Pagi itu, aku membawa Mas Bara untuk jalan-jalan di taman dengan menggunakan kursi roda.Dia bilang, “Aku terlihat rapuh ya Sayang, pakai kursi roda kemana-mana...”“Bagiku, Mas Bara adalah pria paling kuat. Lihatlah di dadamu itu Mas, jahitan panjang itu tanda pria yang berani melindungi keluarganya dengan taruhan nyawa,” ujarku padanya.Beberapa kali, jika aku melihat intens jahitan di dadanya, Mas Bara langsung menutupnya baik dengan tangan atau pun kemejanya. Padahal aku sangat menyukai bekas luka itu. Luka itu mengingatkanku pada malam mencekam di Paviliun Lavender. Saat ia menghalau para penjahat itu dari keluarganya.“Jangan dilihat, dadaku jadi jelek.”“Kok jelek? Aku suka bekas luka itu, Mas...”“Silvia, bekas lukanya sangat jelek.”“Mas, dengan luka itu... aku makin mencintaimu...”Tapi Mas Bara tetap menutupinya, seolah tidak percaya diri.Aku duduk di bangku taman, menemaninya berjemur di hangatnya matahari pagi. Ia memejamkan matanya, sangat menikmati berada di tempat ter
Read more