Suasana di lorong lantai tiga RS Medika Utama mendadak tegang. Mas Bara mendorong sendiri kursi roda yang kukenakan dengan hati-hati, didampingi dokter Diandra dan Hans yang berlari lebih dulu untuk membuka jalan. Keringat dingin membahasahi pelipis suamiku, raut wajahnya yang biasa tenang kini memancarkan kepanikan luar biasa.Perawat yang sudah bersiap di depan pintu bersalin segera membukakannya lebar-lebar."Napasnya diatur, Sil! Kita sudah sampai di kamar bersalin," seru dokter Diandra memberi instruksi tegas seraya bergerak cepat mengecek kesiapan peralatan."Pindah ke kasur ya, Sil..." ujar Dokter Diandra memandu.Mas Bara dengan sigap mengangkat tubuhku ke kasur bersalin dengan mudah."Mas... sakit sekali, Mas!" ringisku memegangi erat kemeja Mas Bara hingga kainnya kusut. Kontraksi yang makin rapat membuat seluruh persendianku bergetar hebat."Sabar ya, Sayang, Mas di sini. Pegang tangan Mas yang kuat," bisik Mas Bara dengan suara bergetar. Ia menggenggam erat jemariku, membi
Magbasa pa