Share

Ah! Mau Lagi Dong, Bang Ucup
Ah! Mau Lagi Dong, Bang Ucup
Author: J Shara

Bab 1 Permintaan

Author: J Shara
last update publish date: 2026-03-21 20:16:43

"Kau gila, Rif. Benar-benar gila," desis Ucup setelah nafasnya kembali teratur. "Malam pertama itu sakral. Dan kau memintaku... menggantikanmu? Meniduri istrimu?"

Arif menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, matanya menatap tajam ke arah Ucup. "Sakral kalau dasarnya cinta, Cup. Tapi ini? Ini jebakan. Orang tuaku bilang dia cantik, wanita karier yang sukses di luar negeri. Nyatanya? Dia hanya perawan tua yang kesepian karena tidak laku-laku. Adik teman ayahku yang ternyata sudah keriput. Aku tidak sudi menyentuhnya, apalagi berbagi ranjang."

"Lalu kenapa kau mau menikahinya, bodoh?" Ucup menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan jalan pikiran sahabat masa kecilnya itu.

"Tekanan bisnis, Cup. Kau tahu posisiku sebagai CEO tidak semulus kelihatannya di koran. Ada saham keluarga yang dipertaruhkan," jawab Arif dengan nada getir. Ia kemudian memajukan tubuhnya, menatap Ucup dengan tatapan yang sangat intens. "Ucup, dengar. Aku tahu hidupmu sedang sulit. Proyek bangunan di pinggiran kota itu tidak akan memberimu masa depan. Belum lagi biaya sekolah anak-anakmu... bukankah si sulung mau masuk SMP? Dan si bungsu butuh biaya pengobatan?"

Ucup terdiam. Kalimat Arif menghantam tepat di ulu hatinya. Bayangan wajah anak-anaknya yang tertidur di kamar sempit yang bocor setiap kali hujan turun mendadak melintas.

"50 juta, Cup," bisik Arif. "Tunai. Ditambah jaminan pendidikan anak-anakmu sampai sarjana. Kau hanya perlu menjadi 'Arif' untuk satu malam—mungkin selama sebulan sampai aku menemukan cara untuk menceraikannya tanpa kehilangan aset perusahaan."

"Tapi Rif... ini penipuan. Bagaimana kalau dia tahu? Dia wanita berpendidikan, pasti dia tidak bodoh," sanggah Ucup retoris, meski hatinya mulai goyah. "Dan lagipula, lihat aku. Kulitku hitam legam karena matahari, tanganku kasar penuh kapalan karena mengaduk semen. Aku bau keringat, Rif! Bagaimana mungkin kuli bangunan sepertiku bisa memerankan seorang CEO?"

Arif tersenyum tipis, seolah sudah memprediksi argumen itu. "Itu masalah teknis. Aku punya waktu besok sebelum dia mendarat di sini. Kau akan cuti dari proyek itu. Aku akan membawamu ke salon pria terbaik, memberimu perawatan kulit, membelikanmu parfum yang harganya lebih mahal dari upahmu sebulan, dan membelikan jas khusus untukmu. Besok tidak akan ada yang percaya kalau kau pernah memegang cangkul."

"Tapi dia belum pernah melihatmu sama sekali?" tanya Ucup memastikan.

"Sama sekali tidak. Kami hanya dijodohkan lewat telepon dan dokumen. Ijab kabul dilakukan tanpa mempelai wanita karena dia masih terikat kontrak kerja di luar negeri. Besok adalah kali pertama dia menginjakkan kaki di rumah mewah yang sudah kupersiapkan. Baginya, kau adalah Arif. CEO sukses yang dingin dan misterius."

Ucup menatap tangannya yang kasar, lalu beralih menatap cek kosong yang diletakkan Arif di atas meja. Jemarinya gemetar. Di satu sisi, nuraninya menjerit bahwa ini adalah kesalahan besar. Namun di sisi lain, tumpukan tagihan dan masa depan anak-anaknya seolah melambai di depan mata.

"Kenapa harus aku, Rif?"

"Karena aku percaya padamu. Kita besar di kampung yang sama. Kau jujur, dan kau butuh uang ini. Lebih baik aku memberikan uang ini padamu daripada menyewa aktor yang bisa saja memeras aku di kemudian hari," Arif mengulurkan tangannya. "Jadi, bagaimana? Apakah kau mau menyelamatkan masa depan anak-anakmu, atau tetap membiarkan mereka hidup susah demi sebuah harga diri yang tidak bisa memberi mereka makan?"

Ruangan itu mendadak sunyi. Hanya terdengar denting sendok dari meja seberang. Ucup menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang terasa sangat berat, seolah ia sedang mengangkat beban semen terakhir di penghujung hari yang melelahkan.

"Jadi... satu bulan," gumam Ucup lirih. "Aku punya satu bulan untuk berperan menjadi seorang raja."

Arif menyeringai puas. Ia tahu, kemiskinan seringkali menjadi alasan paling logis untuk mengubur moralitas. "Sepakat. Besok pagi, sopirku akan menjemputmu. Persiapkan dirimu, Ucup."

---

Keesokan harinya, sebuah mobil mewah berwarna hitam legam berhenti di depan rumah kontrakan Ucup yang terbuat dari triplek dan sempit. Sang sopir, yang mengenakan seragam rapi, membukakan pintu untuk Ucup dengan hormat. Ucup, yang masih mengenakan mekeja cream yang lucuh dan celana jins belel, merasa canggung. Ia melangkah masuk ke dalam mobil, menghirup aroma kulit yang mahal dan wangi parfum mobil yang menyegarkan.

Perjalanan terasa singkat. Mobil itu berhenti di depan sebuah salon pria yang terlihat sangat eksklusif. Papan namanya bertuliskan "The Gent's Grooming Lounge" dengan huruf-huruf emas yang elegan. Ucup merasa seperti masuk ke dunia yang berbeda.

Di dalam salon, interiornya sangat maskulin dengan dominasi warna cokelat tua dan hitam. Cermin-cermin besar berbingkai kayu memenuhi dinding, dan kursi-kursi barber berlapis kulit yang nyaman tertata rapi. Arif sudah menunggu di sana, duduk di salah satu kursi sambil menyesap kopi.

"Ah, kau datang juga, Cup," sapa Arif sambil tersenyum tipis. "Mari kita mulai transformasinya."

Seorang barber pria yang tampan dengan potongan rambut yang rapi dan janggut yang terawat mendekati Ucup. "Halo, Tuan. Saya Leo, barber Anda hari ini," katanya dengan ramah. "Silakan duduk."

Ucup duduk di kursi barber dengan ragu-ragu. Leo mulai mengerjakannya. Pertama, ia mencuci rambut Ucup dengan sampo yang harum. Kemudian, ia mulai memotong rambut Ucup. Guntingnya bergerak dengan lincah, memotong helai demi helai rambut Ucup yang agak panjang.

Setelah selesai memotong rambut, Leo beralih ke janggut Ucup. Ia menggunakan pisau cukur yang tajam untuk menipiskan janggut Ucup yang sangat brewok. Ucup merasa ngeri melihat pisau itu mendekati wajahnya, tapi Leo melakukannya dengan sangat hati-hati.

Setelah beberapa saat, Leo selesai. Ia membersihkan sisa-sisa rambut di wajah Ucup dengan handuk hangat yang wangi. "Silakan lihat ke cermin, Tuan," katanya.

Ucup menatap cermin di depannya. Ia benar-benar pangling. Rambutnya yang tadinya agak panjang sekarang dipotong rapi dengan model regulation cut, menunjukkan garis rahangnya yang tegas. Janggutnya yang tadinya sangat brewok sekarang ditipiskan, memberikan kesan maskulin dan dewasa. Kulit wajahnya yang tadinya kusam sekarang terlihat lebih cerah dan bersih.

Arif yang duduk di belakang Ucup ikut terkejut. "Luar biasa, Cup!" serunya. "Kau benar-benar terlihat berbeda. Kalau kau kayak begini, tante-tante perawan tua itu pasti tidak akan sadar kalau kamu seorang kuli bangunan." Arif lalu terkekeh.

Ucup menatap pantulan dirinya di cermin dengan perasaan yang campur aduk. Ia merasa senang melihat perubahan dirinya, tapi di sisi lain, ia juga merasa tidak percaya diri. Apakah ia bisa memerankan seorang CEO dengan penampilannya yang baru ini?

"Ayo, Cup. Kita masih punya banyak hal yang harus dilakukan," kata Arif sambil bangkit dari kursinya. "Kita akan ke butik untuk membeli setelan jas mahal."

Mereka meninggalkan salon dan menuju ke sebuah butik jas mewah di pusat kota. Di dalam butik, barisan jas dengan berbagai warna dan model tertata rapi di gantungan. Seorang pelayan pria yang mengenakan setelan jas hitam mendekati mereka.

"Selamat datang, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan ramah.

"Kami mencari setelan jas untuk teman saya ini," kata Arif sambil menunjuk ke arah Ucup. "Kami ingin jas yang terlihat elegan dan profesional."

Pelayan itu mengangguk. Ia mulai mengukur tubuh Ucup dengan pita ukur. Setelah selesai, ia mengambil beberapa setelan jas dari gantungan dan membawanya ke ruang ganti.

Ucup mencoba satu per satu jas itu. Ia merasa sangat tidak nyaman mengenakan jas yang ketat dan kaku. Tapi Arif bersikap sangat perfeksionis. Ia memeriksa setiap detail jas, mulai dari potongan bahu hingga panjang lengan.

Akhirnya, mereka menemukan setelan jas yang sempurna untuk Ucup. Jas itu berwarna biru tua dengan potongan yang pas di tubuh Ucup. Ucup menatap pantulan dirinya di cermin besar di butik. Ia terlihat sangat berbeda, seperti seorang pria yang sukses dan berwibawa.

"Bagus sekali, Cup," puji Arif. "Kau terlihat sangat tampan dengan jas ini."

Meskipun penampilannya sudah berubah, Ucup tetap merasa tidak percaya diri. Pikirannya dipenuhi dengan berbagai keraguan dan ketakutan. Bagaimana kalau istrinya Arif mengetahui yang sebenarnya? Bagaimana kalau ia tidak bisa memerankan seorang CEO dengan baik?

"Ucup... malam ini kita harus ke hotel. Si tante-tante galau itu sudah ada di hotel untuk malam pertama kalian."

"Apa?" Seru Ucup kaget tak menyangka, "malam ini juga?"

"Ya... keluargaku sudah menyiapkannya untuk malam ini. Ayo, kita harus segera ke hotel."

Arif tidak memberinya waktu untuk berpikir panjang. Malam itu, ia membawa Ucup ke sebuah hotel mewah untuk bertemu dengan istrinya. Ucup merasa jantungnya berdegup kencang. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ah! Mau Lagi Dong, Bang Ucup   Bab 42 Telepon dari Sahabat

    Tanpa menunggu komentar Andien lebih jauh, Ucup bergegas berjalan melintasi ruang tamu menuju kamar mandi. Di bawah kucuran air dingin shower, Ucup memejamkan mata erat-erat. Ia membasuh tubuhnya berkali-kali, menggosok dadanya dengan sabun hingga memerah, seolah ingin menghapus setiap jejak sentuhan Hana dari kulitnya. Rasa bersalah terus menghantuinya, namun bayangan masa depan dan impian untuk menikahi Andien menjadi satu-satunya alasan yang membentengi hatinya dari rasa hancur. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian tidur sederhana, rasa lelah fisik yang luar biasa mendadak menyerang Ucup. Kurasan energi dari pertemuan rahasianya bersama Hana membuat tubuhnya serasa tanpa tulang. Ia melangkah lunglai menuju kamar tidur, langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur busa, dan memejamkan mata. Dalam hitungan detik, kesadarannya mulai tenggelam. Pintu kamar terbuka perlahan. Andien masuk dengan langkah pelan. Ia berharap bisa mengobrol sebentar atau sekadar bersandar di dada pria

  • Ah! Mau Lagi Dong, Bang Ucup   Bab 41 Pulang untuk Seseorang

    Lampu gantung di sudut ruangan memancarkan cahaya temaram, membiaskan bayangan halus di antara dua sosok yang berdiri saling berhadapan. Suasana sunyi, hanya diisi oleh detak jarum jam dinding yang ritmis. "Aku akan menyetujui menjadi pria peliharaanmu, Hana," ucap Ucup dengan suara berat dan dalam, menatap lurus ke dalam manik mata wanita di depannya. Hana tersenyum senang, sebuah garis tipis kepuasan mengukir bibirnya. "Tapi... seperti permintaanku dari awal," lanjut Ucup, menyela sebelum Hana sempat bersuara. "Tidak boleh ada perasaan istimewa di antara kita." Senyum Hana semakin mekar, seolah syarat itu justru menjadi hal yang paling ia harapkan. Wanita itu melangkah pelan, mendekatkan tubuhnya hingga aroma parfum mawarnya menyeruak lembut. Ia berjinjit sedikit, lalu berbisik tepat di telinga Ucup. "Aku tidak butuh cintamu, Ucup," bisiknya halus, diiringi hembusan napas hangat. "Aku hanya butuh kepuasan darimu." Jemari lentik Hana bergerak perlahan, menyentuh dada bida

  • Ah! Mau Lagi Dong, Bang Ucup   Bab 40 Keputusan

    Cahaya lampu meja rias memantul lembut di cermin besar. Andien sedang sibuk merapikan gaun tipis dan memoleskan sedikit kuas pada wajahnya untuk persiapan syuting nanti malam. Jemarinya yang lentik bergerak cekatan, memoleskan lipstik di bibir bahagianya. Namun, sudut matanya menangkap sesuatu dari pantulan kaca. Sebuah bayangan tinggi berdiri membatu di ambang pintu.Andien menghentikan gerakan kuasnya. Ia menoleh perlahan, mendapati Ucup berdiri di sana dengan tatapan yang sulit diartikan. Matanya yang tajam menatap Andien tanpa berkedip sedikit pun."Ucup? Kau dari tadi di situ?" tanya Andien lembut, mengernyitkan dahi karena keheningan cowok itu.Ucup tak menjawab. Keheningan menggantung di antara mereka selama beberapa detik, penuh dengan riak emosi yang tertahan. Dengan langkah perlahan namun pasti, Ucup berjalan mendekat. Ia tidak mengucapkan satu patah kata pun sampai berdiri tepat di depan Andien. Ditatapnya wajah wanita itu dalam-dalam, sebelum akhirnya ia meraih kedua tanga

  • Ah! Mau Lagi Dong, Bang Ucup   Bab 39 Antara Cinta dan Tawaran

    Ucup membeku.Hana melanjutkan dengan nada yang sama tenangnya."Bahkan, kau akan mendapatkan jauh lebih banyak dari yang bisa kau bayangkan."Kata-kata itu terlontar begitu saja—dingin, lugas, dan tanpa basa-basi.Ucup terhenyak.Tubuhnya seketika kaku ketika otaknya berusaha mencerna setiap kata yang baru saja keluar dari mulut wanita di hadapannya.Ada gejolak asing yang tiba-tiba muncul di dalam dadanya.Sebuah benturan antara prinsip yang selama ini ia pegang dan godaan yang diam-diam muncul ketika pikirannya membayangkan sejumlah uang yang mungkin akan ia dapatkan.Ucup menelan ludah.Ia berusaha mempertahankan ekspresi tenang."Maaf..." katanya akhirnya dengan suara sedikit tertahan. "Aku menyukai wanita lain."Ia sengaja mengatakannya dengan tegas, seolah ingin memasang batas di antara mereka.Namun, Hana justru terkekeh pelan.Ia melangkah sedikit mendekat, mengikis jarak yang tersisa."Ucup..." katanya santai. "Hubungan kita ini tidak membutuhkan cinta."Ucup menatapnya tanp

  • Ah! Mau Lagi Dong, Bang Ucup   Bab 38 Tawaran Menggiurkan

    Ucup hanya terdiam sesaat, matanya menatap lantai dengan pandangan kosong. Senyum di bibir Andien perlahan memudar melihat reaksi pria di depannya. Ia mematikan kompor, meletakkan spatulanya, lalu menatap Ucup dengan penuh rasa khawatir. "Ada apa, Ucup?" tanya Andien pelan, melangkah mendekat. "Kau... tidak suka ya aku masak nasi goreng?" "Hana..." cetus Ucup tanpa sadar, sebelum cepat-cepat mengoreksi ucapannya yang terbata-bata. "Maksudku... Andien. Aku... aku merasa bersalah padamu..." Andien menghentikan langkahnya sejenak, sedikit terkejut mendengar penuturan pria itu. Namun bukannya curiga, raut wajahnya justru berubah menjadi lembut dan penuh penyesalan. "Merasa bersalah? Justru akulah yang merasa bersalah..." kata Andien halus. Andien maju satu langkah lagi, lalu dengan perlahan mengulurkan kedua tangannya. Ia meraih dan memegang erat tangan kasar Ucup yang mengeras karena kerja keras. Kehangatan kulit Andien terasa begitu membakar bagi Ucup yang sedang diselimuti rasa b

  • Ah! Mau Lagi Dong, Bang Ucup   Bab 37 Perasaan Bersalah

    Aroma wewangian lavender dan kayu cendana yang mahal merayap lembut ke dalam indra penciumannya sebelum kelopak matanya benar-benar terbuka. Ucup mengerjap beberapa kali, menyesuaikan penglihatannya dengan pendar cahaya matahari pagi yang menerobos dari balik tirai sutra yang megah. Ukiran langit-langit berhias lampu kristal megah menyambut pandangannya.Ini bukan kamar sempit bernoda kelembapan tempat ia biasa terbangun setiap pagi. Ini adalah sebuah kamar mewah yang tampak seperti suite hotel bintang lima."Di... di mana ini?" gumam Ucup serak, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang masih samar.Ia memegangi kepalanya yang terasa sedikit berat, lalu berniat memutar tubuhnya untuk turun dari ranjang busa yang amat empuk itu. Namun, saat kakinya hendak bergeser dan ia menyibak sebagian selimut bulu yang menutupi tubuhnya, sensasi dingin langsung menerpa kulitnya.Ucup membeku. Pandangannya perlahan turun ke bawah selimut.Tidak ada sehelai benang pun yang melekat di tubuhnya.Jantung

  • Ah! Mau Lagi Dong, Bang Ucup   Bab 6 Kebenaran di Balik Kelambu Sutra

    ​Hening menyergap kamar 918 setelah pengakuan jujur Ucup meluncur deras. Ketegangan yang tadinya dipicu oleh gairah, kini berganti menjadi ketegangan kalkulatif. Hana duduk di tepi ranjang, menyilangkan kakinya yang jenjang, sementara Ucup berdiri mematung di ujung tempat tidur, merasa seperti ter

  • Ah! Mau Lagi Dong, Bang Ucup   Bab 5 Topeng yang Terkelupas

    ​Di bawah remang lampu kamar 918, napas keduanya memburu dalam irama yang tidak beraturan. Jarak di antara mereka telah terkikis habis, menyisakan ketegangan yang lebih panas daripada suhu pendingin ruangan yang dipasang di angka terendah. ​"Bagaimana? Mau mulai...?" bisik Hana. ​Suara itu begitu

  • Ah! Mau Lagi Dong, Bang Ucup   Bab 4 Siasat di Balik Kelambu

    ​Cahaya matahari pagi menyusup lancang melalui celah gorden blackout yang tidak tertutup sempurna, menghujam tepat ke kelopak mata Ucup. Rasa pening yang luar biasa menghantam tempurungnya, seolah ada ribuan jarum yang menusuk dari dalam. Ia mengerang, mencoba menggerakkan lengannya yang terasa kak

  • Ah! Mau Lagi Dong, Bang Ucup   Bab 3 Antara Gairah dan Kegelapan

    ​Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, suasana mendadak berubah menjadi sangat intim. Ucup bisa merasakan panas tubuh Hana merambat melalui telapak tangannya. Wanita di hadapannya ini bukan lagi sosok asing yang ia takuti, melainkan sebuah teka-teki indah yang ingin ia pecahkan malam ini. ​Han

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status