Sejak pagi, Nora Liu sudah tiga kali menyapu halaman yang sama. Debu di depan rumahnya bahkan belum sempat berkumpul lagi, tetapi tangannya terus bergerak, sementara matanya berkali-kali menoleh ke jalan desa seperti orang yang menunggu kabar kematian musuh.Haris Liu duduk di ambang pintu dengan wajah dibuat tenang. Namun lututnya bergerak kecil dari waktu ke waktu, dan setiap kali ada suara langkah melewati jalan, ia langsung mengangkat kepala lebih cepat daripada orang yang benar-benar santai.“Kau jangan terlihat seperti orang menunggu utang dibayar,” kata Nora tanpa menoleh. “Orang kecamatan itu harus merasa kita yang memegang barang, bukan kita yang memohon uang.”Haris mengusap wajahnya. “Sepuluh benggol bukan uang kecil, Nora. Kalau ia tidak datang, semua mulutmu kemarin hanya menjadi asap.”Nora berhenti menyapu, lalu menatap suaminya dengan tajam. “Mulutku yang kau sebut asap itu yang membuat orang kecamatan kembali menoleh. Kalau kau takut, nanti saat uang datang, kau boleh
Leer más