Short
99 Kali Lamaran Berakhir Jadi Prank

99 Kali Lamaran Berakhir Jadi Prank

By:  Ikan GelembungCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
8Chapters
0views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Di hari jadi kelima kami, Jeksen berlutut di tengah ucapan selamat semua orang. “Reiny, maukah kamu menikah denganku?” Namun, wajahku tetap datar tak berekspresi. Sesuai dugaan …. Detik berikutnya, Jeksen melempar cincin di tangannya, membakar gaun pengantin, dan menghancurkan seluruh dekorasi lamaran. Teman masa kecil kesayangannya tertawa terbahak-bahak melihat semua ini. Ini bukan pertama kalinya. Jeksen sudah melamarku 99 kali. Semuanya hanya demi membuat sang teman masa kecil yang depresi itu tertawa. Teman-temannya bersorak sambil mengejek, “Kenapa kali ini Kak Reiny malah sok jual mahal? Cepat terima dong!” “Kami mau lihat kamu ketakutan sampai menangis lagi!” Hatiku tenang, tanpa riak. Aku pun berkata dengan suara datar, “Maaf, aku sudah bertunangan. Baru dua hari yang lalu.” Jeksen tertegun sejenak, lalu mencibir, “Selain aku, siapa lagi yang mau sama kamu?” Semua orang tertawa keras, bahkan mulai bertaruh kapan aku bisa mendapatkan pasangan untuk nikah. Tapi mereka tidak tahu …. Begitu mendengar aku dilamar, pasanganku langsung bergegas kemari untuk merebutku kembali. Sekarang dia sudah dalam perjalanan ….

View More

Chapter 1

Bab 1

Entah berapa lama mereka tertawa, sampai akhirnya seseorang menyadari aku tidak berkata apa-apa. Dia mencoba mencairkan suasana.

“Aduh, Kak Reiny. Ini cuma bercanda saja. Untuk apa kamu begitu marah?”

Aku menjawab dengan tenang, “Aku nggak marah.”

Leona Jilid bersandar manja di pelukan Jeksen.

“Kak Jeksen, sepertinya Kak Reiny nggak suka aku?”

Jeksen langsung menatapku dengan alis berkerut.

“Kamu bikin Leona kesal. Minta maaf padanya.”

Melihat amarah mulai muncul di wajahnya, aku mengepalkan tangan erat-erat, tapi pada akhirnya tetap membungkuk.

“Maaf, Nona Leona. Aku membuatmu nggak senang.”

Apa pentingnya harga diri?

Aku hanya tahu terakhir kali aku tidak meminta maaf pada Leona, aku dikurung di ruang bawah tanah selama tiga hari tiga malam.

“Apa aku sudah boleh pergi?”

Aku mengambil tas di sampingku.

Namun, Jeksen tiba-tiba menarik tanganku. Aku refleks menghindar, tapi malah membuat bajuku terseret dan robek.

Di balik pakaianku, terlihat jelas ada bekas luka bakar, ruam alergi, dan berbagai luka akibat candaan mereka.

Wajah Jeksen langsung pucat.

“Kenapa bisa separah ini? Bukannya mereka bilang nggak akan meninggalkan bekas?”

Aku hanya tersenyum dingin dalam hati.

Menaruh fosfor putih di gaun pengantin, memasukkan mangga ke dalam kue hingga membuatku alergi, bahkan menaruh paku di sepatu dansaku.

Kalau aku masih bisa utuh tanpa luka, itu baru keajaiban dunia.

Jeksen lalu berjongkok, menarik ujung celanaku.

Di sana tampak jelas bekas operasi.

Dulu, mimpiku adalah menari.

Tapi sejak kakiku terluka, aku tak pernah menari lagi.

Ekspresi Jeksen semakin dipenuhi rasa bersalah.

“Reiny, aku ….”

“Ah!”

Leona tiba-tiba menjerit dan memeluk Jeksen.

“Jijik sekali!”

Wajah Jeksen langsung berubah dingin.

“Jangan ribut lagi, Leona. Semua ini dilakukan Reiny demi membuatmu senang. Kamu seharusnya berterima kasih padanya.”

“Nggak, aku justru harus berterima kasih padamu! Kalau kamu nggak peduli padaku, kamu nggak akan melakukan semua ini.”

Usai itu, dia menggandeng lengan Jeksen dengan erat.

“Sebelum meninggal, orang tuamu menitipkanmu padaku. Aku hanya menepati janjiku pada mereka, cuma karena itu.”

“Antara aku dan Reiny … siapa yang lebih penting bagimu?”

“Tentu saja Reiny. Dia adalah ….”

Sebelum kalimat itu selesai, Leona berjinjit dan mencium bibirnya.

Tubuh Jeksen sempat kaku seperti tersetrum.

Detik berikutnya, dia menahan kepala Leona dan memperdalam ciuman itu.

“Kak Jeksen, kamu jelas menyukaiku ….”

Leona tersenyum sambil menangis di pelukannya.

Tak satu pun dari mereka menyadari bahwa aku sudah pergi sejak tadi.

Di depan pintu, sebuah Maybach datang tepat waktu.

Melihat puluhan mobil mengikuti di belakangnya, aku tak bisa menahan tawa kecil.

“Tenang saja, mereka nggak akan melakukan apa-apa padaku.”

Pria yang datang untuk merebutku itu menghela napas lega saat melihatku baik-baik saja. Tangannya yang ramping membuka pintu kursi penumpang untukku.

“Ngomong-ngomong … kamu mau pesta pernikahan seperti apa?”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status