หน้าหลัก / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 270: Ketika Kebodohan Mencapai Level Galaksi

แชร์

Bab 270: Ketika Kebodohan Mencapai Level Galaksi

ผู้เขียน: Ibrahiman
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-24 12:58:53

​Kubangan lumpur rawa di dasar lembah itu mendadak tampak seperti markas besar pasukan khusus versi paling dungu di muka bumi. Di dalam kabin mobil SUV mewah seharga miliaran rupiah yang kini miring empat puluh lima derajat, Madun, Vanesha, Celine, dan Audrey masih terjebak basah kuyup dengan lumuran lumpur cokelat pekat menempel di sekujur tubuh mereka. Bau amis minyak jelantah sisa goreng lele bercampur aroma busuk lumpur rawa sukses menciptakan kombinasi gas beracun lokal yang membuat hidung
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 271: Gelap di Dalam Gua Salak: Sentuhan Maut di Tengah Keputusasaan

    ​Keheningan perlahan menyelimuti lembah rawa setelah jeritan Madun dan amukan kerbau jantan tadi mereda. Kerbau berukuran raksasa itu akhirnya melenggang pergi dengan santai, merasa telah menuntaskan tugasnya menghukum mahluk-mahluk aneh yang mengganggu tidur paginya.​Di tepi tebing, Vanesha, Celine, dan Audrey merayap pelan menembus rimbunnya semak-semak belukar, mendekati tumpukan pohon salak berduri tempat Madun terlempar. Tubuh mereka masih belepotan lumpur hitam, gosong oleh ledakan tabung gas mini, dan sepenuhnya kehilangan daya tarik sebagai anak-anak high class.​"Om Madun...? Masih hidup, kan?" panggil Audrey terbata-bata, menyeka noda hitam di dahinya yang gemetar.​Dari balik rimbunnya daun salak berduri tajam, terdengar rintihan berat yang disengaukan. Madun merangkak keluar dengan sangat mengenaskan. Celana jeans-nya robek di bagian belakang akibat diseruduk kerbau dan tertusuk duri salak, sementara wajahnya yang gosong dipenuhi daun-daun kering yang menempel di lumpur.

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 270: Ketika Kebodohan Mencapai Level Galaksi

    ​Kubangan lumpur rawa di dasar lembah itu mendadak tampak seperti markas besar pasukan khusus versi paling dungu di muka bumi. Di dalam kabin mobil SUV mewah seharga miliaran rupiah yang kini miring empat puluh lima derajat, Madun, Vanesha, Celine, dan Audrey masih terjebak basah kuyup dengan lumuran lumpur cokelat pekat menempel di sekujur tubuh mereka. Bau amis minyak jelantah sisa goreng lele bercampur aroma busuk lumpur rawa sukses menciptakan kombinasi gas beracun lokal yang membuat hidung siapa pun ingin copot.​"Gua udah gak sanggup..." rintih Audrey lemas, menyandarkan kepalanya ke kaca jendela mobil yang sudah retak sambil menatap seekor belut rawa yang berenang santai di luar kaca. "Kulit skincare mahal gua seharga sepuluh juta sekarang resmi bermutasi jadi masker lumpur organik gratisan."​Vanesha masih syok berat, menatap setir mobil kesayangannya yang kini dihuni oleh lumut hijau tipis. "Mobil papa... Gua bakal diusir dari rumah, disuruh jadi gembel terminal, dan dikuliti

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 269: Pesta Bensin dan Kejeniusan Tingkat Dungu: Saat Sang Jagoan Masuk Jurang

    ​Matahari baru saja sepenggalah naik di atas langit pinggiran kota. Di dalam mobil SUV mewah milik Vanesha, suasana pagi yang seharusnya diisi dengan obrolan romantis pasca-pertempuran brutal semalam justru berubah menjadi arena debat tingkat tinggi yang dipenuhi kebodohan hakiki.​Madun terbangun dengan kepala pusing tujuh keliling. Rokok kretek terakhirnya sudah habis, dan tenggorokannya kering kerontang. Ia menoleh ke kursi pengemudi. Vanesha, Celine, dan Audrey masih terlelap dalam posisi bergelimpangan yang sangat tidak elegan—Celine ngorok dengan mulut menganga lebar, Audrey memeluk dashboard mobil, sementara Vanesha tidur telungkup di atas setir.​"Woi, bangun! Mobil ini kehabisan bensin!" geram Madun menepuk-nepuk pipi Vanesha.​Vanesha mengerjap-ngerjapkan matanya, nyawa-nya belum terkumpul sepenuhnya. "Eugh... Jam berapa sih, Om? Kepala gua pusing banget, kayak habis digiling gilingan bakso."​"Mana gua tau jam berapa! Yang jelas indikator bensin mobil lu udah nunjuk di gari

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 268: Teror ‘Burung 40 Centimeter’: Saat Tiga Gadis High Class Takluk Seketika

    ​Suasana di meja sudut Kafe Senja & Rindu mendadak berubah drastis setelah aksi panggung konyol Madun menyanyikan dangdut koplo. Ketiga gadis remaja high class—Celine, Audrey, dan Vanesha—yang tadinya memandang Madun sebelah mata, kini menatap sang jagoan desa dengan binar kekaguman yang sulit disembunyikan.​Celine meneguk es cokelatnya dengan salah tingkah, sementara Audrey tidak bisa berhenti senyum-senyum sendiri sambil memainkan sedotan. Bahkan Vanesha, si gadis paling angkuh dan sinis sedunia, kini melunak. Dinding pertahanannya runtuh total di hadapan pesona urakan namun penuh percaya diri milik Madun.​"Oke, Om Madun... Lu emang di luar nalar," aku Vanesha sambil menopang dagunya, menatap Madun lekat-lekat. "Biasanya cowok-cowok seumuran kita bakal malu setengah mati kalau disuruh joget begitu. Tapi lu... malah kayak jagoan panggung."​Madun menyeringai maut, menyandarkan tubuhnya dengan santai. "Namanya juga pengalaman hidup, Neng. Hidup itu nggak usah kaku-kaku amat. Kalau d

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 267: Kencan Panas Dingin di Kafe Senja:

    ​Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, menyisakan bias jingga yang memantul di kaca-kaca gedung modern sebuah kota kecamatan yang mulai berkembang. Di sudut sebuah kafe kekinian bergaya minimalis industrial bernama Kafe Senja & Rindu, aroma biji kopi arabika panggang berpadu sempurna dengan wangi parfum mahal dari para pengunjung mudanya.​Madun duduk sendiri di meja sudut luar ruangan (outdoor). Penampilannya malam itu sedikit dipaksa rapi—meski celana jeans belel dan jaket kulit usangnya masih melekat, rambutnya yang biasanya menyerupai sarang burung puyuh kini disisir ke belakang menggunakan pomade murah beraroma jeruk nipis pinjaman dari tukang pangkas rambut sebelah.​Sudah tiga hari ia berpisah sementara dari Rara dan Nabila. Dan jujur saja, kejenuhan luar biasa mulai merayap di kepalanya. Bosan dengan urusan karung beras, durian curian, dan kejar-kejaran pakai panci soto, Madun memutuskan untuk "naik kelas". Ia ingin mencari suasana baru. Sasaran empuknya malam ini adalah

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 266: Pesona Gadis-gadis Kota

    ​Setelah berminggu-minggu hidup di tengah hutan, dikejar-kejar sapu lidi Nabila, dipalak monyet liar, dan bersembunyi dari amukan Pak RT, Madun mulai merasakan kejenuhan yang luar biasa. Petualangan ekstrem bersama Rara yang hobi manggil "babi" itu memang sangat membakar adrenalin. Namun, sebagai seorang jagoan desa berdarah panas, jiwa petualangnya mulai merindukan suasana baru—suasana yang lebih kinclong, wangi, dan tentu saja, menguji daya pikat tingkat dewanya.​Pagi itu, di sebuah kota kecamatan sebelah yang jauh lebih modern, Madun memutuskan untuk "pensiun" sejenak dari status buronan hutan. Ia meninggalkan Rara yang sedang tertidur pulas di hotel melati murahan, lalu melangkah mantap memasuki sebuah café bergaya aesthetic paling hits di pusat kota bernama Café Velvet Glow.​Tempat itu jauh dari kesan kumuh. Lantainya mengkilap, lampunya temaram estetik, diiringi alunan musik Lo-Fi yang menenangkan. Yang paling penting: tempat itu dipenuhi oleh gerombolan gadis-gadis cantik, im

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 5 : Rivalitas Dua Bidan Cantik

    Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 4 : Terapi Lanjutan di Rumah Bidan

    ​"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.​Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 3: Malam Terdahsyat

    ​"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 2: Lastri sang Penggoda

    ​"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. ​Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status