Menyebalkan sekali memang suaminya itu.“Gaya banget main rahasia-rahasiaan segala,” cibir Eca sambil melirik tajam ke arah suaminya.Sayangnya, pria di sebelahnya tampak sama sekali tidak merasa bersalah.Tatapannya tetap lurus ke depan, seolah tadi ia tidak baru saja membuat kepala Eca penuh pertanyaan.Eca memalingkan wajah kembali ke layar televisi.Acara kuis malam itu masih berjalan. Pembawa acaranya berceloteh riang, diselingi tawa penonton yang sesekali terdengar dari televisi.Namun, pikiran Eca sudah telanjur ke mana-mana.Paling menyebalkannya lagi, ia sendiri tidak mengerti kenapa sampai sepenasaran ini pada perasaan Ihsan.Padahal, kalau dipikir-pikir lagi, perempuan itu jelas ada di masa lalu suaminya.Yang namanya masa lalu, harusnya tidak usah diungkit lagi, kan.Sayangnya, logika tidak selalu bisa mengalahkan perasaan.Sungguh ia masih tak suka membayangkan kalau perempuan yang pernah disukai Ihsan itu benar-benar Asih.Bagaimana kalau Ihsan sebenarnya masih menyukain
Read more