Cerita Raditya masih kerap terbayang di pikiran Raniya, sejujurnya dia sudah lupa atau mungkin tak pernah mengharapkan kembali pria itu datang dan meminta maaf kepadanya. Raniya sudah cukup berdamai dengan semua masa lalunya, termasuk bagaimana dia dulu bersama Abimana yang pernah gagal. “Mas Abi pulang jam berapa?” [Satu jam lagi perjalanan, Sayang. Mau nitip sesuatu?] Raniya menunjukkan wajah putri mereka. “Kia ini Papa yang bikin Mama nya laper terus, dia kuat banget nenennya kayak anak cowok, hehehe. Mas, mau nasi Padang,” ujarnya. [Heeem, pinter memang dia, minum banyak ASI dari Mama ya? Pulang nanti, Mas belikan, Sayang. Masih kuat menunggu atau online aja?] “Nunggu aja, ini sama makan yang ada kok, cuman kepikiran nasi Padang aja,” jawabnya. Abimana ingin mencubit pipi dari dua perempuannya itu, menggemaskan sekali dan berjuta kali lipat jika ditinggalkan bekerja. [Iya, Mas belikan nanti. Kita makan bersama, ya? Terus, Kia?] “Aku … aku nanti makannya lewat nenen Mam
Read more