แชร์

Bab 91. Berbahagia

ผู้เขียน: Moonlight
last update วันที่เผยแพร่: 2026-09-03 20:44:14

Pertama kali keluar bersama mertua, Ziya agak canggung dan gugup tadi, beruntung ibu mertuanya itu ramah dan hangat sekali, dia merasa tidak hanya menjadi menantu di sini, melainkan anak perempuan.

“Kamu nanti duduk-duduk aja, nggak usah pake banyak gerak dulu, biar badannya pulih!” kata Raniya menuturkan pada menantunya yang sudah banyak gerak itu, padahal baru saja pulang dari rumah sakit.

Ziya mengangguk, sebenarnya juga dia merasa ingin berbaring dan meluruskan kaki, tetapi hal seperti
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 91. Berbahagia

    Pertama kali keluar bersama mertua, Ziya agak canggung dan gugup tadi, beruntung ibu mertuanya itu ramah dan hangat sekali, dia merasa tidak hanya menjadi menantu di sini, melainkan anak perempuan. “Kamu nanti duduk-duduk aja, nggak usah pake banyak gerak dulu, biar badannya pulih!” kata Raniya menuturkan pada menantunya yang sudah banyak gerak itu, padahal baru saja pulang dari rumah sakit. Ziya mengangguk, sebenarnya juga dia merasa ingin berbaring dan meluruskan kaki, tetapi hal seperti ini jarang sekali, bahkan tidak pernah dia pergi berbelanja bersama seorang ibu, Ziya seperti tidak mau membuang kesempatan. “Tan—” “Mama!” Raniya meralatnya, Ziya sudah menjadi anaknya sekarang. “Panggilannya diganti, nanti papamu juga ngambek kalau dipanggil om-om ya!” katanya tertawa, mengingat momen dulu ketika dia suka sekali memanggil sang suami dengan panggilan Om karena selisih umur mereka yang cukup jauh. “Iya, Mama … jangan marah ya, hehehe!” Melihat itu, bagaimana Raniya tidak gem

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 90. Diterima

    “Kak Zayn!” Ziya berucap lirih usai ciuman dengan penuh kerinduan itu selesai, bibirnya yang tadi lembab dan berwarna, kini hanya tersisa warna tipis juga agak bengkak. “Ganas sekali!” celetuknya. Zayn tergelak, menahan diri setelah sekian lama dan dengan Ziya yang menggemaskan begitu, rasanya tak bisa lagi. Zayn tidak hanya mengandalkan nafsunya sebagai pria dewasa, tetapi perasaan besarnya yang tak ingin menunda lagi kebersamaan mereka, memutus jarak yang memisahkan mereka dengan status sah seperti Kia dan Ghana. Dia ingin perempuan itu segera menjadi istrinya, Zayn akan menunjukan istana yang tepat untuk Ziya tanpa perlu bersusah payah lagi. “Aku jadi takut,” kata Ziya kepikiran. “Takut apa?” “Kak Zayn hanya ingin melampiaskan nafsu saja denganku, lalu aku dibu—” Ziya dibungkam lagi, kali ini lebih keras hisapannya, tetapi singkat. “Sekali lagi menuduhku begitu, aku cium di depan mama papa!” ancam pria itu. Ziya mengkerut takut, lalu bergeser mendekat memeluk raga besar

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 89. Si Pemilik Hati

    Malam itu, faktanya ada saksi yang melihat kebersamaan Zayn dan Ziya. Usianya mungkin sudah tua, tetapi dia tetap seorang ayah dan pengusaha ulung yang tidak bisa semudah itu melepaskan tanggung jawab, apalagi yang berurusan dengan anaknya. “Papa sudah mencari tau soal keluarganya, Zayn. Kepikiran memang iya, tanyakan saja pada Mamamu! Tapi, tanpa melihat latar belakangnya, Ziya tak mempunyai kesalahan selain dia mengiyakan untuk lahir di sana, di keluarga yang sama sekali tidak menghargainya. Kalau kamu perlu bantuan, Papa bisa. Ghana?” Ghana reflek menegakkan punggungnya. “Saya sudah berbicara dengan Kia dan ini tidak ada masalah sama sekali. Saya siap membantu,” jawabnya. Abimana tersenyum mendengar itu, tak salah dia memberikan restu putrinya untuk menikah dengan Ghana, selain mempunyai taktik yang hebat dalam usaha, pria itu sangat bisa diandalkan. “Kita bisa berunding caranya, tapi kamu nggak mau ajak gadis itu ke rumah, Zayn?” Abimana menoleh pada istrinya. “Kita kan juga m

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 88. Dukungan

    “Ziya?” Kening Ghana mengerut begitu mengulang nama itu. Kia mengangguk. “Keluarganya terkenal sangat problematik, sejak lama dan sampai sekarang soal statusnya sebagai anak seorang simpanan terus diperbincangkan tanpa mau mendengar juga mengenal bagaimana Ziya sebenarnya. Dia dihakimi, pernah dijual, dilecehkan, lalu dinikahkan tanpa status jelas kemudian ditinggalkan demi kepentingan pribadi keluarganya. Dia ada di sana hanya untuk dimanfaatkan, pribadinya yang polos dan terbentuk dari tekanan memudahkan orang lain menjebaknya,” jelasnya ikut merasakan sakit. Ghana terdiam, ia banyak mendengar kebejatan orang-orang di luar sana, tetapi kali ini jauh lebih dari sekadar bejat, terlebih keluarga. Dia pernah nakal, menjadi pribadi yang susah sekali diatur, hanya lagi dan lagi Ghana tak percaya ada keluarga yang memperlakukan anak perempuannya seperti binatang meskipun terlahir dari wanita simpanan, tetap saja Ziya darah daging mereka, di dalam diri Ziya mengalir kuat gen mereka yan

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 87. Bisakah Bersama?

    Ziya masih sangat canggung dengan hubungan mendadaknya bersama Zayn itu, walaupun Zayn tidak memburunya seperti diawal sebelum dia akhirnya menerima di rumah makan itu, tetapi perhatian yang Zayn berikan ketika pria itu tidak sibuk cukup membuatnya cemas. “Tapi, kalau nggak dikabarin akunya juga waswas,” gumamnya tak keluar rumah seperti yang Zayn katakan. Ziya melorotkan kedua bahunya, cidera mental sejak kecil dengan lingkungan keluarga yang sangat beracun menjadikannya selalu sangat bergantung pada orang baru. Ziya sudah mencoba memberikan batasan, tetapi kesungguhan Zayn hari itu cukup menggoyahkannya sehingga hubungan mereka langsung diberi status. Dia bagaikan daun kering yang terbawa angin, setiap kali raganya menemukan tempat berhenti, begitu kuat bertahan, walau akhirnya tempat itu membiarkan dia pergi lagi terbawa angin. “Semoga dia tidak,” ucap Ziya kesekian kalinya, putus asa mulai menyerang. Zayn: Bisa aku telpon? Mata Ziya mengerjap, pria itu seperti dekat sekali sa

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 86. Kesungguhan Zayn

    “Iya, iya, nggak ada! Aku cuman bercanda, sumpah!” kata Ziya daripada masalahnya semakin melebar, menghadapi Zayn seorang diri sama saja mempersiapkan diri untuk mati. “Kita di sini, aku nggak ada janji—” “Pakaian itu?” Ziya menunduk melihat pakaian yang tadi dia banggakan untuk bertemu yang lain. “Hahaha, ini jelas aku persiapkan buat … ketemu kamu, kan malu kalau nggak sepadan,” cicitnya. Sorot tajam Zayn reflek berubah teduh, ada senyum tipis di mata itu mendengarkan pengakuan dari Ziya yang sesuai dengan prasangkanya tadi, perempuan itu memang mempersiapkan diri untuk tampil sebaik mungkin meskipun pengakuannya sekarang hanya agar tidak malu saja. “Memangnya, aku menuntut kamu untuk sepadan? Kita berbeda?” Zayn mencapit dagu Ziya sehingga mendongak menatapnya. “Kita sepadan, Zi. Soal bagaimana hidupmu, aku tau dan menerima itu tanpa kamu minta. Jadi, bisakah kita mencoba berjalan?” “Jalan?” Ziya mengerjap bingung. Zayn menganggukkan kepala, dirinya kembali duduk di temp

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 5. Dia Datang!

    “Kamu belum jawab pertanyaanku,” kata Abimana seraya menyandarkan punggungnya dan melipat tangan ke depan dada, menatap lekat Raniya.“Dia … jadi, sebenarnya dua minggu lagi itu aku mau menikah, Om. Tapi, calon suamiku ketahuan selingkuh dan bawa perempuan lain ke apartemen yang rencananya akan ka

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 4. Pertemuan Tak Terduga

    [Kamu baik-baik aja, kan? Bilang saja kalau ada yang sakit, Raniya! Aku seperti yang tadi, akan bertanggung jawab ke kamu.]Ya, Raniya sedang butuh, tetapi tanggung jawab yang tak sama artinya dengan maksud Abimana.“O-oo, iya, hehehe … agak sakit sedikit aja, selebihnya oke kok! Om sibuk nggak?”

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 2. Aku Bayar Kamu

    Abimana menendang pintu apartemen miliknya, kedua tangannya menggendong Raniya yang tak bisa berjalan dengan benar, bahkan tadi nyaris saja masuk ke kamar orang lain. “Huh! Berat juga dia!” kata Abimana membawa Raniya ke kamarnya, merebahkan wanita itu di ranjang miliknya. “Raniya! Hei, Raniya, ba

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 3. Dijodohkan?

    “Dia ganteng, pinter, baik, mapan, sayang keluarga … pilihan Mama nggak mungkin salah, Raniya. Lihat baik-baik!” terang Diniati sambil menunjuk kelima foto pria tampan itu bergantian dengan gaya yang berbeda. “Namanya Aksara, seganteng wajah dan sifatnya!” “Memangnya, Mama udah kenal banget sampe

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status