MasukMata Arief terbelalak lebar. Langkah kakinya mendadak mundur satu tindak. Ia merampas ponsel Ucup, menatap layar dengan jemari yang tiba-tiba bergetar hebat. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya."Ngg... nggak mungkin..." gumam Arief terbata-bata, menatap foto itu bergantian dengan wajah Ucup yang penuh keseriusan. "Ini... ini Hana? Tapi... tapi dia..."Arief benar-benar kehilangan kata-kata. Selama ini bayangan buruk rupa dan gambaran "tante-tante tua" yang ia bangun sendiri di kepalanya hancur berantakan. Wanita cantik, elegan, dan penuh pesona yang tidur bersamanya malam itu—wanita yang mengandung darah dagingnya sendiri—ternyata adalah istri sah yang selama ini ia sia-siakan dan ia hina di belakangnya.Arief terduduk kaku di kursi kerjanya, memandangi layar ponsel yang terus menampilkan panggilan tak terjawab dan pesan singkat berisi gertakan tegas dari Ucup. Keringat dingin merembes di pelipisnya. Kata-kata Ucup tempo hari di kantornya masih terngiang jelas, menghantam me
Isakan Hana makin tak tertahankan. Tubuhnya gemetar hebat di atas kursi dingin koridor rumah sakit, meratapi angka 0.00% yang terpampang nyata. Harapannya musnah, kesombongannya runtuh tanpa sisa.Namun, di tengah isolasi rasa malu yang melingkupinya, sebuah sentuhan lembut hinggap di bahunya. Hana terkejut saat mendongak dan mendapati Andien sudah berada di sampingnya, perlahan merangkul tubuhnya yang sedang bergetar. Tak jauh di belakang Andien, Ucup berdiri membisu dengan tatapan tenang namun sarat ketegasan.Hana yang sudah tak memiliki kekuatan untuk bersikap angkuh, perlahan menyerahkan map cokelat berisikan lembaran hasil tes DNA itu kepada Andien.Dengan senyum tipis yang hangat dan tulus, Andien menerima map tersebut. Ia menarik pelan kertas di dalamnya, membaca kolom kesimpulan singkat, lalu menyimpannya kembali. Tanpa melontarkan kata-kata makian atau nada kemenangan, Andien justru merengkuh Hana ke dalam pelukannya—sebuah pelukan hangat yang meruntuhkan sisa-sisa pertahana
Hana menyentuh dadanya yang terasa sesak. Mulutnya terkatup rapat. Gertakan tes DNA yang tadinya ia jadikan senjata pamungkas untuk menakut-nakuti Ucup dan mengusir Andien, kini justru menjadi jerat hukum dan moral yang siap mencekik dirinya sendiri. Ia tahu betul, jika ia menyetujui tes darah itu besok, seluruh kebohongannya dan siapa ayah kandung sebenarnya dari janin tersebut akan terbongkar tanpa sisa.Dengan napas yang masih memburu dan mata yang memerah penuh dendam serta rasa malu yang meluap-luap, Hana memutar tubuhnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Ia berlari kecil membuka pintu mobil mewahnya, masuk ke dalam, dan membanting pintunya dengan amat keras.Suara derum mesin mobil terdengar meraung sebelum kendaraan mewah itu tancap gas meninggalkan halaman rumah, menyisakan kepulan asap dan keheningan panjang yang mendadak kembali melingkupi teras rumah tersebut.Setelah deru mobil Hana menghilang ditelan bising jalanan Jakarta, suasana di halaman rumah itu mendadak
Mata Hana membelalak hebat. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya saat kepalanya yang tadi menunduk terangkat secara mendadak. Gertakan dan kejujuran Ucup tentang malam itu baru saja meruntuhkan benteng pertahanan pertamanya, namun keputusasaan yang menggelap di hatinya membuat Hana enggan menyerah begitu saja.Ia terkehik samar, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya meski bibirnya gemetar hebat."Bohong..." bisik Hana, suara seraknya bergetar di udara sore yang makin mendingin. "Abang cuma cari alasan karena ada Mbak Andien, kan?! Abang panik! Malam itu Abang mabuk, Abang mana ingat detailnya!"Ucup menatapnya tajam tanpa berkedip sedikit pun. "Abang sadar betul malam itu, Hana. Abang enggak mabuk seperti yang kamu kira.""Enggak! Aku enggak peduli apa kata Abang!" seru Hana histeris, menyela ucapan Ucup dengan gestur tubuh yang makin tidak terkontrol. Ia melangkah maju, membusungkan dadanya seolah menantang takdir. "Kalau Abang merasa enggak salah, kenapa Abang takut
Suasana di teras rumah pemberian Arief itu mendadak begitu pekat. Angin sore Jakarta serasa tak lagi berhembus, menyisakan keheningan yang mencekam setelah pengakuan mengejutkan dari Hana. Ucup mematung. Matanya membelalak menatap Hana yang masih berlutut di depannya dengan tubuh gemetar dan derai air mata. "Hana... kamu bicara apa, sih?!" suara Ucup bergetar, memecah hening dengan ketidakpercayaan yang membuncah. "Hamil anak Abang? Kita... kita terakhir ketemu itu dua bulan yang lalu, Hana! Dan kita enggak pernah melakukan apa-apa!" Hana mendongak, matanya yang sembap dan kemerahan menatap Ucup dengan tatapan memohon sekaligus histeris. Wanita berpenampilan elegan yang biasanya selalu tampil percaya diri dengan kemewahannya itu kini tampak begitu hancur dan putus asa. "Bang Ucup jangan bohong... jangan telantarkan Hana..." bisik Hana sesenggukan, eratan tangannya di ujung kemeja Ucup makin mengencang. "Malam itu, Bang... waktu kita ketemu dua bulan lalu di kafe... Abang an
Momen hangat dan magis di atas jembatan kayu tua itu mendadak buyar ketika deru mesin mobil yang meraung kasar memecah ketenangan pinggiran kampung. Sebuah mobil SUV hitam mengkilap berhenti mendadak di ujung jalan setapak dekat jembatan, menimbulkan kepulan debu tipis. Pintu mobil terbuka, dan langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekat. "Andien! Akhirnya ketemu juga kamu!" Suara bernada tinggi dan terengah-engah itu milik Mas Tommy, manajer Andien. Pria berpenampilan serba rapi dengan kacamata hitam yang kini bertengger di kepalanya itu berjalan cepat menghampiri mereka dengan wajah panik. Genggaman tangan Andien dan Ucup refleks terlepas. Andien buru-buru menegakkan tubuhnya, sementara Ucup berdiri sigap di sampingnya. "Mas Tommy? Kok tahu aku di sini?" tanya Andien kaget. "Aduh, Ndien! Ponsel kamu dari tadi dihubungi enggak aktif! Pihak rumah produksi memajukan jadwal syuting stripping kamu mulai minggu ini! Ada perubahan plot besar-besaran dan sponsorship baru masuk.
Di bawah remang lampu kamar 918, napas keduanya memburu dalam irama yang tidak beraturan. Jarak di antara mereka telah terkikis habis, menyisakan ketegangan yang lebih panas daripada suhu pendingin ruangan yang dipasang di angka terendah. "Bagaimana? Mau mulai...?" bisik Hana. Suara itu begitu
Cahaya matahari pagi menyusup lancang melalui celah gorden blackout yang tidak tertutup sempurna, menghujam tepat ke kelopak mata Ucup. Rasa pening yang luar biasa menghantam tempurungnya, seolah ada ribuan jarum yang menusuk dari dalam. Ia mengerang, mencoba menggerakkan lengannya yang terasa kak
Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, suasana mendadak berubah menjadi sangat intim. Ucup bisa merasakan panas tubuh Hana merambat melalui telapak tangannya. Wanita di hadapannya ini bukan lagi sosok asing yang ia takuti, melainkan sebuah teka-teki indah yang ingin ia pecahkan malam ini. Han
Hening menyergap kamar 918 setelah pengakuan jujur Ucup meluncur deras. Ketegangan yang tadinya dipicu oleh gairah, kini berganti menjadi ketegangan kalkulatif. Hana duduk di tepi ranjang, menyilangkan kakinya yang jenjang, sementara Ucup berdiri mematung di ujung tempat tidur, merasa seperti ter







