“Kamu harus tahu, tadi aku nggak pakai pengaman. Dilihat dari siklus bulananmu, kita melakukannya tepat di puncak masa suburmu. Jadi, mari kita lihat nanti. Kalau itu anakku, kamu tahu apa yg harus kamu lakukan, Shanum.”Kata-kata itu terus berputar di kepala Shanum seperti kaset rusak yang menyebalkan. Ia tahu Prana tidak memakai pengaman, tapi ia sama sekali tidak menghitung siklus bulannya. Kenyataan itu menghantamnya lebih keras.“Tarik napas, Shanum. Fokus. Masalah bayi atau apa pun itu, pikirkan nanti. Sekarang Ayah dulu,” batinnya menyemangati diri sendiri meski lututnya terasa seperti jeli.“Tolong, buka pintunya, Mas,” bisik Shanum serak. Ia tidak sanggup lagi berada hanya berdua bersama Prana di ruangan ini.Tanpa kata, Prana meraih kunci di saku jas putihnya, memutar anak kunci itu. Begitu pintu terbuka, Shanum sambil bergegas keluar ruang kerja Prana. Jarinya bergerak cepat mengirim pesan pada ibunya, mengabarkan sebentar lagi ia akan kembali lantai enam.Baru beberapa met
Magbasa pa