“Mas, turunin! Aku harus pulang, aku tidak bisa di sini lebih lama lagi,” desak Shanum saat Prana mengangkat tubuhnya dengan begitu mudah. Handuk kering yang membungkus tubuhnya terasa kasar di kulitnya yang masih basah, kontras dengan sentuhan lengan Prana yang kokoh.“Tidak ada yang pergi ke mana pun, Shanum,” ucap Prana mutlak.Langkah kakinya mantap, membawa Shanum keluar dari uap hangat kamar mandi menuju ranjang besar yang masih berantakan.“Tidurlah di sini. Biar aku tenang, aku harus melihatmu aman dalam jangkauanku malam ini.”“Tapi kamarku di bawah, Mas...” Shanum mencoba bangkit, tapi tatapan tajam Prana mengunci gerakannya.“Sekarang kamarmu di sini. Biarkan malam ini menjadi milik kita, tanpa bayang-bayang ketakutan di kepalamu.”Prana meletakkannya dengan hati-hati di tepi ranjang. Ia melangkah menuju lemari besar, mengambil kaos putih polos berbahan katun lembut yang ukurannya jauh melampaui tubuh mungil Shanum.Tanpa banyak bicara, Prana membantu Shanum mengenakannya.
Magbasa pa