Pertama kali keluar bersama mertua, Ziya agak canggung dan gugup tadi, beruntung ibu mertuanya itu ramah dan hangat sekali, dia merasa tidak hanya menjadi menantu di sini, melainkan anak perempuan. “Kamu nanti duduk-duduk aja, nggak usah pake banyak gerak dulu, biar badannya pulih!” kata Raniya menuturkan pada menantunya yang sudah banyak gerak itu, padahal baru saja pulang dari rumah sakit. Ziya mengangguk, sebenarnya juga dia merasa ingin berbaring dan meluruskan kaki, tetapi hal seperti ini jarang sekali, bahkan tidak pernah dia pergi berbelanja bersama seorang ibu, Ziya seperti tidak mau membuang kesempatan. “Tan—” “Mama!” Raniya meralatnya, Ziya sudah menjadi anaknya sekarang. “Panggilannya diganti, nanti papamu juga ngambek kalau dipanggil om-om ya!” katanya tertawa, mengingat momen dulu ketika dia suka sekali memanggil sang suami dengan panggilan Om karena selisih umur mereka yang cukup jauh. “Iya, Mama … jangan marah ya, hehehe!” Melihat itu, bagaimana Raniya tidak gem
Baca selengkapnya