Mentari pagi baru saja merambat naik, menembus celah-celah gorden tipis di sebuah kamar apartemen yang remang-remang. Suasana ruangan itu masih diselimuti aroma kental sisa-sisa gairah dan kelelahan dari pertempuran sengit sepanjang malam. Di atas ranjang yang berantakan dengan sprei kusut, Hana masih tertidur pulas. Napasnya teratur, halus, dan wajahnya tampak begitu polos dalam lelapnya, seolah tak sadar betapa kacaunya perasaan pria yang kini berdiri di samping tempat tidur.Ucup mengancingkan kemejanya satu persatuan dengan jemari yang sedikit gemetar. Matanya sesekali melirik ke arah Hana. Ada perasaan bersalah yang mengganjal di dadanya, tetapi rasa takut dan kepanikan yang lebih besar mendesaknya untuk segera pergi. Ia tak mau berlama-lama di tempat itu. Tanpa kehangatan, tanpa pelukan hangat, bahkan tanpa sekadar kecupan selamat tinggal di dahi Hana yang biasanya ia berikan, Ucup menyambar jaket serta kunci mobilnya, lalu melangkah cepat keluar kamar dan menutup pintu dengan s
اقرأ المزيد