Pria itu sempat mengerjapkan mata saat melihat Eca dan Ihsan berdiri di depan rumahnya. Pandangannya berpindah dari Eca ke Ihsan, sebelum akhirnya berhenti pada suami Eca itu.“Loh, Pak Ihsan, bukan?” tanyanya. “Calon Kades di desa kita, nya? Putranya Mang Dedi?”Ihsan mengangguk sopan, lalu langsung meraih tangan pria itu untuk menciumnya takzim.“Iya, Pak Deden,” jawabnya ramah. “Ini saya.”Pak Deden tampak semakin terkejut. Matanya kembali bergerak dari Ihsan ke Eca, lalu berhenti lagi pada Ihsan.Eca bisa melihat perubahan raut wajah pria paruh baya itu. Seolah kedatangan mereka membuatnya buru-buru merapikan sikap.Ia membuka pintu sedikit lebih lebar.“Hampir saja saya nggak ngenalin.”Ihsan tertawa kecil.“Mau kampanye, nya?” tanya Pak Deden. “Punten, Pak, di imah mah teu ada apa-apa.”“Oh, sanes, Pak.” Ihsan buru-buru menggeleng. “Saya bukan mau kampanye. Saya cuma nganterin istri. Katanya mau ketemu anak muridnya.”“Benar, Pak. Saya mau nengokin Ainun,” lanjut Eca. “Tiga hari
Read more