Compartir

Bab 2

Autor: Ikan Gelembung
Memikirkan harus urus surat pernikahan, aku baru teringat bahwa KTP-ku masih tertinggal di rumah yang dulu kutinggali bersama Jeksen.

Aku berdiri di depan pintu, lalu mencoba beberapa kali memasukkan kata sandi dengan tanggal lahirku. Namun, semuanya salah.

Sampai akhirnya, aku memasukkan tanggal lahir Leona.

Pintu terbuka.

Saat melihatku, tatapan Jeksen sedikit menghindar. Namun, nadanya justru terdengar bersemangat.

“Untuk apa kamu datang ke sini?”

Sambil melihat sepatu Leona di dekat pintu, aku menjawab singkat, “Aku mau ambil KTP.”

“Untuk apa?”

Aku tidak ingin berbicara banyak dengannya. Aku hanya ingin mengambil barangku dan pergi.

Namun begitu membuka pintu kamarku, aku melihat Leona mengenakan kemeja putih Jeksen.

Di lantai, berserakan beberapa alat kontrasepsi yang baru saja digunakan.

“Ah!”

Saat melihatku, dia menjerit, lalu berlari menghampiri dan menamparku keras.

“Siapa yang suruh kamu masuk? Keluar!”

Pipiku langsung terasa panas dan bengkak.

Jeksen buru-buru menghadang di depanku.

“Leona, jangan keterlaluan. Ini memang kamarnya Reiny.”

Namun, Leona bertingkah seperti kehilangan kendali.

Dia berteriak histeris, “Keluar! Suruh dia keluar!”

Sebuah gunting tajam tiba-tiba menusuk kaki kananku yang baru saja sembuh.

Aku menunduk, menahan erangan kesakitan.

Melihat senyum licik di matanya, aku tahu dia sengaja.

Aku mencabut gunting dari kakiku dan hendak menyerangnya balik.

Namun, Jeksen langsung berdiri di depan Leona.

“Apa yang kamu lakukan!”

Dia mendorongku keras hingga jatuh ke lantai, lalu memanggil pengawal untuk menyeretku ke ruang gelap.

“Reiny, aku benar-benar kecewa padamu. Setelah kamu sadar kesalahanmu dan minta maaf ke Leona, baru aku lepaskan kamu.”

Pintu ditutup lagi.

Aku menunduk untuk melihat kakiku yang masih berdarah, merobek kain pakaianku untuk membalut luka tersebut. Setelah itu, dengan sisa baterai terakhir di ponsel, aku mengirim pesan minta tolong.

Tengah malam ….

Dari kamar sebelah terdengar suara desahan yang semakin keras.

Beberapa kali aku terbangun karenanya.

Entah berapa lama, suara itu akhirnya berhenti.

Tubuhku yang lemah membuatku segera tertidur.

Namun, beberapa menit kemudian ….

Tok! Tok! Tok!

Pintu diketuk keras.

Jeksen muncul di depan pintu, bertelanjang dada.

“Reiny, bagaimana kondisimu? Apa kamu baik-baik saja?”

Aku mengerutkan kening, tidak mengerti apa yang dia inginkan.

“Lepaskan aku.”

Melihat aku masih bisa bicara, wajahnya tampak lega. Dia menunjuk ke beberapa pria besar di belakangnya.

“Ikat dia. Bawa ke rumah sakit.”

Dari percakapan mereka, aku baru tahu ternyata Leona mengalami pendarahan hebat akibat hubungan seksual yang terlalu brutal, kini membutuhkan transfusi darah sesegera mungkin.

Di rumah sakit, dokter memperingatkan dengan serius, “Kaki pasien ini sedang terluka dan tubuhnya sangat lemah. Kalau dipaksa transfusi, nyawanya bisa terancam.”

Tanpa berpikir panjang, Jeksen langsung menjawab, “Cepat lakukan tranfusi darah!”

Duniaku langsung tenggelam dalam kegelapan.

Aku bermimpi banyak hal.

Aku bermimpi tentang masa mudaku. Jeksen pernah berjanji akan mencintaiku seumur hidup.

Namun, semuanya berubah sejak Leona menderita depresi.

Di titik paling putus asa, aku bahkan memilih untuk mengakhiri hidupku.

Saat itulah, pria itu muncul.

Dia menyelamatkanku dari jurang kematian.

Dia berkata, “Apapun yang terjadi, kamu harus hidup, Reiny Havan!”

“Aku nggak izinkan kamu mati!”

“Reiny Havan!”

Aku tersentak bangun.

Ternyata itu bukan mimpi ….

Memang ada seseorang yang memanggilku.

Dia duduk di samping tempat tidurku, sepertinya sudah menungguku lama.

Begitu aku membuka mata, wajahnya langsung berubah dari cemas menjadi lega.

“Aku akan tangkap mereka semua sekarang juga, lalu balas dendam untukmu!”

Jempolnya mengusap jari telunjuk. Ini kebiasaan kecilnya saat sedang sangat marah.

Aku hampir refleks berkata, “Jangan tangkap mereka!”

“Baik. Kalau kamu nggak mau, nggak akan kulakukan.”

“Tangkap mereka hanya akan mengotori tanganmu. Kalau mau, hancurkan perusahaan Jeksen saja. Dia paling mencintai uang. Buat dia kehilangan segalanya. Baginya, ini jauh lebih menyakitkan daripada membunuhnya.”

Aku beristirahat di rumah sakit selama satu minggu penuh.

Setelah keluar dari perusahaan Jeksen, aku merasa sangat bosan.

Jadi, aku memutuskan untuk mulai mengurus detail pernikahanku sendiri.

Awalnya dia menolak keras karena takut aku kelelahan.

Namun, pada akhirnya dia menyerah karena aku terus merajuk dengan manja.

Aku membuka ponsel untuk mencari referensi pernikahan ….

Namun, apa yang muncul di halaman utama justru berita tentang Jeksen dan Leona yang mengumumkan hubungan mereka.

Akhir-akhir ini, karier Jeksen memang sedang naik daun. Dia sering muncul di berita utama.

Dalam unggahan itu, mereka bergandengan tangan dengan mesra, berciuman di atas bianglala.

Teksnya berbunyi: [Sisa hidupku hanya untukmu.]

Napasku sempat terhenti.

Lima tahun bersama Jeksen, dia selalu beralasan soal karier dan tak pernah mau mengumumkan hubungan kami.

Kalau terjadi di dulu, aku pasti akan cemburu sampai gila dan bertengkar hebat dengannya.

Tapi sekarang ….

Aku hanya melihatnya sekilas dengan dingin.

Namun saat menggulir layar, aku malah tak sengaja menekan tombol suka.

Detik berikutnya, telepon dari Jeksen masuk.

“Leona yang pakai ponselku untuk mengunggahnya tanpa izin. Di hatiku, kamu tetap satu-satunya pacarku.”

Aku ingin mengingatkannya bahwa kami sudah putus.

Namun tiba-tiba dari ujung telepon terdengar suara penuh kegembiraan.

“Jeksen! Dokter bilang aku hamil! Anak kembar!”

“Apa … serius?”

Suara Leona penuh kebahagiaan.

“Ayo kita nikah. Anak kita nggak boleh lahir tanpa ayah.”

Aku langsung menutup telepon, lalu menghapus dan memblokir semua kontak Jeksen.

Belakangan ini, si dia selalu pulang larut malam.

Aku tahu dia sedang fokus menghancurkan perusahaan Jeksen.

Dia ingin menemaniku untuk memilih gaun pengantin, tapi aku menolaknya.

“Aku bisa pergi sendiri. Nanti aku akan coba di beberapa tempat, anggap saja mengisi waktu.”

Namun, kebetulan yang menyebalkan ….

Begitu masuk ke toko baju pengantin, aku langsung bertemu Jeksen dan Leona yang berjalan sambil bergandengan tangan.

Sepertinya mereka juga datang untuk memilih gaun.

Jeksen refleks melepaskan tangan Leona, seperti anak kecil yang ketahuan berbuat salah.

“Reiny, aku ….”

Tatapan Leona padaku penuh niat buruk.

“Reiny, kamu mengikuti kami?”

Jeksen terlihat gugup.

“Reiny, dengarkan penjelasanku ….”

Aku mengangkat tangan, memperlihatkan cincin berlian di jariku.

“Bukan. Aku datang untuk mencoba gaun pengantin.”

Jeksen mengerutkan kening.

“Coba gaun? Aku tahu kamu masih belum bisa melupakanku. Tapi sekarang aku belum bisa menikahimu, aku punya tanggung jawab yang lebih penting ….”

Kalimatnya terpotong oleh dering telepon yang tiba-tiba berbunyi.

“Ada apa? Bukannya kerja sama kita sebelumnya baik-baik saja? Kenapa tiba-tiba dibatalkan?”

“Bagaimana mungkin aliran dana perusahaan bisa putus begitu saja? Aku segera ke sana!”

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • 99 Kali Lamaran Berakhir Jadi Prank   Bab 8

    “Dia punya depresi? Kamu yakin?”Hans menopang pipi dengan tangan, menyunggingkan senyum sinis.“Ini adalah surat keterangan depresi palsu yang dibuat Leona di rumah sakit. Selama bertahun-tahun ini, dia terus membohongimu. Dasar bodoh.”Jeksen menerima berkas-berkas itu dengan tatapan tak percaya.Seluruh tubuhnya seolah runtuh.“Kamu membohongiku? Jadi, selama ini semuanya hanya bohongan? Lalu semua yang kulakukan untukmu, melukai Reiny selama ini dianggap apa?”Dia merobek semua kertas itu, lalu mencengkeram dagu Leona dengan kasar.“Dasar jalang, kamu cari mati!”Matanya dipenuhi amarah, seolah ingin mencabik-cabik Leona.Namun, Leona justru tertawa.“Apa maksudmu aku mencelakai Reiny? Apa aku pernah menodongkan pisau ke lehermu dan memaksamu melakukan semua itu?”“Jeksen, manusia nggak bisa memiliki semuanya sekaligus. Kalau sudah memilih cinta pertama, jangan berharap masih bisa memiliki cinta yang lain.”“Aku melakukan semua ini hanya demi anak dalam kandunganku. Kalau Paman Han

  • 99 Kali Lamaran Berakhir Jadi Prank   Bab 7

    Aku memalingkan wajah dengan dingin.“Aku datang cuma mau menanyakan satu hal. Waktu itu, kecelakaan mobil yang membuatku keguguran dan kehilangan anak, apa kamu sudah tahu sejak awal?”Kejadian itu bukan sekadar kecelakaan biasa. Mereka mengoleskan minyak di telapak sepatuku, lalu menebarkan paku di jalan yang pasti kulewati saat pulang.Pada akhirnya, sebuah truk besar melaju lurus menabrakku.Kalau bukan karena Hans, mungkin aku sudah mati dalam kecelakaan itu.Aku tidak percaya itu kecelakaan.Orang yang ingin mencelakaiku jelas mengincar nyawaku.Kalau Jeksen juga terlibat dalam hal ini, aku tidak akan pernah mengampuninya!Wajahnya langsung menegang.“Anak apa? Kecelakaan apa? Kapan kamu hamil?”Aku mengusap air mata di sudut mataku, tidak lagi menjawabnya.“Kamu seharusnya bersyukur kamu nggak terlibat. Kalau nggak, aku pasti akan membuatmu mati tanpa punya tempat untuk dikuburkan.”Usai berkata, aku melirik Jeksen yang tergeletak di lantai seperti lumpur tak bernyawa, lalu berb

  • 99 Kali Lamaran Berakhir Jadi Prank   Bab 6

    Namun, dia berkata, “Reiny, bagian pohon yang berbekas luka justru adalah bagian yang paling kuat. Reiny yang berhasil keluar dari keputusasaan akan menjadi Reiny yang paling kuat.”Pada masa terparah, aku bahkan pernah menggigit tangannya sampai terkelupas sepotong daging.Setelah aku sembuh, bagian itu pun masih tersisa bekas luka berbentuk bulan sabit.“Aku nggak menganggap ini luka. Ini adalah bukti cinta kita.”Hans mengangkat tangannya, memperlihatkan bekas luka itu.Seketika, suasana yang semula berat menjadi cair.Tawa mulai terdengar di sekeliling.Tatapan orang-orang pada kami pun kini dipenuhi rasa iri dan kagum.Seminggu kemudian, aku kembali ke vila yang dulu kutinggali bersama Jeksen.“Reiny, aku tahu kamu pasti akan kembali ke sisiku.”Begitu pintu terbuka, yang terlihat hanyalah botol-botol berserakan di lantai.Bau alkohol dari tubuh Jeksen begitu menyengat hingga aku refleks menutup hidung.Dia bangkit dengan susah payah dari lantai. Wajahnya penuh harap.“Reiny, hari

  • 99 Kali Lamaran Berakhir Jadi Prank   Bab 5

    Sudut Pandang Reiny.Aku melihat wajah Jeksen langsung pucat pasi.“Pa … Paman, kamu … bilang apa?”Tatapan Hans jatuh pada tangan Jeksen yang masih memegangku. Ekspresinya begitu dingin hingga terasa mencekam.“Lepaskan tantemu.”Namun, Jeksen tetap tidak mau lepas tangan.“Paman, apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana mungkin kamu bersama Reiny? Dia adalah pacarku!”“Dia adalah individu yang berdiri sendiri.”Saat Hans menatapku, sorot matanya langsung melembut.“Reiny, apa kamu mau dia menyentuhmu?”Aku langsung menghempaskan tangan Jeksen.“Lepaskan aku, Jeksen! Aku sudah bilang sejak lama kalau kita sudah putus dan aku sudah bertunangan! Kamu sendiri yang nggak mau percaya!”“Kapan kamu pernah bilang?”Suaranya hampir pecah seperti ingin menangis.“Waktu kamu mengerjaiku, waktu aku pulang untuk ambil KTP, bahkan di depan toko gaun pengantin pun aku sempat bilang! Kamu saja yang nggak mau dengar!”“Ini ….”Jeksen seperti disambar petir.“Ini nggak mungkin … nggak mungkin ….”Hans s

  • 99 Kali Lamaran Berakhir Jadi Prank   Bab 4

    Sudut Pandang Pihak Ketiga.Jeksen berkata dengan bengong, “Leona … apa aku salah lihat? Kenapa aku malah melihat Reiny di atas panggung?”Jeksen tertegun beberapa detik sebelum akhirnya tersadar.Leona yang duduk di bawah sebenarnya sudah lebih dulu melihat wajah Reiny dengan jelas. Namun, dia sengaja berkata, “Mana mungkin? Pasangan paman ketigamu kebetulan mirip dengan Reiny saja. Dengan kondisi seperti Reiny, mana mungkin ada pria yang menginginkannya?”Jeksen pun menghela napas lega. Karena jaraknya cukup jauh, dia memang tidak bisa melihat wajah pengantin dengan jelas.“Benar juga. Pamanku, Hans Zimmer, terkenal sangat pilih-pilih. Banyak wanita mengejarnya, mana mungkin dia menyukai Reiny.”Namun entah kenapa, hatinya tetap terasa gelisah.Ada orang yang datang menyapanya, tapi dia hanya mengangguk dengan asal. Pikirannya melayang entah ke mana.Melihat pasangan pengantin di atas panggung saling mengucap janji, dia tiba-tiba teringat semua lamaran yang pernah dia lakukan pada Re

  • 99 Kali Lamaran Berakhir Jadi Prank   Bab 3

    Jeksen menggenggam ponselnya erat, lalu menunduk dan menatapku dengan rasa bersalah di wajahnya.“Tunggu aku balik … nanti aku jelaskan semuanya.”Setelah mengatakan itu, dia langsung pergi tanpa melihat Leona sekilas pun.Tatapan Leona padaku langsung dipenuhi amarah.“Reiny, semua ini ulahmu, ‘kan? Kamu datang ke sini cuma untuk pamer? Sekarang kamu sudah puas?”Dia tiba-tiba mendekat. Senyumnya penuh niat jahat.“Kamu pasti iri karena aku hamil, ‘kan? Mau tahu satu rahasia? Waktu kamu hamil, lalu keguguran dan menangis di rumah sakit … aku dan Jeksen sempat bersenang-senang di kamar sebelah. Anak kami dikandung saat itu juga.”Seluruh tubuhku gemetar karena marah.Dengan seluruh tenaga, aku menamparnya keras.“Berani-beraninya kamu memukulku! Aku bunuh kamu!”Leona mendorongku.Di belakangku adalah jendela.Begitu sadar, aku langsung meraih tangannya.Kalau harus mati, ayo mati bersama!Lantai ini setinggi lima meter.Jatuh dari sini, kalau tidak mati, setidaknya pasti cacat.Untung

  • 99 Kali Lamaran Berakhir Jadi Prank   Bab 1

    Entah berapa lama mereka tertawa, sampai akhirnya seseorang menyadari aku tidak berkata apa-apa. Dia mencoba mencairkan suasana.“Aduh, Kak Reiny. Ini cuma bercanda saja. Untuk apa kamu begitu marah?”Aku menjawab dengan tenang, “Aku nggak marah.”Leona Jilid bersandar manja di pelukan Jeksen.“Kak

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status