Suasana di kamar sempat hening selama beberapa saat.Ihsan menatap lurus ke arah istrinya, lalu perlahan melangkah mendekat. Tangannya terulur mengusap pelan pipi Eca.“Neng ….”Eca mengangkat kepala. Di balik manik mata Ihsan yang teduh, ia tidak menemukan kepanikan sedikit pun.“Tenangin diri dulu.”“Gimana bisa tenang, Kang?” Eca menggeleng lemah dengan wajah kusut. “Rahasia kita ada di situ. Terus sekarang suratnya malah hilang gara-gara kecerobohan aku.”“Nanti saya bantu cari.”“Tapi kalau—”“Saya bantu cari,” ulang Ihsan, kali ini sedikit menekankan ucapannya, meski nada suaranya tetap tenang.Eca terdiam.Rasanya, setiap kali Ihsan bicara setenang itu padanya, dadanya yang semula sesak selalu perlahan ikut mereda.Ia mengembuskan napas pelan.“Mungkin ketinggalan di rumah Mamah,” ucapnya lirih. “Akang coba cari ke sana, ya.”“Iya, Neng Sayang.”Ihsan
اقرأ المزيد