“Mas Abi kesel sama siapa? Mukanya kerut-kerut gitu, kenapa?” tanya Raniya dengan baterai penuhnya. “Oiya, tadi aku doyan bawang bombai loh, Mas Abi. Biasanya, nggak doyan, tadi kalap banget aku!” Abimana mendengarkan, tetapi hanya meresponnya dengan anggukan dan senyum saja, sedangkan itu tak cukup bagi Raniya. Wajahnya masih terus diperhatikan sampai mereka tiba di apartemen, bahkan ketika berbaring di kasur pun mata perempuan itu masih terus mengawasinya, belum puas dengan respon yang melulu itu, lagipula tak biasanya. “Mas kenapa?” tanyanya lagi, kali ini berdiri di depan ranjang, tidak mau dipeluk sambil memejamkan mata. “Kalau ada masalah, bilang! Tapi, kalau nggak mau bilang dan cuman diem aja, aku tidur beda tempat aja!” Abimana lantas mencekal tangan Raniya sebelum perempuan itu keluar kamar menjauh darinya, memang memalukan untuk jujur, tetapi adanya begitu. Raganya mendekap tubuh Raniya yang hangat, tenang itu pun hadir meskipun masih ada waswasnya. “Tadi, ngobrol s
Read more