Pekikan mekanis dari peluru suar sensor uap membuat suasana gubuk menjadi mencekam. Dengungan bernada tinggi itu seolah menguliti keheningan malam, sementara pendar cahaya merahnya terus berputar, memindai setiap sudut ruangan dengan kejam.Dengan gerakan kilat, Johan menarik tangan Emily agar bersembunyi di belakang punggungnya yang tegap, melindunginya dari kemungkinan serbuan peluru. Tubuh Emily gemetar hebat, meremas ujung mantel wolnya sembari menahan napas di balik pundak sang kakak.Johan mengintip dari celah dinding kayu yang lapuk dengan belati terhunus. Otot-otot lengannya menegang, siap meledak kapan saja.Namun anehnya, dia tidak melihat siapa pun di luar sana selain kabut salju yang pekat dan pepohonan pinus yang bergoyang beringas dihantam badai. Tidak ada derap kaki kuda, tidak ada kilatan zirah besi. Hanya kesunyian hutan utara yang terasa mati."Kosong," bisik Johan, suaranya sekeras desisan ular. "Suar ini ditembakkan dari jarak jauh menggunakan pelontar tekanan uap.
Read more