LOGIN“Num, ada sesuatu yang selama ini gak pernah aku ceritakan ke siapa pun. Tolong kasih aku waktu sebentar besok, kali ini aku gak akan memaksa.”Di dalam kamar, sambil duduk di tepi ranjang. Kepalanya terasa penuh. Beberapa kali ia membaca pesan yang dikirimkan Gandi. Menimbang apa yang sebenarnya ingin dikatakan Gandi. Ada penasaran yang mendadak muncul.Di satu sisi, ia sangat mencurigai motif Gandi. Di sisi lain, kalimat 'ada sesuatu yang gak pernah aku ceritakan' membuat rasa penasarannya terusik. Apakah ini ada hubungannya dengan Fadil? Atau justru tentang foto yang diambil Mega?Shanum meletakkan ponselnya di atas nakas, memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu demi mengusir penat yang menumpuk.Dua jam berlalu. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam ketika ponsel di atas nakas berdering nyaring. Shanum segera menyambar ponselnya. Nama Prana tertera di layar. Baru saja tombol hijau digeser.“Kenapa tadi gak telepon aku? Kamu dimana sekarang? Udah di apartemen?” Pra
"Lihat saja, aku akan melaporkannya ke Mama!" teriak Mega sambil mengangkat ponsel tingginya. Jarinya bergerak lincah mengetik. "Biar Mama tahu kelakuan perempuan yang sok suci ini!"Sebelum Mega sempat mengirim, Gandi mengulurkan tangan dan merebut ponsel itu dengan cepat."Mas! Apa-apaan sih?" protes Mega, melengking. Ia berusaha meraih kembali. "Kenapa dilarang? Biar Mama tahu kalau Mas Fadil itu gak salah sepenuhnya!"“Cukup, Mega. Hentikan,” kata Gandi berat dan tegas. Ia mengunci layar ponsel, lalu memasukan ponselnya ke dalam saku celananya, mengabaikan tatapan protes dari Mega. “Jangan bikin keributan lagi di sini. Malu dilihat orang.”Shanum yang menyaksikan perdebatan sepasang suami istri itu diam-diam merasakan embusan kelegaan yang amat besar di dalam dadanya. Ketegangan yang sempat memuncak perlahan mulai mengendur.Sejujurnya, ia belum siap jika harus menghadapi konfrontasi baru malam ini, apalagi jika hal itu sampai menyeret nama Prana dan membahayakan posisi pria itu s
“Dia dokter teman Mas Fadil kan?” tanya Gandi penuh penekanan. Mata pria itu menatap tajam, menuntut jawaban yang tak kunjung keluar dari bibir Shanum. “Sudah berapa lama kamu berhubungan dengan dia?”Shanum memundurkan langkahnya, mencoba memberi jarak. Layar ponselnya kembali menyala, menampilkan nama Prana yang memanggil untuk kesekian kalinya. Getaran di telapak tangannya terasa begitu mengganggu, tetapi ia sengaja memasukan ponselnya ke dalam tas agar Gandi tak bisa membaca nama yang tertera di sana.“Aku gak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaanmu, Gandi. Tolong minggir, ini sudah malam. Aku harus pulang,” jawab Shanum terdengar tegas meski detak jantungnya kian berkejaran.Gandi maju satu langkah, kembali mempersempit jarak di antara mereka. “Pulang ke mana? Ke rumah ayahmu? Jawab, Shanum! Dimana kamu tinggal sekarang?”“Mau pulang kemana saja juga bukan urusan kamu, Gan!” jawab Shanum mulai terpancing emosinya.Gandi tak goyah, tatapannya tetap menuntut Shanum untuk mejjaw
"Shanum."Tubuh Shanum langsung menegang. Suara ini sudah lama tak didengarnya, dan ia enggan berurusan dengan orang yang memilikinya. Walaupun sebenarnya dia bukan salah satu orang yang membuat Shanum tertekan.Perlahan Shanum menoleh ke samping. Darah di wajahnya seakan surut seketika begitu melihat sepasang suami istri yang sangat ia kenal berada dekat dari dirinya. Gandi—adik kandung Fadil, sekaligus teman sekolah Shanum sejak mereka masih kecil—dengan istrinya, Mega.Mata Mega menelusuri wajah Shanum dari atas sampai bawah dengan penuh penilaian. Sementara Gandi berdiri dengan kedua tangan di saku celana, memperhatikan Shanum tanpa berkedip. Sorot mata Gandi tampak kecewa, tak ada kehangatan seperti dulu kalau pria itu selalu membelanya dari amukan Fadil."Kebetulan sekali ya," suara Mega terdengar sinis.Jantung Shanum mulai berdebar cepat. "Kalian ngapain di sini?""Tentu kami makan malam juga disini." Mega melangkah mendekat, memotong jarak di antara mereka. Tatapan Mega beral
“Mas, ada mertua Mbak Num marah-marah di rumah Ayah. Mereka baru tahu putusan cerainya keluar hari ini. Tante Kartika sampai bawa bodyguard segala.” Alis Prana langsung bertaut membaca pesan dari Tiara yang baru saja masuk.Pesan kedua menyusul beberapa detik kemudian. “Mereka anggap kita sembunyikan Mbak Num. Hati-hati, takutnya mereka telepon Mbak Num juga.”Rahang Prana mengeras seketika. Sejak pagi semuanya berjalan begitu baik. Shanum akhirnya bebas secara hukum. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, wanita itu bisa bernapas tanpa dibayangi status pernikahan yang menyakitkan.Prana mengangkat pandangannya dari layar ponsel saat mendengar saat suara pelan dari ruang tengah.Disana Shanum tengah bersenandung. Nada lagunya tak terlalu jelas. Hanya potongan-potongan lirik yang keluar sesuka hati sambil duduk santai di sofa dengan kaki terlipat. Sebuah novel terbuka di pangkuannya, sementara senyum kecil beberapa kali muncul tanpa ia sadari saat membaca.“Cantik,” gumam Prana.Su
"Ada apa ini?"Semua mata menoleh. Hendra berdiri di koridor dengan dua pengacara berpakaian formal. Kehadiran mereka membuat ruang terasa sempit seketika."Ada perlu apa jam segini?" Prana bertanya, mengabaikan Kalid.Hendra menepuk bahu Prana pelan. "Ada hal penting yang perlu disampaikan pada Shanum."Kalid yang menyadari kalau dirinya diluar kepentingan yang akan disampaikan pengacara Shanum, langsung mundur satu langkah. Ia sadar tak memiliki hak untuk ikut campur lebih jauh di sini."Ada banyak tamu," katanya kepada Shanum, bukan pada Prana yang masih memasang wajah batu. "Aku pamit dulu. Jangan lupa makan buburnya ya, biar cepat stabil."Shanum hanya mengangguk kecil. “Iya, dok. Terima kasih banyak.”Kalid membalikkan badan, mengangguk sambil tersenyum pada Hendra dan melangkah melewatinya dan dua orang lainnya menuju ujung koridor arah lift.Hendra mengangkat alisnya setelah Kalid menjauh. Dia menatap Prana penuh selidik. "Siapa dia?""Kalid."Mata Hendra membulat. "Ah! Kalid
“Mbok Yah?” panggil Prana rendah. “Mbok sakit?”Wanita tua itu hampir melompat dari kursinya karena terkejut. Wajahnya terlihat sangat pias tersorot lampu taman. Napasnya memburu dan ia tampak kesulitan untuk sekadar berdiri tegak.“Dokter Prana...” bisik Mbok Yah dengan nada bergetar yang nyaris h
“Shanum!”Panggilan Fadil menggelegar, membawa aura mencekam ke seluruh penjuru rumah. Suami Shanum itu baru saja menginjakkan kaki setelah perjalanan dari Bali, tetapi alih-alih membawa pelukan rindu, ia justru meluapkan amarah yang meledak-ledak.“Apa yang kamu bilang sama Mama sampai Mama nangi
“Ini tehnya, Ma,” ucap Shanum lembut.Kartika tak langsung menyentuh teh itu. Ia malah menatap Shanum dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tatapannya penuh selidik yang membuat Shanum merasa ditelanjangi. “Duduk kamu,” perintahnya dingin.“Sudah berapa lama Fadil di Bali?” tanya Kartika sambil meny
"Mas, gimana ini?" tanya Shanum panik. "Mertuaku bisa membunuhku jika tahu kita di sini."Prana segera melepaskan dekapannya, lalu menangkup kedua pipi Shanum dengan telapak tangan yang hangat. Ia memaksa wanita itu untuk menatap matanya secara langsung."Shanum, lihat aku. Tenang," bisiknya rendah,







