Share

Bab 4 Siasat di Balik Kelambu

Penulis: J Shara
last update Tanggal publikasi: 2026-03-21 22:27:49

​Cahaya matahari pagi menyusup lancang melalui celah gorden blackout yang tidak tertutup sempurna, menghujam tepat ke kelopak mata Ucup. Rasa pening yang luar biasa menghantam tempurungnya, seolah ada ribuan jarum yang menusuk dari dalam. Ia mengerang, mencoba menggerakkan lengannya yang terasa kaku seperti kayu.

​Hal pertama yang tertangkap oleh indra penglihatannya saat ia berhasil memaksa matanya terbuka adalah sesosok wanita yang duduk tenang di sisi ranjang. Hana. Ia mengenakan dress pendek tanpa lengan, rambutnya masih agak basah, dan ia sedang menatap Ucup dengan senyuman yang begitu hangat, begitu manis, seolah-olah semalam adalah malam terindah dalam hidup mereka.

​"Hai..." sapa Hana lembut, suaranya semerdu kicauan burung di luar sana.

​Ucup tersentak, berusaha langsung duduk tegak namun kepalanya berdenyut hebat. Ia memegangi keningnya, memejamkan mata rapat-rapat untuk meredam rasa mual yang tiba-tiba naik ke tenggorokan.

​"Aduh... kepalaku," rintih Ucup. Ia mencoba menggali ingatan semalam. Ciuman itu... aroma mawar... lalu gelas berisi cairan merah pekat. Setelah itu, semuanya kosong. Gelap.

​Hana terkekeh kecil, tangannya mengelus bahu Ucup dengan gerakan menenangkan. "Kau tertidur karena mabuk, Sayang. Kau belum pernah minum wine sebelumnya, ya?" tanya Hana dengan nada menggoda namun terselip rasa ingin tahu.

​Ucup menggeleng lemah. "Jangankan wine, bir saja aku tidak pernah sentuh. Aku cuma minum kopi tubruk dan teh manis."

​"Pantas saja," Hana bangkit berdiri. "Baiklah... sekarang kamu mandi ya, biar segar. Aku sudah siapkan handuk bersih di dalam."

​Namun, sebelum Hana sempat melangkah menjauh, Ucup bergerak cepat. Ia menarik lengan Hana dengan sisa tenaganya hingga wanita itu terduduk kembali di atas kasur yang empuk. Hana tampak terkejut, napasnya tertahan sejenak saat matanya bertemu dengan tatapan Ucup yang menuntut penjelasan.

​"Jadi... semalam kita tidak melakukannya?" tanya Ucup langsung ke inti. Ada nada kecewa yang tak bisa ia sembunyikan dalam suaranya.

​Hana terdiam sebentar. Ia menunduk, memainkan jemarinya di atas sprei, lalu kembali menatap Ucup dengan senyum misterius yang sulit diartikan. "Jangan terburu-buru, Sayang... Nanti malam kan masih bisa kita lanjutkan. Kondisimu semalam benar-benar tidak memungkinkan."

​Tepat saat Ucup ingin memprotes, ponselnya yang tergeletak di nakas berteriak nyaring. Nama Arif berkedip-kedip di layar. Ucup mendesah, meraih benda itu, dan menempelkannya ke telinga.

​"Halo?"

​"Ucup! Bagaimana? Sukses?!" Suara Arif di seberang sana terdengar sangat bersemangat, bahkan cenderung tidak sabaran. "Kau sudah menjadi pria sejati sekarang, kan?"

​Ucup melirik sejenak ke arah Hana yang kini sedang asyik merapikan riasan tipis di wajahnya melalui cermin kecil. "Um... kayaknya kita ketemu saja dulu. Aku jelaskan nanti."

​"Hah? Kenapa harus ketemu? Tinggal jawab 'iya' saja susah sekali!" protes Arif. "Oh... baiklah, aku tunggu di restoran hotel lantai dua sekarang juga. Jangan telat!"

​

---

​"Apa?! Kau tertidur setelah minum satu gelas saja?!"

​Suara Arif menggelegar di pojok restoran hotel, membuat beberapa tamu lain menoleh dengan tatapan terganggu. Ia meletakkan cangkir kopinya dengan kasar hingga isinya sedikit tumpah ke meja marmer.

​"Iya... padahal aku hanya meneguk segelas kecil. Tapi rasanya langsung membuat duniaku berputar," kata Ucup sambil mengaduk telur setengah matangnya tanpa selera.

​Arif tampak gelisah. Ia menyugar rambutnya dengan kasar, matanya bergerak ke sana kemari seolah sedang memikirkan skenario terburuk. "Berarti kalian belum melakukannya ya... Sial, waktuku tidak banyak, Cup."

​Ucup merasa tidak enak hati melihat sahabatnya begitu frustrasi. "Jangan khawatir, Rif. Malam ini aku pasti usahakan. Aku akan menebus kesalahanku yang semalam. Maaf ya, aku tidak menyangka daya tahan tubuhku selemah itu terhadap alkohol."

​Arif terdiam sejenak, lalu ia merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah bungkusan kertas kecil berisi serbuk putih. Ia menggeser benda itu ke arah Ucup dengan gerakan sembunyi-sembunyi.

​"Ini, Cup... tuangkan ke minuman si tante-tante perawan tua itu. Ini obat perangsang dosis ringan, biar dia yang bergerak duluan dan tidak banyak alasan lagi," bisik Arif dengan nada mendesak.

​Ucup menatap bungkusan itu dengan dahi berkerut, lalu ia mendorongnya kembali ke arah Arif. "Tidak usah, Rif. Simpan saja itu. Aku mampu kok membuatnya terangsang secara alami. Aku tidak mau memulai hubungan ini dengan cara curang."

​"Tapi Ucup... wanita itu sepertinya menolak perjodohan ini. Aku punya firasat dia sengaja menghindar atau mencari alasan," kata Arif dengan nada curiga yang kental.

​Ucup tersenyum tipis, membayangkan wajah lembut Hana tadi pagi. "Tenang, Rif. Hana kelihatannya ramah dan patuh. Dia tidak seburuk yang kau ceritakan. Malam ini aku janji tidak akan makan atau minum yang macam-macam lagi agar tetap terjaga."

​Arif menghela napas panjang, tampak sedikit lebih tenang meskipun matanya tetap memancarkan kecemasan. "Baiklah, Ucup. Malam ini usahakan kalian melakukannya sampai tuntas. Ingat, masa depanku ada di tanganmu. Oke?"

​"Oke, Rif. Pegang kata-kataku."

​

---

​Malam kembali menyelimuti kota. Ucup kembali ke kamar 918 dengan tekad bulat. Namun, saat ia membuka pintu, keadaan kamar sunyi senyap. Lampu utama mati, hanya menyisakan lampu lorong yang redup.

​"Hana?" panggil Ucup pelan. Tidak ada jawaban.

​Ia memeriksa kamar mandi, kosong. Ia mulai merasa curiga bahwa Hana telah pergi meninggalkan hotel ini secara diam-diam. Namun, saat ia membuka lemari, koper besar milik Hana masih ada di sana. Pakaian-pakaiannya pun masih tergantung rapi.

​Ucup memutuskan untuk menunggu. Ia duduk di kursi sofa, menatap kegelapan di luar jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu kota. Menit berganti jam, dan rasa kantuk mulai menyerang. Namun, ia memaksakan diri untuk tetap terjaga.

​Tepat jam sepuluh malam, terdengar suara kartu kunci yang digesek. Klik.

​Pintu terbuka perlahan. Seseorang masuk dengan langkah yang sangat berhati-hati, hampir menyerupai gerakan pencuri yang mengendap-ngendap dalam kegelapan. Bayangan itu bergerak menuju ranjang.

​"Dari mana saja kamu?" tanya Ucup tiba-tiba sambil menyalakan lampu standing lamp di samping sofa.

​Cahaya kuning redup langsung menerangi ruangan. Hana tersentak hebat, tubuhnya menegang dan ia nyaris menjatuhkan tas kecil yang ia bawa. Ia menoleh perlahan ke arah Ucup yang sedang duduk dengan tangan bersedekap di dada.

​Sesaat, ekspresi Hana tampak panik, namun dalam sekejap mata, ia berhasil mengendalikan dirinya. Ia mengulas senyuman manis yang sama seperti pagi tadi—senyuman yang entah mengapa kini terasa seperti topeng di mata Ucup.

​"Oh, kamu belum tidur, Sayang?" tanya Hana dengan suara manja, mencoba mencairkan suasana. "Aku tadi... cuma keluar sebentar mencari angin segar. Kamar ini terasa agak pengap."

​Ucup memperhatikan napas Hana yang sedikit memburu dan sisa keringat di pelipisnya. Ia merasa ada yang tidak beres. "Mencari angin sampai jam sepuluh malam? Dan kenapa kamu harus mengendap-ngendap?"

​Hana berjalan mendekat, aroma parfumnya yang kuat—berbeda dengan aroma mawar semalam—kini memenuhi indra penciuman Ucup. Ia duduk di pangkuan Ucup, melingkarkan lengannya di leher pria itu.

​"Jangan galak-galak begitu... aku kan sudah pulang," bisik Hana tepat di depan bibir Ucup. "Bukankah kita punya janji yang harus diselesaikan malam ini?"

​Ucup terdiam. Hasratnya kembali bangkit, namun ada secuil keraguan yang mulai tumbuh di sudut hatinya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kuli Bangunan, Jangan Ganggu Istriku!   Bab 83 Kejutan Kandungan Hana

    Hari sudah beranjak sore ketika Hana dan Andien tiba kembali di rumah. Suasana terasa lengang, namun percakapan di dalam mobil tadi masih melekat di kepala Hana.Sebelum pulang, Andien sempat menyampaikan sebuah usul yang cukup membuat Hana berpikir keras. Mengingat kondisi kehamilan Hana yang semakin memasuki trimester kedua dan rentan kelelahan jika tinggal sendirian di rumahnya yang besar, Andien mengajak sahabatnya itu untuk tinggal bersama sementara waktu. Menariknya, tempat yang ditawarkan Andien bukanlah rumah biasa, melainkan rumah pemberian Arief yang selama ini dipinjamkan secara cuma-cuma kepada Ucup.Awalnya Hana sempat ragu dan menolak mentah-mentah. Tinggal di rumah yang notabene memiliki kaitan langsung dengan Arief terasa seperti melanggar batasan yang ia buat sendiri. Namun, Andien dengan sabar meyakinkan bahwa rumah itu kini menjadi tempat tinggal Ucup, dan Arief tidak akan pernah datang ke sana tanpa izin atau urusan mendesak."Lagian, Na, biar aku bisa lebih gampan

  • Kuli Bangunan, Jangan Ganggu Istriku!   Bab 82 Kontrol Kedua

    Hari pemeriksaan kandungan kedua pun tiba. Klinik Dr. Nadia tampak sama seperti beberapa minggu lalu. Hana datang diantar oleh Andien, berjalan berdampingan menuju ruang tunggu dengan balutan gamis sederhana berwarna pastel yang membuat penampilannya terlihat semakin anggun dan tenang.Beberapa langkah di belakang mereka, Arief sudah lebih dulu berada di area klinik. Pria itu tidak langsung mendekat. Ia mengambil posisi berdiri di dekat pilar sudut ruang tunggu, menjaga jarak aman agar Hana tidak merasa risih atau tertekan oleh kehadirannya. Meskipun begitu, tatapan mata Arief tidak pernah lepas dari sosok Hana sejak wanita itu melangkah masuk.Hana menyadari kehadiran Arief dari sudut matanya. Ia melirik sekilas ke arah pria tersebut. Tidak ada senyuman, namun tidak ada pula kilat kemarahan seperti dulu. Hana hanya mengalihkan pandangannya kembali ke depan, duduk dengan tenang di sebelah Andien."Dia konsisten juga ya, Na," bisik Andien pelan, ikut melirik Arief yang berdiri sabar da

  • Kuli Bangunan, Jangan Ganggu Istriku!   Bab 81 Makin Malam

    Pintu kamar tertutup rapat, mengunci segala lelah, kerisauan tentang Hana, dan dunia luar yang bising. Di atas ranjang yang empuk, di bawah temaram cahaya lampu tidur berona kuning keemasan, kamar itu berubah menjadi dunia kecil milik mereka berdua.Ucup menatap wajah Andien yang berada tepat di bawah kurungan tubuhnya. Napas perempuan itu memburu, naik turun tidak beraturan, sementara pipinya merona merah alami akibat debaran jantung yang berlomba. Tatapan mata Andien begitu basah dan penuh penyerahan, menatap balik Ucup dengan binar kerinduan yang sudah berminggu-minggu tertahan."Abang..." panggil Andien pelan, jemarinya yang lentik merayap naik, menyentuh rahang Ucup yang ditumbuhi bulu-bulu halus. "Jangan ragu-ragu lagi..."Mendengar bisikan itu, pertahanan terakhir Ucup sepenuhnya runtuh. Ia menunduk, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang semakin dalam, menuntut, dan sarat akan keputusasaan rindu. Ciuman itu tidak lagi lembut; ia berubah menjadi panas dan penuh gelora. Lidah

  • Kuli Bangunan, Jangan Ganggu Istriku!   Bab 80 Rindu yang Tertunda

    Langit malam di luar kaca jendela menggantung kelam, menyisakan bias lampu jalanan kota yang temaram dan memantulkan dinginnya udara selepas hujan. Ucup melangkah pelan, memegang kemudi mobil dengan satu tangan sementara tangannya yang lain sesekali mengetuk-ngetuk setir mengikuti alunan radio yang berdengung lirih. Di sampingnya, Andien duduk bersandar dengan pandangan menerawang keluar jendela, memperhatikan bayangan lampu-lampu yang berlarian cepat.Hari baru saja usai setelah mereka berdua menghabiskan waktu berjam-jam menemani Hana di rumah sakit. Kelelahan fisik bercampur dengan keheningan emosional masih melekat di udara kabin mobil, membuat perjalanan pulang terasa jauh lebih panjang dari biasanya."Hana kelihatannya sudah lebih tenang ya, Cup," suara Andien memecah keheningan, memecah fokus Ucup dari jalanan aspal yang basah.Ucup melirik sekilas, lalu mengangguk pelan. "Iya, Ndien. Untung tadi kita temenin sampai selesai. Kasihan juga dia kalau harus sendirian menghadapi sit

  • Kuli Bangunan, Jangan Ganggu Istriku!   Bab 79 Membenahi Diri

    Usai dari klinik, Arief langsung meluncur menuju sebuah kafe eksklusif di bilangan Senopati tempat lingkaran pertemanan lamanya biasa berkumpul. Tempat itu dipenuhi oleh deretan mobil mewah dan gelak tawa orang-orang yang sibuk menjaga gengsi. Dulu, Arief adalah salah satu dari mereka—pria yang paling lantang meremehkan istri sendiri demi mendapat validasi dari teman-temannya.Namun hari ini, langkah Arief terasa sangat berat.Begitu ia mendorong pintu kaca kafe, matanya langsung menangkap sekumpulan rekan lamanya yang sedang duduk santai di sudut ruangan. Rama, Dimas, dan beberapa orang lainnya langsung melambai menyambut kehadiran Arief."Wah, ke mana saja kau, Rif? Tiba-tiba ngilang, diundang rapat malah dibubarkan mendadak," sapa Rama sambil tertawa ringan, menyangka Arief sedang sibuk mengurus proyek besar.Arief tidak tersenyum. Ia berjalan mendekati meja mereka, lalu berdiri kaku tepat di hadapan kelompok pria yang dulu sering menertawakan candaannya. Suasana di sekitar meja it

  • Kuli Bangunan, Jangan Ganggu Istriku!   Bab 78 Memeriksa Kandungan

    Suasana klinik obstetri dan ginekologi di kawasan elit Jakarta Selatan itu tampak tenang. Aroma khas antiseptik dan cat tembok putih bersih menyambut siapa saja yang datang. Di salah satu sudut ruang tunggu yang nyaman, Hana duduk tenang dengan mantel musim dingin tipis yang menutupi perutnya yang mulai berbadan dua. Di sampingnya, Andien setia menemani, sesekali mengusap punggung Hana dengan lembut untuk menenangkan kecamuk emosi yang mungkin masih dirasakan sahabatnya itu."Yakin nggak papa dia ikut masuk nanti, Na?" bisik Andien hati-hati, menatap pintu ruangan dokter yang ada di seberang mereka.Hana menghela napas pelan, merapikan tas kecil di pangkuannya. "Biarin, Dien. Sesuai perjanjian. Dia punya hak untuk tahu perkembangan anak ini, tapi batasannya tetap jelas. Nggak lebih."Tak lama kemudian, langkah kaki tergesa namun berusaha diredam terdengar mendekat. Sosok Arief muncul dari balik koridor klinik. Penampilannya hari itu terlihat jauh lebih sederhana—tidak ada jas mahal at

  • Kuli Bangunan, Jangan Ganggu Istriku!   Bab 3 Antara Gairah dan Kegelapan

    ​Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, suasana mendadak berubah menjadi sangat intim. Ucup bisa merasakan panas tubuh Hana merambat melalui telapak tangannya. Wanita di hadapannya ini bukan lagi sosok asing yang ia takuti, melainkan sebuah teka-teki indah yang ingin ia pecahkan malam ini. ​Han

  • Kuli Bangunan, Jangan Ganggu Istriku!   Bab 2 Di Balik Pintu 918

    ​Udara di lobi hotel bintang lima itu terasa dingin, namun keringat dingin yang mengucur di pelipis Ucup jauh lebih dingin dari embusan AC central. Di hadapannya, Arif, sahabat karibnya sejak zaman bermain kelereng, menyodorkan sebuah benda kecil pipih yang diletakkan di telapak tangan. ​"Arif, a

  • Kuli Bangunan, Jangan Ganggu Istriku!   Bab 1 Permintaan

    "Kau gila, Rif. Benar-benar gila," desis Ucup setelah nafasnya kembali teratur. "Malam pertama itu sakral. Dan kau memintaku... menggantikanmu? Meniduri istrimu?"Arif menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, matanya menatap tajam ke arah Ucup. "Sakral kalau dasarnya cinta, Cup. Tapi ini? Ini jebak

  • Kuli Bangunan, Jangan Ganggu Istriku!   Bab 6 Kebenaran di Balik Kelambu Sutra

    ​Hening menyergap kamar 918 setelah pengakuan jujur Ucup meluncur deras. Ketegangan yang tadinya dipicu oleh gairah, kini berganti menjadi ketegangan kalkulatif. Hana duduk di tepi ranjang, menyilangkan kakinya yang jenjang, sementara Ucup berdiri mematung di ujung tempat tidur, merasa seperti ter

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status