Share

Bab 231

Penulis: QueenShe
last update Tanggal publikasi: 2026-06-25 22:45:38

“Dia dokter teman Mas Fadil kan?” tanya Gandi penuh penekanan. Mata pria itu menatap tajam, menuntut jawaban yang tak kunjung keluar dari bibir Shanum. “Sudah berapa lama kamu berhubungan dengan dia?”

Shanum memundurkan langkahnya, mencoba memberi jarak. Layar ponselnya kembali menyala, menampilkan nama Prana yang memanggil untuk kesekian kalinya. Getaran di telapak tangannya terasa begitu mengganggu, tetapi ia sengaja memasukan ponselnya ke dalam tas agar Gandi tak bisa membaca nama yang terte
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 365

    “Gimana arisan tadi? Aman kan? Mama gak bikin ulah, kan?”Prana baru masuk ke kamar, pulang dari klinik. Ia langsung mendaratkan kecupan hangat di puncak kepala Shanum.Shanum menyunggingkan senyuman tipis menyambut suaminya. Prana mendudukkan diri di sebelah Shanum. Meraih tangan istrinya, mengusap punggung tangan Shanum lembut.“Justru kebalikannya, Mas. Tadi seru banget,” jawab Shanum sambil terkekeh pelan mendengar nada bercanda suaminya. “Prana menaikkan sebelah alisnya, tertarik. “Seru gimana maksudnya?”“Tadi Tante Lastri sengaja nyindir aku di depan semua orang soal masa lalu aku sama Fadil,” cerita Shanum tanpa ragu. “Dia mancing-mancing biar aku malu.”Rahang Prana langsung mengeras seketika. Pria itu mengubah posisi duduknya, menatap istrinya tajam.“Terus? Dia ngomong apa sama kamu?”“Dia sengaja bilang ke semua orang kalau aku mantan istri Fadil yang katanya kasusnya heboh,” lanjut Shanum tenang.“Keterlaluan,” desis Prana geram. “Kamu diapain lagi sama dia? Kenapa gak l

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 364

    “Kenalin, ini menantu saya. Istri Prana.”Ralin melontarkan kalimat itu dengan santai. Sama sekali tak ada keraguan dalam pengumuman tersebut.Sebaliknya, suasana ruang privat restoran tempat arisan berlangsung langsung hening seketika. Belasan wanita seumuran Ralin yang semula sibuk mengobrol serempak menoleh ke arah pintu masuk.“Eh?”“Menikah?”“Prana sudah menikah?”“Serius, Jeng? Kapan?”Pertanyaan-pertanyaan itu datang hampir bersamaan dan saling tumpang tindih. Shanum yang berdiri di samping ibu mertuanya hanya memberikan respons berupa senyuman canggung.Salah seorang ibu bersasak tinggi bahkan sampai meletakkan cangkir tehnya kembali ke tatakan meja.“Kirain Prana sama Hania masih...” Wanita itu sengaja menggantung kalimatnya, membiarkan pandangannya meluncur ke ujung meja.Semua pasang mata di ruangan itu otomatis mengikuti arah pandangannya. Lastri duduk tegak di sana.Wanita paruh baya itu sejak tadi memang irit bicara. Raut wajahnya terpoles senyum tipis, tetapi kilat mat

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 363

    “Kamu nikmati aja, Sayang, biasanya ibu hamil justru lebih bergairah dibandingkan biasanya,” bisik Prana tepat di dekat telinga istrinya dengan suara serak.Mendengar godaan itu, Shanum langsung memalingkan wajahnya ke sisi lain karena malu. Tapi ia tak melawan saat Prana bergerak menurunkan celana piyamanya secara perlahan.“Siap, Sayang?” tanya Prana sekali lagi, meminta persetujuan meski sorot matanya sudah dikuasai penuh oleh hasrat.Shanum menelan ludahnya susah payah. Napasnya mulai memburu, berkejaran dengan detak jantung yang bergemuruh di dalam dada. Ia perlahan mengangguk kecil sebagai tanda pasrah sekaligus menyerahkan diri sepenuhnya.Mendapatkan lampu hijau dari sang istri, Prana tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia menundukkan kepala, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang jauh lebih dalam, menuntut, dan penuh penghayatan.Lidah Prana menyapu rongga mulut Shanum, mengecap manis yang selalu berhasil membuatnya hilang kendali. Shanum me

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 362

    “Mas... aku gak mimpi, kan?”Prana yang baru saja meletakkan ponsel di atas nakas langsung menoleh ke arah ranjang. Suasana kamar yang temaram memperlihatkan binar terang di mata istrinya.“Kenapa, Sayang?”Shanum merangkak naik ke atas kasur dengan gerakan antusias, sisa air matanya masih meninggalkan jejak basah di pipi.“Kamu mimpi apa?” tanya Prana penasaran, tersenyum kecil melihat perubahan suasana hati istrinya yang begitu cepat.Shanum menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab dengan senyum lebar.“Tante... eh, maksud aku, Mama... benar-benar nerima aku?”“Iya, Sayang. Kamu gak salah dengar.” Prana terkekeh pelan, mengikis jarak di antara mereka.“Beneran?”“Kan tadi kamu dengar sendiri.”Shanum menggigit bibirnya ragu. “Bukan karena aku hamil, kan?”“Bukan, Sayang,” jawab Prana tegas, menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.Shanum masih menatap wajah suaminya lekat-lekat, mencari celah keraguan di sana. “Serius?”Prana yang mengerti betul ketidakpastian di hati istriny

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 361

    "Gimana sekarang, masih mual?"Suara Ralin memecah keheningan meja makan. Shanum spontan mengangkat wajah dari piringnya, baru saja menyuap beberapa suap nasi."Masih dikit, Tante," jawab Shanum pelan.Ralin mengangguk. "Pusing?""Udah agak mendingan.""Perutnya sakit?"Shanum menggeleng. "Enggak."Tanpa diduga, Ralin mengulurkan tangan, mengambil sepotong lauk dari mangkuk tengah meja, memindahkannya ke piring Shanum. Gerakan itu membuat Shanum terbelalak, begitu pula Prana yang langsung berhenti mengunyah."Kalau nanti mual lagi, jangan dipaksain makan," lanjut Ralin datar tapi peduli. "Istirahat dulu, cari makanan yang enak di perut kamu.""Iya, Tante," balas Shanum lirih.Prana yang duduk di sampingnya mengulum senyum tipis. Sejak tadi ia diam-diam mengamati perubahan drastis sikap ibunya. Meski Ralin tetap bicara singkat dan tegas, sudah tak ada lagi sindiran tajam atau tatapan sinis untuk Shanum.Rali

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 360

    “Pran, jelasin,” Ralin berhenti sebentar. “Mama mau tahu, apa Ani memang selalu begitu sama anaknya?”Di sofa ruang tengah, Ralin menatap lurus ke Prana yang duduk di seberang. Prana tak langsung menjawab, mengembuskan napas berat.“Pran,” panggil Ralin, matanya menyipit tajam.“Iya, Ma,” sahut Prana akhirnya.Jawaban singkat itu membuat raut Ralin kaku. “Sering kayak gitu?”“Kurang lebih begitu.”Ralin bersandar ke sofa, mencerna jawaban putranya yang tenang tapi menyiratkan kepahitan pekat.“Separah apa?” tanya Ralin, penasarannya mendesak untuk tahu apa saja yang sudah ditelan menantunya bertahun-tahun. “Mama tahu kelakuan Ani dari dulu. Dia bakal menekan siapa pun yang ngehalangin dia. Kirain sama anaknya gak begitu.”“Sama Shanum lebih parah.”“Contohnya?”Prana mengangkat wajah, menatap lan

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 4

    Fadil melangkah lebar memasuki klinik baru milik Prana, tangannya mencengkeram pergelangan tangan Shanum, seperti menggiring tawanan menuju ruang interogasi. Shanum hanya bisa menunduk mengikuti langkah Fadil. Jantungnya bertalu hebat saat langkah mereka berhenti di depan pintu kamar yang kini tel

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 3

    “Makan yang banyak, Pran. Anggap saja rumah sendiri,” ujar Fadil akrab, sembari menyuap nasi dengan lahap. “Gimana? Sudah nyaman di atas?” Meja makan malam itu terasa seperti panggung sandiwara yang menyesakkan bagi Shanum. Aroma harum nasi hangat kalah oleh aura dominasi Fadil dan intensitas tata

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 2

    Shanum sudah berganti pakaian dengan daster katun sederhana yang tertutup hingga ke lutut, rambutnya sudah diikat rapi. Ia duduk di sisi sofa, berseberangan dengan Prana yang duduk tenang sambil sesekali melirik padanya. Fadil duduk disebelah Shanum, tampak sangat bersemangat. Kontras dengan dua

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 1

    “Aah… aku udah gak tahan… Aahh Shanum…” Tidak sampai tiga menit, erangan itu adalah tanda berakhirnya segalanya. Tanpa pemanasan, tanpa kecupan, apalagi usaha untuk memuaskan istrinya. “Sudah, Mas?” tanya Shanum getir. Fadil mencapai pelepasannya yang ia butuhkan, menyisakan kekosongan bagi S

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status