Dalam perjalanan, angin pagi menyapu jalanan desa yang mulai lengang. Rumah-rumah warga perlahan berganti dengan hamparan sawah yang terbentang luas di kiri dan kanan.Awalnya, Eca masih melingkarkan tangan di pinggang Ihsan, sekadar biar meyakinkan seperti kata pria itu tadi.Namun, begitu jalan mulai sepi, benar-benar sepi, hanya tersisa suara mesin motor dan gesekan angin, Eca langsung melepas tangannya pelan-pelan, seakan tak ingin ketahuan.Ia pura-pura membenarkan posisi duduk, lalu menarik jarak sedikit.Posisinya sudah cukup aman, tetapi entah kenapa, justru setelah itu ia jadi salah tingkah sendiri.Astaga … lagipula, kenapa ia bisa refleks memeluk begitu tadi?Padahal, seharusnya tidak perlu berlebihan seperti itu, kan..Eca mengerucutkan bibir, menatap lurus ke depan. Angin yang menerpa wajahnya tak banyak membantu menenangkan isi kepalanya.“Anak kecil tadi siapa?” Suara Ihsan tiba-tiba terdengar, tetapi tertelan angin.Eca mengernyit. Angin terlalu kencang, yang masuk ke
Last Updated : 2026-04-20 Read more