Meja bundar yang harusnya bisa menampung delapan orang, mendadak terasa sesak oleh kehadiran Yaoyao. Rasa jengkel Shu Yi sudah menumpuk sejak pertama kali gadis itu menginjakkan kaki di ruang makan. Tanpa rasa malu, Yaoyao menyendok beberapa lauk ke piring Tang Rui. "Kak Rui, dulu kau paling suka tumis daging. Makanlah yang banyak."Beberapa saat kemudian Yaoyao mengambil air. "Kak Rui, minum dulu. Nanti tersedak."Belum sempat Tang Rui minum, Yaoyao kembali berceloteh. Seolah takut kesempatannya bicara diambil orang. Alih-alih ikut campur, Shu Yi justru menyingkir dari percakapan mereka. Menekuni makanan, seolah seluruh hidupnya bergantung pada apa yang tersaji di meja. "Berhenti bicara dan makanlah dengan tenang," tegur Tang Rui akhirnya. "Kalau kau terus sibuk, bisa-bisa semua pelayan wangfu harus pensiun."Yaoyao menelan rasa malu bulat-bulat. Senyumnya masih cerah, seperti tak terjadi apa-apa. "Kak Rui jangan marah. Bulan depan aku tak akan begini lagi."Sebelum ada yang bi
Read more