“Aku gak punya banyak waktu, Gandi. Cepat langsung katakan apa yang mau kamu bicarakan,” buka Shanum tanpa basa-basi, sama sekali tak menyentuh minuman yang sudah di sajikan lima belas menit yang lalu. Ia duduk dengan posisi tegak, kedua tangan bertautan diatas pangkuannya. Gandi mengaduk kopinya perlahan. Sikapnya jauh lebih tenang dibandingkan tadi malam di restoran. Tak ada lagi cengkeraman kasar atau nada suara yang meledak-ledak. Pria itu meletakkan sendok kecilnya, menatap Shanum serius. “Aku mau minta maaf soal semalam, Num,” kata Gandi, terdengar tulus. “Ponsel Mega masih aku pegang. Jangan khawatir, foto itu sudah dihapus semua, jadi gak akan sampai ke Mama.” Shanum mengembuskan napas pendek, merasa satu beban berat di pundaknya luruh begitu saja. “Makasih,” ucanya tulus. “Sekarang, katakan apa hal penting yang kamu maksud di pesan semalam?” Gandi bersandar pada kursi. “Kamu ingat waktu Ayah kita tiba-tiba mengumumkan perjodohan?” Kening Shanum mengkerut. “Kenapa tiba-tib
Magbasa pa