“Sebentar, Shanum,” panggil Andata cepat, melangkah maju mencoba menahan kepergian putri yang baru diketahuinya itu.Prana pasang badan, berdiri pas tepat di depan Shanum untuk menutupi akses Andata. “Apalagi, Om?” tanya Prana dingin.Andata menatap Prana, lalu mengalihkan pandangannya pada Shanum yang berdiri di balik bahu tegap Prana. “Saya mau bicara berdua sama kamu, Shanum. Tanpa Prana atau Ani. Cuma kita berdua.”Shanum menggelengkan kepala tanpa ragu sedikit pun. “Gak usah, Pak. Selesaikan saja urusan dengan Ibu. Urusan sama saya gak ada.”Ani yang berdiri beberapa langkah di belakang Andata mengetatkan rahangnya, melipat kedua tangan di dada dengan napas naik turun menahan emosi. Namun Shanum tak lagi memiringkan kepalanya untuk menatap wanita yang melahirkannya itu.“Mas, ayo,” bisik Shanum pelan, meremas ujung kemeja Prana.Prana merangkul bahu Shanum posesif, membawa wanita itu melangkah keluar dari ruang privat. Pintu itu bergeser tertutup rapat, memutus habis pertengkaran
Read more