Emily sontak melepaskan cengkeraman Lucian dengan nekat. “Aku tidak punya pilihan lain, Lucian! Lepaskan!” bisiknya setengah mendesis, lalu berbalik cepat meninggalkan area dapur yang bising.Langkah kakinya memburu di atas lantai pualam, berniat menuju ruang arsip bawah untuk menyerahkan dokumen masa lalu kepada Thomas sebelum semuanya terlambat.Namun, nasib buruk seolah telah mengintip dari balik pilar kastil. Tepat saat Emily mencapai koridor tengah yang bercabang menuju ruang arsip, derap langkah sepatu bot yang berat menghentikan ritme jantungnya secara tragis.Duke Kael mendadak muncul dari balik belokan koridor, didampingi Juan yang memegang manifes militer bersampul kulit. Emily membeku, buru-buru menundukkan kepala sedalam mungkin demi menyembunyikan badai kepanikan di wajahnya.“Elian,” panggil Kael, vokal baritonnya yang berat seketika memotong kesunyian koridor.“Y-ya, Tuan Duke,” sahut Emily, mati-matian menekan getaran di pita suaranya.Kael berhenti tepat dua langkah d
Read more