Share

Bab 13

Author: QueenShe
last update publish date: 2026-04-06 18:15:42
Shanum segera mengunci pintu kamar dari dalam. Fadil sendiri hanya mengantar sampai pagar rumah, dan langsung melesat kembali ke kantornya.

“Kenapa aku bisa selalai itu? Gimana kalau aku sampai hamil?” batinnya menyesal.

Tangan Shanum gemetar hebat saat menyentuh perut ratanya. Disana ada jejak panas yang ditinggalkan Prana, dan bisa mengubah seluruh hidupnya menjadi neraka atau surga yang terlarang.

Ponsel di saku dressnya bergetar, nomor asing muncul di layar. Shanum hanya membiarkannya, ia ta
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 303

    "Mas!" tegur Shanum, memukul pelan bahu Prana. Wajahnya yang semula pucat mendadak merona kemerahan. "Situasi kayak gini aja masih aja kepikiran buat nakal!"Prana tersenyum kecil, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Godaan singkat itu berhasil mengalihkan sedikit mendung di wajah Shanum. Pria itu bangkit dari posisi berlututnya, meraih ponsel hitam dari saku celana, dan menekan beberapa digit nomor di layar.Shanum memperhatikan Prana yang kini menempelkan gawai ke telinga, menanti sambungan terhubung."Halo, Sus. Ini Dokter Prana," ucap Prana begitu panggilan di seberang sana diangkat."Saya masih di luar sekarang. Tolong pantau berkala kondisi jaminan kamar VIP Ibu Ralin, ya. Kalau ada lonjakan tensi atau dia terbangun dan mencari saya, langsung hubungi nomor saya."Prana mendengarkan jawaban dari sepersekian detik arahan perawat di seberang telepon."Iya, untuk Dokter Bobby di ICU juga tolong saya dikasih laporan berkala lewat pesan singkat. Saya akan kembali ke rumah sakit

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 302

    “Udah selesai?”Suara itu menyadarkan Shanum yang sedari tadi melamun begitu keluar dari ruang ICU. Langkah kakinya sempat tertahan di ambang pintu kaca. Begitu mendongak, Prana sudah berdiri tegak di depannya, melemparkan senyum tipis yang menenangkan.Prana mengikis jarak di antara mereka, meraih pergelangan tangan Shanum dengan lembut. “Kita pulang dulu, yuk?”Shanum tak langsung menjawab. Matanya melirik ke arah ruang tunggu yang terletak beberapa meter di sebelah kanan. Di atas kursi panjang, Ani duduk tegak sambil melipat kedua tangan di dada. Sorot mata ibunya penuh dengan ancaman, seakan siap menerkam jika Shanum berani mengambil salah langkah.Shanum menarik pelan tangannya, mencoba memberi jarak agar tak memicu keributan baru di sana. “Mas kok di sini? Tante Ralin gimana?”“Mama lagi tidur, kondisinya udah aman,” jawab Prana. Pria itu kembali mendekat dan menaruh telapak tangannya di pinggang Shanum, menuntunnya berjalan menuju lorong lift.“Tapi, Mas...”“Aku mau antar kamu

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 301

    “Jangan bicara macam-macam pada Ayahmu,” bisik Ani tajam, menyambar pergelangan tangan Shanum tepat sebelum langkah kaki putrinya melewati batas pintu.Shanum menatap jari-jari ibunya yang mencengkeram lengannya. Tanpa suara, ia menarik paksa tangannya hingga terlepas dari kekangan Ani. Tak ada niat di hatinya untuk membalas ancaman itu. Tatapannya lurus mengarah pada pintu kaca ruang ICU yang bergeser setengah terbuka.Perawat di ambang pintu memberikan isyarat dengan lambaian tangan pendek. “Silakan, Mbak. Jangan terlalu lama. Kondisi pasien masih sangat lemah dan butuh ketenangan.”Shanum mengangguk cepat. Langkah kakinya terasa begitu berat menapak lantai steril, melewati sensor pintu yang menutup otomatis di belakangnya.Di atas brankar besi, Bobby terbaring, jauh lebih pucat dan ringkih. Jarum infus tertancap di punggung tangannya, sementara mesin monitor jantung di samping tempat tidur terus mengeluarkan bunyi.“Ayah…” panggil Shanum lirih, mengikis jarak hingga berdiri di sisi

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 300

    “Mbak, kenapa sih harus berantem lagi sama Ibu disini?” tegur Tiara memecah kesunyian. Matanya menatap wajah Shanum yang sembab.“Aku cuma nanya soal ayah kandung aku, Ra,” jawab Shanum pendek, pandangannya beralih menatap ubin lantai.Tiara langsung terdiam. Mulutnya yang tadi terbuka hendak melayangkan protes seketika terkatup rapat. Sorot matanya berubah canggung dan serba salah.“Tapi kan bisa nanya nanti pas udah di rumah, Mbak,” ucap Tiara kemudian. Suaranya melunak, tak ada lagi nada ketus seperti saat menghadapi ibunya tadi.“Aku udah gak bisa pulang kesana, Ra,” sahut Shanum datar.“Mbak...”Tiara menatap kakaknya dengan pandangan sedih, tahu betul kalau rumah mereka tak lagi menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk Shanum. Keduanya terdiam dengan perbincangan yang menggantung, sibuk dengan pikiran masing-masing sampai derap langkah kaki yang tergesa memecah kecanggangan itu.Ani kembali dengan wajah gusar, mendatangi tempat mereka berdiri dengan napas memburu. Tampaknya ada

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 299

    “Siapa yang kasih tahu kamu?” tanya Ani sinis, meski Shanum bisa menangkap ada getaran dalam suara ibunya.“Gak penting siapa yang kasih tahu aku, Bu,” kata Shanum, berdiri dari kursinya agar posisinya sejajar dengan Ani. “Yang jelas, sekarang aku udah tahu. Aku sama Mas Prana gak sedarah. Jadi kita berdua gak masalah kalau bersama.”“Kamu ini... benar-benar anak kurang ajar!” desis Ani, giginya terkatup rapat menahan amarah yang siap meledak lagi. “Kamu sengaja mau sama Prana, biar bisa mempermalukan Ibu di depan Ralin?”Shanum menyipitkan matanya tak mengerti dengan pola pikir ibunya.“Siapa yang mau mempermalukan Ibu? Aku cuma mau hidup tenang bersama orang yang aku cintai,” ucap Shanum, sorot matanya tak lagi menunjukkan ketakutan seperti tadi siang.“Aku sudah menuruti kemauan Ibu untuk menikah dengan Fadil dulu, dan hidupku hancur. Sekarang, tolong biarkan aku menentukan jalanku sendiri,” tambah Shanum.Ani terkekeh sinis, menyembunyikan kepanikannya di balik topeng kemarahan.“

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 298

    “Kalau aku milih lari sama Mas Prana... gimana?” tanya Shanum. Matanya beralih menatap Tiara, mencari secercah pembenaran atas pikiran nekat yang mendadak melintas di kepalanya.Tiara tertegun sejenak, menatap kakaknya dengan pandangan meneliti. Bukannya terkejut, anak perempuan itu justru mengangguk cepat. “Lebih baik gitu, Mbak. Cari kehidupan kalian sendiri, jangan lihat ke belakang lagi.”Shanum mengerutkan kening, agak terkejut dengan jawaban lugas adiknya. “Tapi... Ayah sama Ibu gimana, Ra? Ibu pasti bakal ngamuk, dan kondisi Ayah sekarang lagi gini. Apa aku gak egois?”“Gak usah mikirin mereka, Mbak,” tukas Tiara ketus. Ada nada kekecewaan yang mendalam saat membahas orang tua mereka.“Kalau Mbak tetap mikirin mereka, selamanya Mbak gak bakalan bahagia. Mbak udah ngalah menuruti kemauan Ayah dan Ibu dengan menikah. Sekarang lihat hasilnya?”Shanum menggigit bibir bawahnya. Kata-kata Tiara menghantam logikanya.“Mereka yang menanam benih masalah ini di masa lalu, Mbak. Mereka be

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 47

    “Kenapa kamu di luar?” tanya Shanum heran. “Apa yang terjadi?”Shanum dikejutkan oleh Tiara yang langsung menjegalnya tepat di depan pintu ruang rawat ayahnya. Wajah adiknya yang biasanya ceria kini tampak tegang, bahkan cenderung dingin.“Mbak Num!”Tanpa basa-basi, Tiara menyodorkan layar ponsel

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 44

    “Mas, seharusnya tadi aku bawa mobil sendiri saja,” gerutu Shanum sambil terus meremas jemarinya yang dingin. “Kalau Mas Fadil lihat kita datang bersama, gimana?”Setelah perjuangan singkat melawan kantuk dan guncangan hebat mendengar kabar ayahnya, Shanum akhirnya menyerah duduk di kursi penumpang

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 42

    Shanum menutup pintu kamar mandi dengan sentakan keras. Tangannya gemetar hebat saat mencengkeram pinggiran wastafel marmer yang dingin. Di dalam ruangan kedap suara ini, ia merasa seperti dikurung bersama bayangan-bayangan mengerikan yang baru saja ia tumpahkan di depan Prana.“Apa yang sudah kula

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 41

    “Kamu nggak pakai pengaman lagi, Mas?!” seru Shanum naik satu oktav. Seluruh sarafnya yang baru saja rileks kini menegang seketika.Ia terduduk di tengah ranjang dengan napas yang kembali memburu, tak memedulikan rambutnya yang berantakan atau tubuhnya yang masih polos tanpa sehelai benang pun. Mat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status