登入Swosh!Prang!Suara nyaring benda yang jatuh ke lantai dari arah pintu ruang rawat tersebut spontan membuat Tuan Arya dan Satria sama-sama menoleh.Kedua pria berbeda generasi itu terkejut saat melihat Rain berdiri di depan pintu dengan wajah tegang yang memerah.Degh!Dada Satria bergemuruh hebat, terkejut bercampur panik melihat Rain berada di ambang pintu dan menatap tanpa ekspresi ke arahnya serta sang papa."Rain!" sebut Satria dengan suara yang bergetar menahan panik.Di ambang pintu, Rain mengepalkan kedua tangannya erat di sisi tubuh. Dadanya naik turun dengan cepat, sedangkan napasnya memburu.Wanita hamil itu merasa benci telah dibohongi oleh Satria yang ternyata hanya berpura-pura amnesia. Ia merasa sangat sakit karena telah ditipu."Rain, kamu denger semuanya?" tanya Satria. Suaranya yang bergetar kini terdengar semakin pelan.Rain menggigit bibirnya kuat-kuat seraya memejamkan mata sesaat. Lalu, ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan, berusaha mengurang
"Perempuan aneh, tiba-tiba nangis, tiba-tiba lembut, tiba-tiba marah. Gak jelas kamu!"Dikatakan tidak jelas, sepasang mata Rain semakin melotot. Rasa kesal di hatinya pun semakin bertambah. Rasanya ingin sekali ia membogem wajah kekasihnya itu demi meluapkan kekesalannya.Namun, ia masih cukup waras untuk tidak memukul dan membalas orang yang sedang sakit dan tidak berdaya seperti Satria."Aku emang gak jelas dan aneh. Mau apa kamu? Hah!" kata Rain berkacak pinggang, sedangkan matanya masih saja melotot. "Udahlah, aku males ngeladenin kamu!" lanjutnya sembari berbalik dan melangkah keluar dari ruangan VVIP tersebut.Melihat Rain pergi dengan wajah kesal, Satria yang duduk bersandar pada kepala ranjang itu pun tersenyum kecil. Lalu, ia beringsut perlahan dan merebahkan tubuhnya.Rain yang keluar dari ruangan tersebut langsung menghampiri Bu Yohana dan yang lainnya. Dengan kesal, wanita hamil itu mendaratkan bokongnya di kursi tunggu dan menyandarkan punggungnya."Ada apa, Rain? Kok mu
Di depan rumah sakit, di sanalah kini Tuan Arya berada. Sepasang matanya menatap ke arah area parkiran, menunggu seseorang datang.Tak lama kemudian, sebuah mobil mewah memasuki area parkiran rumah sakit tersebut, membuat pria paruh baya itu menyunggingkan senyum tipis.Dari dalam mobil mewah tersebut, turunlah Ares, asisten pribadi Tuan Arya yang selama ini membantunya mengurus seluruh pekerjaannya."Maaf sudah membuat Tuan menunggu lama, saya tadi kejebak macet," kata Ares yang menghampiri bos besarnya itu.Pria berusia sekitar tiga puluh tahunan itu meminta maaf kepada Tuan Arya yang sudah cukup lama menunggunya di depan gedung rumah sakit tersebut."Gak apa-apa, saya juga lagi gak terburu-buru," kata Tuan Arya, menimpali perkataan Ares dengan santai seraya tersenyum.Mendengar perkataan bosnya, Ares menganggukkan kepala dan membalas senyuman pria paruh baya itu."Begini, Res. Saya memanggil kamu datang kemari karena ingin meminta kamu melakukan hal yang sangat penting."Tuan Arya
"Secara fisik, kondisi pasien saat ini sudah mulai stabil dan membaik. Tapi ada hal yang perlu saya sampaikan—"Dokter yang saat ini berdiri di hadapan Tuan Arya dan yang lainnya, menjeda kalimatnya. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya secara perlahan sebelum menjelaskan kondisi Satria saat ini pada keluarganya.Sepasang mata Dokter pria paruh baya itu menatap Tuan Arya dan yang lainnya bergantian, "Berdasarkan respons dan hasil pemeriksaan sementara, besar kemungkinan pasien mengalami generalized amnesia atau yang biasa disebut amnesia global. Kondisi seperti ini menyebabkan hampir seluruh ingatan masa lalunya hilang."Degh!Tubuh Rain menegang, dadanya terasa begitu sesak. Air matanya yang hampir surut, kini kembali menetes tanpa diminta, membasahi pipinya yang mulus."Maksud Dokter, Satria bener-bener gak ingat apa pun?" tanya wanita hamil itu dengan suaranya yang lirih dan bergetar.Dokter menghela napas pelan dan mengangguk, "Benar, untuk saat ini, pasien bisa saja t
Satria yang baru saja bangun dari komanya terlihat diam tanpa ekspresi. Hanya sepasang matanya saja yang berkedip dan terbuka sayu.Kini, pemuda itu duduk bersandar pada kepala ranjang. Wajahnya yang penuh luka begitu pucat seperti mayat hidup."Sayang, akhirnya kamu sadar. Aku senang banget!" Rain yang merasa senang tersenyum sambil memeluk tubuh sang kekasih.Namun, Satria yang dipeluk dan diajak berbicara tetap tak memberikan reaksi. Pemuda itu tetap diam, tak merespons perkataan orang-orang yang ada di sekitarnya."Kamu tahu gak? Aku, Ibu, Papa, dan yang lainnya cemas banget sama keadaan kamu," lanjut Rain dengan suara bergetar menahan tangis.Satria yang dipeluk memejamkan matanya sesaat dan mengembuskan napas pelan. Ia mengepalkan kedua tangannya yang terasa lemah, lalu mendorong tubuh Rain yang memeluknya."Lepaskan saya!"Mendengar perkataan Satria dan juga penolakannya, Rain terkejut bukan main. Spontan wanita hamil itu melepaskan pelukannya dan menatap wajah sang kekasih."S
"Walaupun ketemu aku secara langsung, jawabannya tetep sama, Mas. Aku gak akan mengizinkan siapa pun buat ketemu anakku untuk saat ini, termasuk kakakku sendiri!"Degh!Kalimat bernada santai tetapi terdengar serius milik Tuan Arya yang baru saja kembali, membuat Tuan Seno langsung menoleh ke arah sumber suara.Melihat wajah adiknya yang terlihat datar, Tuan Seno menghela napas pelan. Di hadapan adiknya itu, ia pun memaksakan senyumannya dan melangkah mendekat."Ar, gimana keadaan anakmu? Mas dan Diana ke sini, mau lihat keadaannya," kata Tuan Seno. Perkataannya yang semula bernada tinggi terhadap Pak Anjas, kini bernada rendah dan santai.Di hadapan adiknya, pria paruh baya itu tersenyum ramah. Berbeda sekali dengan sikap sombong dan kasar yang semula ia tunjukkan."Iya, Ar. Katanya anak kamu yang hilang udah ketemu, jadi kami bela-belain ke sini buat jenguk!" sambung Diana dengan sudut bibir tersungging.Melihat wajah kakak dan iparnya, Tuan Arya menghela napas pelan. Jelas sekali j
"Dari pada kamu di sini sibuk bujuk aku buat balikan, lebih baik kamu cari orang yang mau ngerawat dan jagain ibu kamu yang stroke dan lumpuh. Jangan sampai kamu yang berguna ini bikin ibu kamu makin sekarat!" Degh! Semakin bergemuruh dada Andrean dibuatnya. Perkataan Rain yang kasar membuat hati
"Rain... Mama sakit, dia stroke dan lumpuh. Dia butuh kamu sekarang, Rain!" Rain yang bergandengan tangan dengan Satria, spontan menghentikan langkahnya dan berbalik badan.Kening wanita yang tengah hamil muda itu berkerut dalam, membuat kedua alisnya bertautan. Sedangkan sepasang matanya menatap
"Oiya, Rain. Aku punya berita bagus, hampir aja lupa ngasih tahu kamu!"Tasya yang semula jengkel, kini menoleh dan berbicara serius pada Rain, membuat kening wanita hamil itu otomatis berkerut dalam. "Berita apaan?" tanya Rain sambil menatap wajah Tasya yang terlihat begitu serius. "Penasaran, p
Pagi-pagi sekali, Tasya sudah mendatangi apartemen Rain. Gadis tua itu penasaran ingin melihat seperti apa hubungan sahabatnya dan Satria yang dikerjainya kemarin. "Selamat pagi... buka pintu dong! Tasya yang imut, kiyut dan menggemaskan datang berkunjung!" Di depan pintu apartemen, Tasya memangg







