Namun Mikael Wei tidak terdengar setenang kalimatnya. Ia berjalan ke kursi, duduk, lalu mengetuk sandaran dengan jari. Nama Kota Jatiraya, Restoran Bunga Kapas, dan gerobak mitra terus berputar di kepalanya. “Apakah Rendy menyebut toko?” tanya Mikael Wei tiba-tiba. Sarita Lin mengerutkan kening. “Toko apa?” “Ruko, jalur pasar, tempat tetap, atau jalur bahan di Jatiraya,” kata Mikael Wei. “Apa dia menyebut hal seperti itu?” Sarita Lin menatap suaminya dengan bingung. “Mengapa kau bertanya sedetail itu? Katamu Leo hanya ramai satu musim.” Mikael Wei segera tersenyum, tetapi senyum itu datang terlalu cepat. “Aku hanya ingin tahu seberapa besar sandiwara itu. Kalau orang desa ingin terlihat besar, biasanya mereka akan mencari tempat di pasar kota.” Sarita Lin tampak menerima alasan itu, meski
Read more