Udara di lobi hotel bintang lima itu terasa dingin, namun keringat dingin yang mengucur di pelipis Ucup jauh lebih dingin dari embusan AC central. Di hadapannya, Arif, sahabat karibnya sejak zaman bermain kelereng, menyodorkan sebuah benda kecil pipih yang diletakkan di telapak tangan. "Arif, apa itu?" tanya Ucup, suaranya sedikit bergetar. Matanya terpaku pada tablet kecil berwarna biru yang tampak mencolok di bawah lampu kristal lobi. Arif mendekat, membisikkan kata-kata yang membuat telinga Ucup panas. "Ini obat kuat, Cup... Pakai ini, biar kamu tahan lama sama tante-tante itu. Kamu tahu kan, perempuan di usia matang terkadang punya tuntutan yang... ya, lebih." Ucup terdiam. Ia menatap tablet itu cukup lama, seolah sedang menimbang harga dirinya di atas sebutir obat. Perlahan, ia mendorong tangan Arif menjauh, menolak benda itu dengan halus namun tegas. "Tidak usah, Rif," gumam Ucup. Ia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. "Tanpa obat ku
Last Updated : 2026-03-21 Read more