Entah berapa lama mereka tertawa, sampai akhirnya seseorang menyadari aku tidak berkata apa-apa. Dia mencoba mencairkan suasana.“Aduh, Kak Reiny. Ini cuma bercanda saja. Untuk apa kamu begitu marah?”Aku menjawab dengan tenang, “Aku nggak marah.”Leona Jilid bersandar manja di pelukan Jeksen.“Kak Jeksen, sepertinya Kak Reiny nggak suka aku?”Jeksen langsung menatapku dengan alis berkerut.“Kamu bikin Leona kesal. Minta maaf padanya.”Melihat amarah mulai muncul di wajahnya, aku mengepalkan tangan erat-erat, tapi pada akhirnya tetap membungkuk.“Maaf, Nona Leona. Aku membuatmu nggak senang.”Apa pentingnya harga diri?Aku hanya tahu terakhir kali aku tidak meminta maaf pada Leona, aku dikurung di ruang bawah tanah selama tiga hari tiga malam.“Apa aku sudah boleh pergi?”Aku mengambil tas di sampingku.Namun, Jeksen tiba-tiba menarik tanganku. Aku refleks menghindar, tapi malah membuat bajuku terseret dan robek.Di balik pakaianku, terlihat jelas ada bekas luka bakar, ruam alergi, dan
Leer más