Share

Bab 236

Author: QueenShe
last update publish date: 2026-06-28 14:07:22

“Mas Prana?” gumam Shanum hampir tak percaya melihat pria itu kini berdiri di depannya.

Pria itu mengenakan kemeja kasual yang sudah tak terlalu rapi. Wajah pria itu tak memancarkan kehangatan yang biasa ia tunjukkan pada Shanum hari ini. Pandangannya lurus, menusuk, dan rahangnya mengeras kokoh menatap kedua netra Shanum yang masih berdiri kaku.

Tadi pagi Prana mewanti-wanti Shanum agar tak pergi kemana pun, karena Prana khawatir keluarga Fadil masih mencari keberadaan Shanum, begitu pun orang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 239

    “Kalau soal Malik, aku gak akan memanggil kalian kemari.” Hendra mengangguk pelan ke arah map di tangan Prana. “Yang membuatku khawatir ada di lembar berikutnya. Coba lihat.”Dengan cepat Prana mengambil lembaran terakhir itu. Tubuhnya kaku, urat di lehernya menegang. Untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan itu, ia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Shanum perlahan mendekat. Matanya melebar begitu melihat foto tersebut. Tubuhnya langsung kehilangan tenaga."Mas..." Suaranya nyaris tak terdengar.Di lembar berkas yang lain, ada foto Prana dan Shanum tengah berjalan-jalan di toko antik. Mereka difoto dari kejauhan melalui celah jendela kaca toko. Di foto itu, Prana sedang menggengam tangan Shanum sambil tersenyum, sebuah gestur yang terlalu intim untuk disebut sebagai teman.“Ini kan waktu kita mencari pajangan untuk klinik baru, Mas?” tanya Shanum, suaranya bergetar.Prana tetap diam. Tatapannya justru tertuju pada uraian yang tercetak di bawah foto itu. Semakin jauh ia membaca,

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 238

    “Kenapa kita ke sini, Mas?” Shanum terkejut begitu mobil Prana terparkir di depan kantor Hendra.Kantor hukum milik Hendra—pengacara Shanum sekaligus sahabat Prana—berdiri megah di hadapan mereka. Shanum tak menyangka bahwa pelarian mereka dari kafe dan mampir sejenak di minimarket akan berujung ke tempat ini.“Ada yang perlu dibicarakan,” jawab Prana singkat sambil mematikan mesin mobil, membiarkan keheningan kembali merayap di antara mereka.Shanum mengingat kembali pesan yang dikirimkan Fadil sebelumnya. Perasaan tenang yang tercipta beberapa lalu di minimarket mendadak jadi terasa tegang kembali. Dadanya bergemuruh, mengingat foto dokumen gugatan pembatalan cerai yang dikirimkan mantan suaminya itu.“Apa ini soal pengajuan banding perceraian aku?” tanya Shanum, mencoba menebak dengan nada sangsi.Prana menghentikan gerakannya yang hendak membuka sabuk pengaman. Ia memutar tubuh, kembali memfokuskan pandangan pada Shanum. Dahinya berkerut dalam, menatap Shanum dengan sorot mata men

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 237

    “Ada apa sebenarnya semalam, setelah aku pergi ke rumah sakit?”Prana melontarkan pertanyaan itu begitu mobilnya keluar dari area kafe, jari-jarinya mengeratkan setir dengan nada bicaranya lebih keras dari biasanya. Shanum duduk di sampingnya, mata Prana tajam tetap fokus pada jalanan depan, rahangnya mengeras.Shanum terdiam sebentar memperhatikan wajah Prana. Mata pria itu menyipit, otot pipi yang berkedut halus. Prana sedang marah.“Kamu ketemu dia?” lanjut Prana tanpa menunggu jawaban. “Gandi? Adik bajingan itu?”“Iya,” jawab Shanum tenang.“Sendirian?”“Enggak. Dia—”"Apa itu alasan kamu gak angkat telepon?" Prana memotong terdengar kesal."Kenapa kamu gak bilang mau menemui adik bajingan itu?" tanya Prana lagi, tanpa menunggu Shanum menjawab rentetan pertanyaan sebelumnya. "Apa yang kalian bahas?""Mas..." panggil Shanum lembut. Ia memberanikan diri memegang lengan Prana yang kaku saat mencengkeram setir. "Aku harus jawab yang mana dulu?"Shanum bertanya tanpa merasa terintimida

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 236

    “Mas Prana?” gumam Shanum hampir tak percaya melihat pria itu kini berdiri di depannya.Pria itu mengenakan kemeja kasual yang sudah tak terlalu rapi. Wajah pria itu tak memancarkan kehangatan yang biasa ia tunjukkan pada Shanum hari ini. Pandangannya lurus, menusuk, dan rahangnya mengeras kokoh menatap kedua netra Shanum yang masih berdiri kaku.Tadi pagi Prana mewanti-wanti Shanum agar tak pergi kemana pun, karena Prana khawatir keluarga Fadil masih mencari keberadaan Shanum, begitu pun orang tua Shanum sendiri. Tapi ternyata Shanum malah menemui adik dari pria yang sudah menghancurkan hidupnya sendiri.“Sudah aku bilang, kalau mau kemana-mana bilang!” Suaranya begitu tegas penuh peringatan.Gandi memutar tubuhnya jadi berhadapan dengan Prana. Ia sempat terlihat sedikit terkejut, tapi langsung ia tepis dengan berdiri menghalangi Shanum dari Prana. “Siapa Anda?”Prana tak memedulikan pertanyaan Gandi. Ia melangkah maju melewati tubuh Gandi, dan memosisikan tubuhnya tepat di depan Sha

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 235

    “Aku gak punya banyak waktu, Gandi. Cepat langsung katakan apa yang mau kamu bicarakan,” buka Shanum tanpa basa-basi, sama sekali tak menyentuh minuman yang sudah di sajikan lima belas menit yang lalu. Ia duduk dengan posisi tegak, kedua tangan bertautan diatas pangkuannya.Gandi mengaduk kopinya perlahan. Sikapnya jauh lebih tenang dibandingkan tadi malam di restoran. Tak ada lagi cengkeraman kasar atau nada suara yang meledak-ledak. Pria itu meletakkan sendok kecilnya, menatap Shanum serius.“Aku mau minta maaf soal semalam, Num,” kata Gandi, terdengar tulus. “Ponsel Mega masih aku pegang. Jangan khawatir, foto itu sudah dihapus semua, jadi gak akan sampai ke Mama.”Shanum mengembuskan napas pendek, merasa satu beban berat di pundaknya luruh begitu saja. “Makasih,” ucanya tulus. “Sekarang, katakan apa hal penting yang kamu maksud di pesan semalam?”Gandi bersandar pada kursi. “Kamu ingat waktu Ayah kita tiba-tiba mengumumkan perjodohan?”Kening Shanum mengkerut. “Kenapa tiba-tiba ba

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 235

    “Aku gak punya banyak waktu, Gandi. Cepat langsung katakan apa yang mau kamu bicarakan,” buka Shanum tanpa basa-basi, sama sekali tak menyentuh minuman yang sudah di sajikan lima belas menit yang lalu. Ia duduk dengan posisi tegak, kedua tangan bertautan diatas pangkuannya.Gandi mengaduk kopinya perlahan. Sikapnya jauh lebih tenang dibandingkan tadi malam di restoran. Tak ada lagi cengkeraman kasar atau nada suara yang meledak-ledak. Pria itu meletakkan sendok kecilnya, menatap Shanum serius.“Aku mau minta maaf soal semalam, Num,” kata Gandi, terdengar tulus. “Ponsel Mega masih aku pegang. Jangan khawatir, foto itu sudah dihapus semua, jadi gak akan sampai ke Mama.”Shanum mengembuskan napas pendek, merasa satu beban berat di pundaknya luruh begitu saja. “Makasih,” ucanya tulus. “Sekarang, katakan apa hal penting yang kamu maksud di pesan semalam?”Gandi bersandar pada kursi. “Kamu ingat waktu Ayah kita tiba-tiba mengumumkan perjodohan?”Kening Shanum mengkerut. “Kenapa tiba-tiba ba

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 166

    “Kenapa, Mbak?” Tiara terkejut melihat kakaknya berlari cepat kembali menuju pintu depan. “Tante Kartika balik lagi?”Shanum tak menjawab. Dia langsung memutar kunci, lalu membuka pintu kayu itu lebar-lebar.Benar saja, Prana sudah berdiri di ambang pintu, masih mengenakan kemeja kerja abu-abu yang

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 164

    Shanum bergerak cepat membelah ruang tengah, diikuti Tiara yang berjalan setengah berlari di belakangnya. Di ruang tamu menampilkan sosok Kartika yang berdiri tegak dengan tas bermerek yang dicengkeram erat di tangan kirinya. Wajah mertuanya itu menekuk masam.“Ma, ada apa pagi-pagi ke sini?” tanya

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 163

    “Mbak... tolong percaya sama aku,” lirih Tiara, memohon dengan tatapan mata yang beralih gelisah. “Aku sama Mas Prana gak ada apa-apa.”Shanum tidak berniat merespons lagi. Dia menurunkan bungkusan es batu dari pipinya yang mulai terasa kebas, lalu meletakkannya begitu saja di atas meja kaca. Tubuh

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 162

    Fadil menjauhkan wajahnya, lalu tersenyum sangat manis ke arah Tiara. Dia berpamitan pada adik iparnya dan melangkah lebar melewati pintu utama. Tak lama terdengar suara mobil menjauh meninggalkan pekarangan rumah.“Beneran Ayah yang nyuruh kamu ke sini, Ra?” tanya Shanum menatap lurus ke arah adik

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status