MasukCahaya matahari pagi menyusup lancang melalui celah gorden blackout yang tidak tertutup sempurna, menghujam tepat ke kelopak mata Ucup. Rasa pening yang luar biasa menghantam tempurungnya, seolah ada ribuan jarum yang menusuk dari dalam. Ia mengerang, mencoba menggerakkan lengannya yang terasa kaku seperti kayu.
Hal pertama yang tertangkap oleh indra penglihatannya saat ia berhasil memaksa matanya terbuka adalah sesosok wanita yang duduk tenang di sisi ranjang. Hana. Ia mengenakan dress pendek tanpa lengan, rambutnya masih agak basah, dan ia sedang menatap Ucup dengan senyuman yang begitu hangat, begitu manis, seolah-olah semalam adalah malam terindah dalam hidup mereka. "Hai..." sapa Hana lembut, suaranya semerdu kicauan burung di luar sana. Ucup tersentak, berusaha langsung duduk tegak namun kepalanya berdenyut hebat. Ia memegangi keningnya, memejamkan mata rapat-rapat untuk meredam rasa mual yang tiba-tiba naik ke tenggorokan. "Aduh... kepalaku," rintih Ucup. Ia mencoba menggali ingatan semalam. Ciuman itu... aroma mawar... lalu gelas berisi cairan merah pekat. Setelah itu, semuanya kosong. Gelap. Hana terkekeh kecil, tangannya mengelus bahu Ucup dengan gerakan menenangkan. "Kau tertidur karena mabuk, Sayang. Kau belum pernah minum wine sebelumnya, ya?" tanya Hana dengan nada menggoda namun terselip rasa ingin tahu. Ucup menggeleng lemah. "Jangankan wine, bir saja aku tidak pernah sentuh. Aku cuma minum kopi tubruk dan teh manis." "Pantas saja," Hana bangkit berdiri. "Baiklah... sekarang kamu mandi ya, biar segar. Aku sudah siapkan handuk bersih di dalam." Namun, sebelum Hana sempat melangkah menjauh, Ucup bergerak cepat. Ia menarik lengan Hana dengan sisa tenaganya hingga wanita itu terduduk kembali di atas kasur yang empuk. Hana tampak terkejut, napasnya tertahan sejenak saat matanya bertemu dengan tatapan Ucup yang menuntut penjelasan. "Jadi... semalam kita tidak melakukannya?" tanya Ucup langsung ke inti. Ada nada kecewa yang tak bisa ia sembunyikan dalam suaranya. Hana terdiam sebentar. Ia menunduk, memainkan jemarinya di atas sprei, lalu kembali menatap Ucup dengan senyum misterius yang sulit diartikan. "Jangan terburu-buru, Sayang... Nanti malam kan masih bisa kita lanjutkan. Kondisimu semalam benar-benar tidak memungkinkan." Tepat saat Ucup ingin memprotes, ponselnya yang tergeletak di nakas berteriak nyaring. Nama Arif berkedip-kedip di layar. Ucup mendesah, meraih benda itu, dan menempelkannya ke telinga. "Halo?" "Ucup! Bagaimana? Sukses?!" Suara Arif di seberang sana terdengar sangat bersemangat, bahkan cenderung tidak sabaran. "Kau sudah menjadi pria sejati sekarang, kan?" Ucup melirik sejenak ke arah Hana yang kini sedang asyik merapikan riasan tipis di wajahnya melalui cermin kecil. "Um... kayaknya kita ketemu saja dulu. Aku jelaskan nanti." "Hah? Kenapa harus ketemu? Tinggal jawab 'iya' saja susah sekali!" protes Arif. "Oh... baiklah, aku tunggu di restoran hotel lantai dua sekarang juga. Jangan telat!" --- "Apa?! Kau tertidur setelah minum satu gelas saja?!" Suara Arif menggelegar di pojok restoran hotel, membuat beberapa tamu lain menoleh dengan tatapan terganggu. Ia meletakkan cangkir kopinya dengan kasar hingga isinya sedikit tumpah ke meja marmer. "Iya... padahal aku hanya meneguk segelas kecil. Tapi rasanya langsung membuat duniaku berputar," kata Ucup sambil mengaduk telur setengah matangnya tanpa selera. Arif tampak gelisah. Ia menyugar rambutnya dengan kasar, matanya bergerak ke sana kemari seolah sedang memikirkan skenario terburuk. "Berarti kalian belum melakukannya ya... Sial, waktuku tidak banyak, Cup." Ucup merasa tidak enak hati melihat sahabatnya begitu frustrasi. "Jangan khawatir, Rif. Malam ini aku pasti usahakan. Aku akan menebus kesalahanku yang semalam. Maaf ya, aku tidak menyangka daya tahan tubuhku selemah itu terhadap alkohol." Arif terdiam sejenak, lalu ia merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah bungkusan kertas kecil berisi serbuk putih. Ia menggeser benda itu ke arah Ucup dengan gerakan sembunyi-sembunyi. "Ini, Cup... tuangkan ke minuman si tante-tante perawan tua itu. Ini obat perangsang dosis ringan, biar dia yang bergerak duluan dan tidak banyak alasan lagi," bisik Arif dengan nada mendesak. Ucup menatap bungkusan itu dengan dahi berkerut, lalu ia mendorongnya kembali ke arah Arif. "Tidak usah, Rif. Simpan saja itu. Aku mampu kok membuatnya terangsang secara alami. Aku tidak mau memulai hubungan ini dengan cara curang." "Tapi Ucup... wanita itu sepertinya menolak perjodohan ini. Aku punya firasat dia sengaja menghindar atau mencari alasan," kata Arif dengan nada curiga yang kental. Ucup tersenyum tipis, membayangkan wajah lembut Hana tadi pagi. "Tenang, Rif. Hana kelihatannya ramah dan patuh. Dia tidak seburuk yang kau ceritakan. Malam ini aku janji tidak akan makan atau minum yang macam-macam lagi agar tetap terjaga." Arif menghela napas panjang, tampak sedikit lebih tenang meskipun matanya tetap memancarkan kecemasan. "Baiklah, Ucup. Malam ini usahakan kalian melakukannya sampai tuntas. Ingat, masa depanku ada di tanganmu. Oke?" "Oke, Rif. Pegang kata-kataku." --- Malam kembali menyelimuti kota. Ucup kembali ke kamar 918 dengan tekad bulat. Namun, saat ia membuka pintu, keadaan kamar sunyi senyap. Lampu utama mati, hanya menyisakan lampu lorong yang redup. "Hana?" panggil Ucup pelan. Tidak ada jawaban. Ia memeriksa kamar mandi, kosong. Ia mulai merasa curiga bahwa Hana telah pergi meninggalkan hotel ini secara diam-diam. Namun, saat ia membuka lemari, koper besar milik Hana masih ada di sana. Pakaian-pakaiannya pun masih tergantung rapi. Ucup memutuskan untuk menunggu. Ia duduk di kursi sofa, menatap kegelapan di luar jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu kota. Menit berganti jam, dan rasa kantuk mulai menyerang. Namun, ia memaksakan diri untuk tetap terjaga. Tepat jam sepuluh malam, terdengar suara kartu kunci yang digesek. Klik. Pintu terbuka perlahan. Seseorang masuk dengan langkah yang sangat berhati-hati, hampir menyerupai gerakan pencuri yang mengendap-ngendap dalam kegelapan. Bayangan itu bergerak menuju ranjang. "Dari mana saja kamu?" tanya Ucup tiba-tiba sambil menyalakan lampu standing lamp di samping sofa. Cahaya kuning redup langsung menerangi ruangan. Hana tersentak hebat, tubuhnya menegang dan ia nyaris menjatuhkan tas kecil yang ia bawa. Ia menoleh perlahan ke arah Ucup yang sedang duduk dengan tangan bersedekap di dada. Sesaat, ekspresi Hana tampak panik, namun dalam sekejap mata, ia berhasil mengendalikan dirinya. Ia mengulas senyuman manis yang sama seperti pagi tadi—senyuman yang entah mengapa kini terasa seperti topeng di mata Ucup. "Oh, kamu belum tidur, Sayang?" tanya Hana dengan suara manja, mencoba mencairkan suasana. "Aku tadi... cuma keluar sebentar mencari angin segar. Kamar ini terasa agak pengap." Ucup memperhatikan napas Hana yang sedikit memburu dan sisa keringat di pelipisnya. Ia merasa ada yang tidak beres. "Mencari angin sampai jam sepuluh malam? Dan kenapa kamu harus mengendap-ngendap?" Hana berjalan mendekat, aroma parfumnya yang kuat—berbeda dengan aroma mawar semalam—kini memenuhi indra penciuman Ucup. Ia duduk di pangkuan Ucup, melingkarkan lengannya di leher pria itu. "Jangan galak-galak begitu... aku kan sudah pulang," bisik Hana tepat di depan bibir Ucup. "Bukankah kita punya janji yang harus diselesaikan malam ini?" Ucup terdiam. Hasratnya kembali bangkit, namun ada secuil keraguan yang mulai tumbuh di sudut hatinya.Langkah kaki Ucup terasa kian berat saat menaiki satu per satu anak tangga menuju teras rumah Hana. Angin malam berembus dingin menusuk kulit, namun keringat dingin tetap menetes di pelipisnya. Dalam keheningan yang mencekam, ingatan tentang jeritan kekecewaan Andien yang ditinggalkannya begitu saja terus bergema di telinga, menghantam kesadarannya tanpa ampun. Tangan Ucup yang gemetar hebat terangkat, lalu menekan bel pintu yang berdenting pelan.Tak berselang lama, pintu kayu jati berlapis ukiran itu terbuka perlahan. Sosok Hana berdiri di sana, anggun dibalut gaun malam satin berwarna merah maroon yang begitu seksi, melekat pas memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya yang elok."Seperti biasa, kau tidak pernah terlambat, Ucup," ucap Hana dengan senyum tipis yang memikat, merapatkan tubuhnya di ambang pintu.Tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun, Ucup melangkah masuk dengan tubuh lemas. Ia menghempaskan diri di sofa kulit yang empuk dan luas, membiarkan tubuhnya tenggelam di sana. W
Langkah pintu terdengar berat ketika Ucup memutar gagang pintu rumah pemberian Arief yang mereka tempati. Suara derit kayu tua menyambut kedatangannya di tengah sunyinya malam. Wajah Ucup tampak muram, dahinya berkerut dalam memikul beban pikiran yang tak kasat mata. Langkah kakinya gontai, seolah setiap pijakan menguras seluruh tenaganya yang tersisa dari kerasnya hari itu.Belum sempat Ucup melepas lelah atau sekadar mendaratkan tubuh di pinggir ranjang, dua lengan halus tiba-tiba melingkar hangat di pinggangnya dari belakang. Aroma harum tubuh Andien menyergap indra penciumannya, menyebarkan rasa hangat yang menenangkan sekaligus menyiksa batin Ucup.Andien menyandarkan pipinya yang lembut di punggung tegap Ucup yang masih bersimbah keringat dingin."Ucup... aku kangen..." bisik Andien pelan, suaranya sarat gairah yang lama terpendam, diiringi helaan napas hangat yang menerpa leher Ucup.Ucup terpaku. Tubuhnya kaku, tak langsung membalas pelukan hangat itu. Ada kepahitan yang tiba-
Keringat dingin merembet cepat dari batas rambut Ucup, menetes melewati pelipis lalu membentur kerah kemeja kainnya yang kusam dan mulai mendingin. Tenggorokannya terasa tersumbat batu besar. Sambil berpura-pura merapikan kemeja tipisnya yang kini terasa makin mencekik dada bidangnya, otak Ucup berputar keras mencari kebohongan atau alibi baru. Namun, takdir seolah tak memberinya napas. Arief sudah lebih dulu memutar layar ponselnya dan menyodorkannya tepat beberapa senti di depan muka Ucup. "Tuh, lihat sendiri, Cup! Gimana menurutmu? Cantik banget, kan?" ujar Arief dengan cengiran lebar yang membentang dari telinga ke telinga—sebuah ekspresi percaya diri yang mendadak terlihat begitu menyebalkan di mata Ucup. Mata Ucup terpaksa menatap layar digital yang menyala terang itu. Di sana, terpampang foto profil W******p seorang wanita berambut hitam bergelombang yang sedang tersenyum anggun, menyender santai pada kap mobil Porsche merah yang mengilat. Darah Ucup serasa berhenti menga
Dering lonceng di pintu kafe kecil itu menyambut kedatangan Ucup. Pria itu melangkah masuk dengan santai, mengenakan kemeja kain lusuh yang warnanya sudah agak memudar. Namun, bahan kemeja yang tipis itu justru mencetak jelas lekuk dada bidang serta otot-otot lengannya yang kekar, hasil kerja keras yang tak bisa disembunyikan. "Hai, Ucup!" teriak Arief dari meja pojok, melambaikan tangan sambil melayangkan cengiran khasnya. Ucup menarik kursi di seberang Arief lalu menghembuskan napas lega. "Hai, Rief... Lama enggak ketemu. Dari mana aja kamu?" "Biasalah, Cup... nyari cewek," jawab Arief santai sambil menyenderkan punggung. Pandangannya menatap Ucup dari atas ke bawah sebelum tertawa kecil. "Ngomong-ngomong, gimana sama tante-tante itu? Masih tahan aja kamu ya?" "Ya masihlah," sahut Ucup singkat. Arief menyipitkan mata, tatapannya mendadak penuh selidik. "Hm... kok responsmu gitu? Jangan-jangan kamu beneran naksir sama tante-tante tua itu?" Ucup tidak langsung menjawab. Ia hanya
Tanpa menunggu komentar Andien lebih jauh, Ucup bergegas berjalan melintasi ruang tamu menuju kamar mandi. Di bawah kucuran air dingin shower, Ucup memejamkan mata erat-erat. Ia membasuh tubuhnya berkali-kali, menggosok dadanya dengan sabun hingga memerah, seolah ingin menghapus setiap jejak sentuhan Hana dari kulitnya. Rasa bersalah terus menghantuinya, namun bayangan masa depan dan impian untuk menikahi Andien menjadi satu-satunya alasan yang membentengi hatinya dari rasa hancur. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian tidur sederhana, rasa lelah fisik yang luar biasa mendadak menyerang Ucup. Kurasan energi dari pertemuan rahasianya bersama Hana membuat tubuhnya serasa tanpa tulang. Ia melangkah lunglai menuju kamar tidur, langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur busa, dan memejamkan mata. Dalam hitungan detik, kesadarannya mulai tenggelam. Pintu kamar terbuka perlahan. Andien masuk dengan langkah pelan. Ia berharap bisa mengobrol sebentar atau sekadar bersandar di dada pria
Lampu gantung di sudut ruangan memancarkan cahaya temaram, membiaskan bayangan halus di antara dua sosok yang berdiri saling berhadapan. Suasana sunyi, hanya diisi oleh detak jarum jam dinding yang ritmis. "Aku akan menyetujui menjadi pria peliharaanmu, Hana," ucap Ucup dengan suara berat dan dalam, menatap lurus ke dalam manik mata wanita di depannya. Hana tersenyum senang, sebuah garis tipis kepuasan mengukir bibirnya. "Tapi... seperti permintaanku dari awal," lanjut Ucup, menyela sebelum Hana sempat bersuara. "Tidak boleh ada perasaan istimewa di antara kita." Senyum Hana semakin mekar, seolah syarat itu justru menjadi hal yang paling ia harapkan. Wanita itu melangkah pelan, mendekatkan tubuhnya hingga aroma parfum mawarnya menyeruak lembut. Ia berjinjit sedikit, lalu berbisik tepat di telinga Ucup. "Aku tidak butuh cintamu, Ucup," bisiknya halus, diiringi hembusan napas hangat. "Aku hanya butuh kepuasan darimu." Jemari lentik Hana bergerak perlahan, menyentuh dada bida
Hening menyergap kamar 918 setelah pengakuan jujur Ucup meluncur deras. Ketegangan yang tadinya dipicu oleh gairah, kini berganti menjadi ketegangan kalkulatif. Hana duduk di tepi ranjang, menyilangkan kakinya yang jenjang, sementara Ucup berdiri mematung di ujung tempat tidur, merasa seperti ter
Di bawah remang lampu kamar 918, napas keduanya memburu dalam irama yang tidak beraturan. Jarak di antara mereka telah terkikis habis, menyisakan ketegangan yang lebih panas daripada suhu pendingin ruangan yang dipasang di angka terendah. "Bagaimana? Mau mulai...?" bisik Hana. Suara itu begitu
Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, suasana mendadak berubah menjadi sangat intim. Ucup bisa merasakan panas tubuh Hana merambat melalui telapak tangannya. Wanita di hadapannya ini bukan lagi sosok asing yang ia takuti, melainkan sebuah teka-teki indah yang ingin ia pecahkan malam ini. Han
Udara di lobi hotel bintang lima itu terasa dingin, namun keringat dingin yang mengucur di pelipis Ucup jauh lebih dingin dari embusan AC central. Di hadapannya, Arif, sahabat karibnya sejak zaman bermain kelereng, menyodorkan sebuah benda kecil pipih yang diletakkan di telapak tangan. "Arif, a