Pagi itu, Leo Zhang tidak langsung memeriksa tampah mie kudzu yang dijemur di halaman. Ia berdiri di dekat meja kecil, memperhatikan deretan botol kosong dari Restoran Bunga Kapas yang baru saja dibawa Andika Zhang. Bagi orang luar, botol-botol itu tampak tidak berguna. Isinya sudah habis, tutup kainnya kembali diikat, dan sebagian sisa kecap manis hanya menempel samar di dasar. Namun bagi Leo, botol kosong bukan benda mati. Botol itu membawa jejak tangan, bau, sisa rasa, dan kebiasaan orang yang mengira sesuatu yang sudah kosong tidak lagi perlu dijaga. Andika membuka catatan pengiriman. “Jumlahnya cocok. Lima botol keluar, lima botol kembali. Nomornya juga sesuai.” Leo mengambil botol pertama, memeriksa nomor kecil di bagian bawah, menimbangnya dengan tangan, lalu mengendus sisa aroma di mulut botol. Setelah itu, ia melakukan hal yang sama pada botol kedua, ketiga, dan keempat.&
Read more