“Jauh banget ya satu jam itu, kalau di kota satu jam itu dekat...” kataku masih tak percaya jarak satu jam ternyata jauh beneran.“Ya, beda Mbak... satu jam di kota dengan di desa.” Jawabnya, “Mbak dari kota mana?”“Metrojaya, Mas...”“Oh, jauh sekali. Nggak ada bawa koper?” tanya Bara sambil mengernyit saat menoleh sejenak ke arahku, “Di Dusun Mertangi untuk apa? Maaf Mbak, kalau nggak mau jawab nggak apa...”“Mau berkunjung ke rumah Eyang saya...”“Alamatnya di mana? Boleh saya lihat, nanti saya antar sampai depan pintu rumah eyangnya.” Ujarnya ramah.Aku mengambil kertas alamat Eyang Gun dari dalam tas selempangku, lalu memberikannya pada Bara. Bara menerima kertas itu, membacanya sambil tetap fokus pada jalanan yang sepi.Ia agak tersentak saat membaca alamat itu, “Lho ini... Mbak cucunya ya?”Aku mengangguk, “Iya, Mas...”Lalu ia menyerahkan kembali kertas alamat itu, aku menerimanya kembali.“Mas, tahu alamat ini di mana?” tanyaku memastikan.“Iya, Mbak. Saya akan antarkan, samp
Huling Na-update : 2026-03-24 Magbasa pa