Leo memilih pohon yang batangnya cukup besar, berdiri sehat, dan berada di tanah yang tidak terlalu miring. Ia mengusap kulitnya sekali, lalu membuat sayatan dangkal dengan tangan hati-hati. Dari luka kecil itu, tidak ada aliran deras. Hanya setitik bening muncul, menggantung sebentar, lalu jatuh pelan ke tepi kaleng bekas yang ia pasang dengan tali. Leo menunggu. Tetes kedua muncul lebih lambat, tetapi cukup untuk membuat matanya tenang. Ia menyentuh setitik cairan itu dengan ujung jari, lalu mencicipinya. Rasanya hampir seperti air biasa, hanya ada manis samar yang mungkin akan dilewatkan oleh orang yang terburu-buru. Bagi Leo, manis samar itu lebih berharga daripada sekarung pujian. Ia tahu di hadapannya bukan air minum hutan, melainkan bahan yang membutuhkan waktu, api, dan kesabaran untuk berubah menjadi gula. Ia memasang wadah pada beberapa pohon lain dengan cara yang sama.
Read more