Mag-log inSepuluh tahun telah berlalu sejak malam konfrontasi besar di Jenewa dan kepulangan keluarga Sebastian ke tepi pantai berpasir putih Indonesia. Waktu berjalan dengan sangat damai, membawa banyak perubahan pada setiap sudut kehidupan mereka, namun esensi kehangatan dan cinta di dalam rumah sederhana itu tetap bertahan dengan sangat kokoh, tak tergoyahkan oleh zaman yang terus bergerak maju.Arthur Junior kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda berusia delapan belas tahun dengan tubuh yang tegap dan tinggi, mewarisi struktur rahang yang tegas dari ayahnya, Edward, namun memiliki binar mata bulat yang penuh dengan kearifan dan kelembutan yang mengalir murni dari ibunya, Estela.Arthur tidak menjadi seorang peretas gelap yang bersembunyi di balik layar komputer untuk mengacaukan sistem dunia. Sebaliknya, melalui fondasi didikan yang penuh kasih sayang dari kedua orang tuanya, ia kini dikenal secara global sebagai pemimpin peradaban digital baru, seorang arsitek sistem terdesentralisasi u
Setelah seluruh proses birokrasi pembubaran korporasi dan peluncuran yayasan Sebastian Global Open Source selesai dilakukan di Jakarta, keluarga besar Sebastian akhirnya mengambil sebuah keputusan yang telah lama mereka impikan. Mereka memilih untuk meninggalkan seluruh hiruk-pikuk kehidupan kota metropolitan dan kemewahan kastil-kastil tua di Eropa untuk pulang kembali ke akar kehidupan yang sesungguhnya di bumi Indonesia.Tempat tinggal baru mereka bukanlah sebuah mansion megah dengan pengamanan berlapis besi dan sensor komputer otomatis seperti yang dulu ada di Jakarta Pusat. Estela telah merancang sendiri sebuah rumah keluarga yang sangat sederhana namun dipenuhi oleh keindahan arsitektur alami, terletak tepat di tepi sebuah pantai berpasir putih yang asri di daerah pinggiran pulau Bali.Rumah itu sebagian besar terbuat dari material kayu lokal yang hangat dan struktur bambu yang dikombinasikan dengan kaca-kaca besar yang bisa digeser sepenuhnya, memungkinkan embusan angin laut
Satu bulan setelah konfrontasi besar di Jenewa, dunia mengalami fase perubahan yang sangat masif. Dewan The Origin telah sepenuhnya dibubarkan, para anggotanya kini menghadapi proses hukum internasional yang sangat ketat atas kejahatan kemanusiaan dan manipulasi finansial yang mereka lakukan selama puluhan tahun. Namun bagi Edward Sebastian, tantangan terbesar berikutnya bukanlah tentang bagaimana cara menghukum para musuh masa lalunya, melainkan tentang bagaimana cara membersihkan nama besar keluarga Sebastian yang selama tiga generasi ini selalu diidentikkan dengan kekejaman, intrik gelap, dan keserakahan kekuasaan.Sore itu, di dalam aula utama gedung pusat Sebastian Group di Jakarta, yang kini telah kembali beroperasi normal setelah seluruh pemblokiran rekening dicabut oleh otoritas dunia, Edward berdiri di depan ratusan jurnalis dari berbagai belahan bumi yang menghadiri konferensi pers resmi.Di sampingnya, Estela duduk dengan senyuman hangatnya yang khas, sementara Kakek Herma
Siaran langsung berskala global yang dipicu oleh Arthur Junior dari dalam ruang sidang dewan di Jenewa seketika menciptakan gelombang kejutan terbesar dalam sejarah modern manusia. Di luar gedung pencakar langit kaca tempat mereka berada, suara klakson kendaraan di jalanan kota Jenewa mulai terdengar bersahut-sahutan. Jutaan orang di seluruh penjuru dunia duduk terpaku di depan layar gawai dan televisi mereka, menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana rahasia paling gelap yang mengatur jalannya sejarah dunia selama seratus tahun terakhir terbongkar tanpa ada satu pun yang bisa ditutup-tutupi lagi.Di dalam ruangan sidang marmer, kepanikan yang luar biasa melanda dua belas pria tua anggota dewan The Origin. Wajah-wajah mereka yang tadinya tampak begitu berkuasa dan penuh keangkuhan kini berubah menjadi pucat pasi, dipenuhi oleh ketakutan yang teramat sangat."Ini tidak mungkin... putuskan aliran listrik gedung ini! Panggil pasukan keamanan sekarang juga!" teriak ketua dewan de
Kota Jenewa, Swiss, malam itu diselimuti oleh kabut tebal dan rintik hujan yang sangat dingin. Di sebuah gedung pencakar langit berstruktur kaca tebal yang berdiri megah di tepi danau, dua belas pria tua yang mengenakan setelan jas formal hitam duduk melingkar di sebuah meja marmer raksasa. Mereka adalah para tetua dewan The Origin, penguasa tirai gelap dunia yang selama satu abad terakhir merasa diri mereka sebagai tuhan yang mengatur nasib umat manusia.Di layar monitor besar di tengah ruangan mereka, grafik pergerakan ekonomi keluarga Sebastian masih menampilkan warna abu-abu, tanda bahwa sistem mereka tidak mampu lagi membaca atau mengunci aliran aset milik Edward."Bagaimana bisa seorang anak muda dari Jakarta dan seorang wanita arsitek merusak sistem yang telah kita bangun selama seratus tahun?" ucap salah satu tetua dengan suara serak yang dipenuhi kemarahan yang tertahan. "Kita sudah mencabut lisensinya, kita sudah membekukan seluruh uangnya, tapi mereka justru membangun sis
Di tengah blokade ekonomi total yang diterapkan oleh dewan The Origin, kastil tua di Swiss itu berubah menjadi sebuah markas operasi raksasa yang sangat sibuk namun teratur. Tidak ada lagi ratapan atas hilangnya kontrak bisnis bernilai miliaran dolar atau pembekuan rekening bank. Keluarga Sebastian kini bergerak dalam satu garis komando yang sangat solid, menggabungkan strategi kepemimpinan Edward dan kecerdasan arsitektur struktural milik Estela.Melalui jalur komunikasi radio gelombang pendek yang berhasil dibuka oleh Arthur Junior, satu per satu sekutu lama mereka dari seluruh belahan dunia mulai terhubung. Silas dari Jakarta adalah orang pertama yang memberikan laporan dengan suara yang mantap dari balik pengeras suara komputer."Tuan Edward, seluruh jaringan pelabuhan mandiri dan pergudangan logistik kita di Asia Tenggara tetap beroperasi penuh secara internal," lapor Silas. "Kami telah memindahkan seluruh cadangan komoditas fisik kita, mulai dari emas batangan, bahan pangan,
Estela dan Adrian berlari keluar dari ruang kaca, memanfaatkan kepanikan para penjaga yang sibuk menyelamatkan diri dari asap hitam. Karena mereka berdua yang merancang lorong-lorong ini, mereka bisa berlari dengan sangat lincah di dalam kegelapan tanpa perlu melihat peta. Mereka menghafal setiap
Pukul tiga dini hari. Suasana di dalam markas bawah tanah Proyek Omega mendadak berubah menjadi sangat tegang. Sirene tidak berbunyi, namun lampu-lampu neon di sepanjang koridor luar berganti menjadi warna merah redup. Berita dari pers internasional yang disebarkan oleh Edward semalam t
"Ibu... Ibu... ini Arthur... Ibu bisa dengar Arthur?" bisik suara kecil dari dalam kotak pensil tersebut.Air mata Estela seketika tumpah ruah mendengar suara itu. Ia langsung mendekatkan penghapus karet itu ke telinganya, sementara Adrian ikut mendekatkan kepalanya dengan wajah yang pen
Malam semakin larut di dalam rumah besar keluarga Edward. Kamar Arthur Junior kini telah berubah menjadi pusat operasi kecil yang dipenuhi dengan kabel-kabel dan layar komputer yang menyala redup. Cahaya biru dari monitor memantul di wajah polos bocah delapan tahun itu. Meskipun matanya sudah tera







