“Mas, ada apa?” tanya Hania, ikut mendekat ke arah Prana yang panik hendak mengejar Shanum. “Kenapa?”“Titip dulu Mama, Han. Aku ke bawah sebentar,” potong Prana cepat, berbalik, berlari menuju lift.Hania menghela napas lelah, berdiri mematung memegangi dua cup kopi yang mulai dingin, menatap punggung Prana hilang di balik pintu lift.Prana terus menekan tombol lantai dasar. Begitu pintu terbuka di lobi, ia berlari keluar menuju area drop-off, matanya memindai deretan mobil. Tepat di dekat pembatas jalan, ditangkapnya punggung Shanum.Jantung Prana mencelos saat Shanum membuka pintu, masuk ke sedan hitam milik Kalid. Mobil itu melaju, membelah antrean kendaraan rumah sakit. Tangan Prana mengepal, otot rahangnya mengeras.Di satu sisi ada rasa lega, Shanum tak pergi dengan orang asing atau taksi sembarangan. Di sisi lain, frustrasi membuat dadanya bergemuruh.“Sebenarnya apa yang kamu dengar, Num?” gumamnya pelan.Ia berbalik arah, kembali ke ruang rawat ibunya. Ia perlu memastikan ap
Read more