Pagi harinya, suasana di kamar VVIP RS Medika Utama terasa begitu hangat. Jemariku telaten membantu Mas Bara mengenakan kemeja linen putihnya. Ketika sampai di kancing bagian atas, mataku tertumbuk pada garis bekas luka di dadanya. Luka jahitan panjang itu justru membuatnya tampak kian karismatik dan maskulin. Jariku tergerak hendak menelusuri bekas luka itu, namun Mas Bara dengan cepat meraih kemejanya, hendak mengambil alih kancing bajunya sendiri.“Jangan dipandangi seperti itu, Sayang... Dadaku sudah tidak semulus dulu,” lirihnya agak enggan.Aku menahan tangannya, mengambil alih kembali tugas mengancingkan kemeja suamiku.“Aku justru menyukainya, Mas. Luka ini tanda bahwa kamu pria kuat yang rela mempertaruhkan nyawa demi melindungiku,” ujarku lembut.Mas Bara meraih jemariku, menggenggamnya erat seraya menyunggingkan senyum hangat. “Bagaimana jadinya hidupku tanpamu, Silvia...”Aku melingkarkan kedua lenganku ke lehernya, mendongak menatap matanya. “Hmm... mungkin Mas hanya akan
Read more