Setelah sepakat dengan perjanjian nikah yang mereka buat, Eca dan Ihsan langsung menuju rumah pria itu. Eca terpaksa dibonceng menggunakan motor trail Ihsan yang joknya sudah sempit, tinggi lagi. Benar-benar tidak manusiawi untuk ukuran dirinya yang cuma 158 cm. Kakinya sampai nyaris menggantung.Jantung Eca sampai tak benar-benar tenang sepanjang perjalanan dibonceng Ihsan. Deg-degannya minta ampun. Padahal, harusnya biasa saja. Toh, mereka sudah saling kenal sejak kecil. Masalahnya, Ihsan sekarang bukan Ihsan yang dulu. Dia bukan lagi anak laki-laki pendiam yang sering dibully dan diam saja. Sekarang, ah … entah sejak kapan, dia menjelma jadi pria tinggi, rapi, dan … ya ampun, ganteng.Bahkan, dengan sangat terpaksa, dalam hatinya Eca mengakui satu hal yang begitu menyebalkan, kalau dilihat-lihat Ihsan memang lebih tampan dari mantannya.“Ck!” Eca mendecak pelan, cepat-cepat menggeleng, berusaha menepis pikiran konyol itu. ‘Ngapain dibandingin, sih!’Angin pagi menjelang sian
Last Updated : 2026-04-11 Read more