로그인“Kalau soal Malik, aku gak akan memanggil kalian kemari.” Hendra mengangguk pelan ke arah map di tangan Prana. “Yang membuatku khawatir ada di lembar berikutnya. Coba lihat.”Dengan cepat Prana mengambil lembaran terakhir itu. Tubuhnya kaku, urat di lehernya menegang. Untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan itu, ia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Shanum perlahan mendekat. Matanya melebar begitu melihat foto tersebut. Tubuhnya langsung kehilangan tenaga."Mas..." Suaranya nyaris tak terdengar.Di lembar berkas yang lain, ada foto Prana dan Shanum tengah berjalan-jalan di toko antik. Mereka difoto dari kejauhan melalui celah jendela kaca toko. Di foto itu, Prana sedang menggengam tangan Shanum sambil tersenyum, sebuah gestur yang terlalu intim untuk disebut sebagai teman.“Ini kan waktu kita mencari pajangan untuk klinik baru, Mas?” tanya Shanum, suaranya bergetar.Prana tetap diam. Tatapannya justru tertuju pada uraian yang tercetak di bawah foto itu. Semakin jauh ia membaca,
“Kenapa kita ke sini, Mas?” Shanum terkejut begitu mobil Prana terparkir di depan kantor Hendra.Kantor hukum milik Hendra—pengacara Shanum sekaligus sahabat Prana—berdiri megah di hadapan mereka. Shanum tak menyangka bahwa pelarian mereka dari kafe dan mampir sejenak di minimarket akan berujung ke tempat ini.“Ada yang perlu dibicarakan,” jawab Prana singkat sambil mematikan mesin mobil, membiarkan keheningan kembali merayap di antara mereka.Shanum mengingat kembali pesan yang dikirimkan Fadil sebelumnya. Perasaan tenang yang tercipta beberapa lalu di minimarket mendadak jadi terasa tegang kembali. Dadanya bergemuruh, mengingat foto dokumen gugatan pembatalan cerai yang dikirimkan mantan suaminya itu.“Apa ini soal pengajuan banding perceraian aku?” tanya Shanum, mencoba menebak dengan nada sangsi.Prana menghentikan gerakannya yang hendak membuka sabuk pengaman. Ia memutar tubuh, kembali memfokuskan pandangan pada Shanum. Dahinya berkerut dalam, menatap Shanum dengan sorot mata men
“Ada apa sebenarnya semalam, setelah aku pergi ke rumah sakit?”Prana melontarkan pertanyaan itu begitu mobilnya keluar dari area kafe, jari-jarinya mengeratkan setir dengan nada bicaranya lebih keras dari biasanya. Shanum duduk di sampingnya, mata Prana tajam tetap fokus pada jalanan depan, rahangnya mengeras.Shanum terdiam sebentar memperhatikan wajah Prana. Mata pria itu menyipit, otot pipi yang berkedut halus. Prana sedang marah.“Kamu ketemu dia?” lanjut Prana tanpa menunggu jawaban. “Gandi? Adik bajingan itu?”“Iya,” jawab Shanum tenang.“Sendirian?”“Enggak. Dia—”"Apa itu alasan kamu gak angkat telepon?" Prana memotong terdengar kesal."Kenapa kamu gak bilang mau menemui adik bajingan itu?" tanya Prana lagi, tanpa menunggu Shanum menjawab rentetan pertanyaan sebelumnya. "Apa yang kalian bahas?""Mas..." panggil Shanum lembut. Ia memberanikan diri memegang lengan Prana yang kaku saat mencengkeram setir. "Aku harus jawab yang mana dulu?"Shanum bertanya tanpa merasa terintimida
“Mas Prana?” gumam Shanum hampir tak percaya melihat pria itu kini berdiri di depannya.Pria itu mengenakan kemeja kasual yang sudah tak terlalu rapi. Wajah pria itu tak memancarkan kehangatan yang biasa ia tunjukkan pada Shanum hari ini. Pandangannya lurus, menusuk, dan rahangnya mengeras kokoh menatap kedua netra Shanum yang masih berdiri kaku.Tadi pagi Prana mewanti-wanti Shanum agar tak pergi kemana pun, karena Prana khawatir keluarga Fadil masih mencari keberadaan Shanum, begitu pun orang tua Shanum sendiri. Tapi ternyata Shanum malah menemui adik dari pria yang sudah menghancurkan hidupnya sendiri.“Sudah aku bilang, kalau mau kemana-mana bilang!” Suaranya begitu tegas penuh peringatan.Gandi memutar tubuhnya jadi berhadapan dengan Prana. Ia sempat terlihat sedikit terkejut, tapi langsung ia tepis dengan berdiri menghalangi Shanum dari Prana. “Siapa Anda?”Prana tak memedulikan pertanyaan Gandi. Ia melangkah maju melewati tubuh Gandi, dan memosisikan tubuhnya tepat di depan Sha
“Aku gak punya banyak waktu, Gandi. Cepat langsung katakan apa yang mau kamu bicarakan,” buka Shanum tanpa basa-basi, sama sekali tak menyentuh minuman yang sudah di sajikan lima belas menit yang lalu. Ia duduk dengan posisi tegak, kedua tangan bertautan diatas pangkuannya.Gandi mengaduk kopinya perlahan. Sikapnya jauh lebih tenang dibandingkan tadi malam di restoran. Tak ada lagi cengkeraman kasar atau nada suara yang meledak-ledak. Pria itu meletakkan sendok kecilnya, menatap Shanum serius.“Aku mau minta maaf soal semalam, Num,” kata Gandi, terdengar tulus. “Ponsel Mega masih aku pegang. Jangan khawatir, foto itu sudah dihapus semua, jadi gak akan sampai ke Mama.”Shanum mengembuskan napas pendek, merasa satu beban berat di pundaknya luruh begitu saja. “Makasih,” ucanya tulus. “Sekarang, katakan apa hal penting yang kamu maksud di pesan semalam?”Gandi bersandar pada kursi. “Kamu ingat waktu Ayah kita tiba-tiba mengumumkan perjodohan?”Kening Shanum mengkerut. “Kenapa tiba-tiba ba
“Aku gak punya banyak waktu, Gandi. Cepat langsung katakan apa yang mau kamu bicarakan,” buka Shanum tanpa basa-basi, sama sekali tak menyentuh minuman yang sudah di sajikan lima belas menit yang lalu. Ia duduk dengan posisi tegak, kedua tangan bertautan diatas pangkuannya.Gandi mengaduk kopinya perlahan. Sikapnya jauh lebih tenang dibandingkan tadi malam di restoran. Tak ada lagi cengkeraman kasar atau nada suara yang meledak-ledak. Pria itu meletakkan sendok kecilnya, menatap Shanum serius.“Aku mau minta maaf soal semalam, Num,” kata Gandi, terdengar tulus. “Ponsel Mega masih aku pegang. Jangan khawatir, foto itu sudah dihapus semua, jadi gak akan sampai ke Mama.”Shanum mengembuskan napas pendek, merasa satu beban berat di pundaknya luruh begitu saja. “Makasih,” ucanya tulus. “Sekarang, katakan apa hal penting yang kamu maksud di pesan semalam?”Gandi bersandar pada kursi. “Kamu ingat waktu Ayah kita tiba-tiba mengumumkan perjodohan?”Kening Shanum mengkerut. “Kenapa tiba-tiba ba
“Astaga! Jam berapa ini?” Shanum terlonjak dari tempat tidur. Ia panik, menoleh ke sisi ranjang yang sudah kosong dan dingin. Jantungnya mendadak berdegup kencang, memompa rasa bersalah yang luar biasa ke seluruh tubuh.“Aku kesiangan. Astaga, aku benar-benar takt ahu malu! cerocosnya Shanum.Tang
“Teruskan, Sayang,” bisik Prana. Menekan tubuh polos Shanum ke dinding kaca kamar mandi yang kini buram oleh embun air hangat. Kedua tangannya mencengkeram pinggul Shanum, mengangkatnya sedikit untuk menyelaraskan posisi mereka.Napas Prana yang memburu terasa panas di ceruk leher belakang Shanum,
“Mas…” protes Shanum lemah, tangannya yang semula berniat mendorong dada Prana justru mencengkeram erat kemeja pria itu untuk mencari pegangan.“Hmm?” sahut Prana pelan, bibirnya kini mulai merayap turun menyusuri garis rahang Shanum, mengabaikan penolakan setengah hati wanita itu. “Masih mau bilan
“Buat apa kamu ke sana?” tanya Prana, terdengar tak menyukai Shanum mendatangi rumah orang tuanya. Dahinya berkerut dalam, garis-garis ketegangan di wajahnya yang lelah kembali tercetak jelas. “Ada apa Ayahmu memanggil? Kenapa mendadak sekali?”Shanum menatap gelas di hadapannya, agak ragu untuk me







