INICIAR SESIÓN“Dia punya depresi? Kamu yakin?”Hans menopang pipi dengan tangan, menyunggingkan senyum sinis.“Ini adalah surat keterangan depresi palsu yang dibuat Leona di rumah sakit. Selama bertahun-tahun ini, dia terus membohongimu. Dasar bodoh.”Jeksen menerima berkas-berkas itu dengan tatapan tak percaya.Seluruh tubuhnya seolah runtuh.“Kamu membohongiku? Jadi, selama ini semuanya hanya bohongan? Lalu semua yang kulakukan untukmu, melukai Reiny selama ini dianggap apa?”Dia merobek semua kertas itu, lalu mencengkeram dagu Leona dengan kasar.“Dasar jalang, kamu cari mati!”Matanya dipenuhi amarah, seolah ingin mencabik-cabik Leona.Namun, Leona justru tertawa.“Apa maksudmu aku mencelakai Reiny? Apa aku pernah menodongkan pisau ke lehermu dan memaksamu melakukan semua itu?”“Jeksen, manusia nggak bisa memiliki semuanya sekaligus. Kalau sudah memilih cinta pertama, jangan berharap masih bisa memiliki cinta yang lain.”“Aku melakukan semua ini hanya demi anak dalam kandunganku. Kalau Paman Han
Aku memalingkan wajah dengan dingin.“Aku datang cuma mau menanyakan satu hal. Waktu itu, kecelakaan mobil yang membuatku keguguran dan kehilangan anak, apa kamu sudah tahu sejak awal?”Kejadian itu bukan sekadar kecelakaan biasa. Mereka mengoleskan minyak di telapak sepatuku, lalu menebarkan paku di jalan yang pasti kulewati saat pulang.Pada akhirnya, sebuah truk besar melaju lurus menabrakku.Kalau bukan karena Hans, mungkin aku sudah mati dalam kecelakaan itu.Aku tidak percaya itu kecelakaan.Orang yang ingin mencelakaiku jelas mengincar nyawaku.Kalau Jeksen juga terlibat dalam hal ini, aku tidak akan pernah mengampuninya!Wajahnya langsung menegang.“Anak apa? Kecelakaan apa? Kapan kamu hamil?”Aku mengusap air mata di sudut mataku, tidak lagi menjawabnya.“Kamu seharusnya bersyukur kamu nggak terlibat. Kalau nggak, aku pasti akan membuatmu mati tanpa punya tempat untuk dikuburkan.”Usai berkata, aku melirik Jeksen yang tergeletak di lantai seperti lumpur tak bernyawa, lalu berb
Namun, dia berkata, “Reiny, bagian pohon yang berbekas luka justru adalah bagian yang paling kuat. Reiny yang berhasil keluar dari keputusasaan akan menjadi Reiny yang paling kuat.”Pada masa terparah, aku bahkan pernah menggigit tangannya sampai terkelupas sepotong daging.Setelah aku sembuh, bagian itu pun masih tersisa bekas luka berbentuk bulan sabit.“Aku nggak menganggap ini luka. Ini adalah bukti cinta kita.”Hans mengangkat tangannya, memperlihatkan bekas luka itu.Seketika, suasana yang semula berat menjadi cair.Tawa mulai terdengar di sekeliling.Tatapan orang-orang pada kami pun kini dipenuhi rasa iri dan kagum.Seminggu kemudian, aku kembali ke vila yang dulu kutinggali bersama Jeksen.“Reiny, aku tahu kamu pasti akan kembali ke sisiku.”Begitu pintu terbuka, yang terlihat hanyalah botol-botol berserakan di lantai.Bau alkohol dari tubuh Jeksen begitu menyengat hingga aku refleks menutup hidung.Dia bangkit dengan susah payah dari lantai. Wajahnya penuh harap.“Reiny, hari
Sudut Pandang Reiny.Aku melihat wajah Jeksen langsung pucat pasi.“Pa … Paman, kamu … bilang apa?”Tatapan Hans jatuh pada tangan Jeksen yang masih memegangku. Ekspresinya begitu dingin hingga terasa mencekam.“Lepaskan tantemu.”Namun, Jeksen tetap tidak mau lepas tangan.“Paman, apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana mungkin kamu bersama Reiny? Dia adalah pacarku!”“Dia adalah individu yang berdiri sendiri.”Saat Hans menatapku, sorot matanya langsung melembut.“Reiny, apa kamu mau dia menyentuhmu?”Aku langsung menghempaskan tangan Jeksen.“Lepaskan aku, Jeksen! Aku sudah bilang sejak lama kalau kita sudah putus dan aku sudah bertunangan! Kamu sendiri yang nggak mau percaya!”“Kapan kamu pernah bilang?”Suaranya hampir pecah seperti ingin menangis.“Waktu kamu mengerjaiku, waktu aku pulang untuk ambil KTP, bahkan di depan toko gaun pengantin pun aku sempat bilang! Kamu saja yang nggak mau dengar!”“Ini ….”Jeksen seperti disambar petir.“Ini nggak mungkin … nggak mungkin ….”Hans s
Sudut Pandang Pihak Ketiga.Jeksen berkata dengan bengong, “Leona … apa aku salah lihat? Kenapa aku malah melihat Reiny di atas panggung?”Jeksen tertegun beberapa detik sebelum akhirnya tersadar.Leona yang duduk di bawah sebenarnya sudah lebih dulu melihat wajah Reiny dengan jelas. Namun, dia sengaja berkata, “Mana mungkin? Pasangan paman ketigamu kebetulan mirip dengan Reiny saja. Dengan kondisi seperti Reiny, mana mungkin ada pria yang menginginkannya?”Jeksen pun menghela napas lega. Karena jaraknya cukup jauh, dia memang tidak bisa melihat wajah pengantin dengan jelas.“Benar juga. Pamanku, Hans Zimmer, terkenal sangat pilih-pilih. Banyak wanita mengejarnya, mana mungkin dia menyukai Reiny.”Namun entah kenapa, hatinya tetap terasa gelisah.Ada orang yang datang menyapanya, tapi dia hanya mengangguk dengan asal. Pikirannya melayang entah ke mana.Melihat pasangan pengantin di atas panggung saling mengucap janji, dia tiba-tiba teringat semua lamaran yang pernah dia lakukan pada Re
Jeksen menggenggam ponselnya erat, lalu menunduk dan menatapku dengan rasa bersalah di wajahnya.“Tunggu aku balik … nanti aku jelaskan semuanya.”Setelah mengatakan itu, dia langsung pergi tanpa melihat Leona sekilas pun.Tatapan Leona padaku langsung dipenuhi amarah.“Reiny, semua ini ulahmu, ‘kan? Kamu datang ke sini cuma untuk pamer? Sekarang kamu sudah puas?”Dia tiba-tiba mendekat. Senyumnya penuh niat jahat.“Kamu pasti iri karena aku hamil, ‘kan? Mau tahu satu rahasia? Waktu kamu hamil, lalu keguguran dan menangis di rumah sakit … aku dan Jeksen sempat bersenang-senang di kamar sebelah. Anak kami dikandung saat itu juga.”Seluruh tubuhku gemetar karena marah.Dengan seluruh tenaga, aku menamparnya keras.“Berani-beraninya kamu memukulku! Aku bunuh kamu!”Leona mendorongku.Di belakangku adalah jendela.Begitu sadar, aku langsung meraih tangannya.Kalau harus mati, ayo mati bersama!Lantai ini setinggi lima meter.Jatuh dari sini, kalau tidak mati, setidaknya pasti cacat.Untung
Entah berapa lama mereka tertawa, sampai akhirnya seseorang menyadari aku tidak berkata apa-apa. Dia mencoba mencairkan suasana.“Aduh, Kak Reiny. Ini cuma bercanda saja. Untuk apa kamu begitu marah?”Aku menjawab dengan tenang, “Aku nggak marah.”Leona Jilid bersandar manja di pelukan Jeksen.“Kak







