Kepala Prana bergerak naik, meninggalkan area paha dalam Shanum yang masih menyisakan jejak basah. Pria itu berdiri tegak di antara kedua kaki Shanum, menatap lurus ke matanya yang sayu.“Siap untuk sajian utama, sayang?” bisik Prana. Tangan kanannya bergerak ke pinggang, melepas kaitan celana panjangnya sendiri dengan satu gerakan mantap.Shanum terengah-engah, tubuhnya terkulai lemas di atas meja bar kayu setelah pelepasan intens yang baru saja menghentak seluruh sarafnya. Napasnya naik turun tak beraturan, sementara dadanya naik turun dengan cepat.Tanpa aba-aba Prana menyusupkan kedua lengan kekarnya ke bawah ketiak dan lipatan lututnya. Dengan satu sentakan kuat, Prana mengangkat tubuh polos Shanum ke dalam gendongan. Shanum memekik pelan, refleks mengalungkan kedua lengannya ke leher kokoh Prana, menyembunyikan wajahnya yang merah padam di sana.“Kemana, Mas?”“Tempat yang lebih nyaman.”Prana melangkah lebar keluar dari area dapur, melewati ruang tengah, menuju kamar tidur utam
Baca selengkapnya