuh. Lantainya mengkilap, lampunya temaram estetik, diiringi alunan musik Lo-Fi yang menenangkan. Yang paling penting: tempat itu dipenuhi oleh gerombolan gadis-gadis cantik, im
Suara derap kaki warga desa yang membawa pentungan dan arit terdengar sayup-sayup semakin menjauh. Di balik rimbunnya semak belukar di tepi sungai, Madun dan Rara masih bersembunyi sambil berusaha meredam napas yang memburu. Dua buah durian curian dari kebun Pak RT masih tergenggam erat di tangan Madun layaknya trofi kemenangan perang yang sangat berharga.Tiba-tiba, langit pagi yang tadinya benderang mendadak berubah gelap gulita. Awan hitam tebal menggulung di atas kepala mereka, disertai suara guntur menggelegar yang memecah kesunyian lembah.JEDER!"Wah, anjir, langit ikut-ikutan ngamuk kayak Pak RT!" seru Rara sambil merapatkan tubuhnya ke dada Madun demi menghindari hembusan angin kencang yang mulai bertiup.Belum sempat Madun menjawab, butiran air hujan yang besar-besar langsung tumpah dari langit, menghujani bumi dengan derasnya. Dalam hitungan detik, tubuh mereka berdua sudah basah kuyup. Pakaian yang melekat di badan membuat siluet tubuh mereka tercetak jelas di balik d
Mabuk Durian Jilid Dua: Amukan Rara di Pagi ButaSinar matahari pagi menembus celah-celah papan ruko yang compang-camping akibat didobrak Pak RT semalam. Sisa-sisa aroma tajam durian merah maut masih menguar pekat di setiap sudut ruangan, bercampur dengan bau keringat dan sisa-sisa kegilaan percumbuan brutal yang baru saja usai beberapa jam lalu.Madun terlelap pulas di atas kasur tipis dengan posisi telentang, dadanya naik turun pelan, kelelahan setelah menggempur habis-habisan sang gadis di bawah pengaruh zat panas durian pusaka.Di sampingnya, Rara sudah membuka mata lebih dulu. Gadis tomboi itu menatap wajah Madun lekat-lekat. Alih-alih merasa lemas, sisa-sisa getaran energi dari durian ajaib itu justru membuat matanya berbinar liar. Perutnya kembali bergemuruh, bukan karena lapar, melainkan karena hasrat usilnya mendadak kambuh."Babi... bangun lu, Bang!" bisik Rara tepat di telinga Madun, lalu meniup-niup daun telinga sang jagoan desa.Madun menggeliat malas, mengerjap-nger
Suasana ruko kecil tempat persembunyian Madun dan Rara kembali tenang menjelang dini hari. Setelah melepas rindu yang membara lewat pergulatan panjang di atas kasur, keduanya kini duduk bersila di lantai kayu sambil mengenakan celana longgar seadanya.Di tengah ruangan, tergeletak sebuah benda berduri tajam yang memenuhi seluruh penjuru ruangan dengan aroma menyengat yang khas.Rara menatap buah berukuran besar itu dengan mata berbinar-binar penuh antusiasme. Tangannya yang lentik menepuk-nepuk kulit berduri durian montong super besar hasil "paten" dari pohon belakang rumah Pak RT yang dicuri Madun subuh-subuh tadi."Babi! Sumpah, lu dapet dari mana durian segede gaban gini, Bang?!" seru Rara heboh, matanya berbinar menatap sang jagoan desa. "Gua dari dulu ngidam durian matang pohon, tapi nggak pernah kesampaian karena duit abis buat beli bensin motor sport!"Madun menyeringai bangku, mengelap pisaunya dengan ujung kaos. "Gue kan jagoan desa. Mau nyolong durian Pak RT tanpa ketah
Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita
"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru
"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep
"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj







