Hot pot sederhana di sisi Sarita dan Mikael mulai mengepul hangat, memperlihatkan sayur, ikan, irisan ayam tipis, serta dua piring nasi yang sengaja mereka pilih secukupnya. Mikael mengaduk kuah sedikit lebih lama daripada perlu, kemudian mengambil ikan sambil sesekali melirik bagian meja Leo yang masih kosong. “Begini cukup, makan itu bukan soal pamer, tetapi tahu kebutuhan sendiri.” Di sebelahnya, Sarita segera mengangguk sambil menyentuh sisi mangkuk dengan ujung jari, seolah pilihan sederhana itu membuktikan mereka lebih pandai mengatur uang. “Orang yang benar-benar tahu cara hidup tidak perlu memenuhi meja untuk merasa berhasil.” Nada keduanya terdengar seperti percakapan biasa, tetapi arah pandangan yang beberapa kali jatuh kepada Leo membuat maksudnya tidak sulit dipahami. Dari sisi lain meja, Maria memperhatikan isi hot pot tersebut dengan mata yang masih memikirkan ha
Read more