Eca nyaris kehabisan kata-kata untuk menanggapi saudara tirinya itu. “Astaga, Arina!” pekiknya setengah frustrasi. “Siapa juga yang mau pakai baju bolong-bolong begitu, yang ada aku masuk angin. Kalau ada ide, tuh, dipikir-pikir dulu, dong.”“Ya terus? Masa mau dipajang aja? Aku udah effort banget, loh, ngasih kado. Masa kamu nggak menghargai?”Eca mendongak ke langit-langit, menarik napas dalam-dalam, sembari menahan diri agar tidak benar-benar menjerit.Arina benar-benar menguji batas kesabarannya.“Awas kamu, ya. Nggak akan aku maafin,” ancamnya. “Kasih hapenya ke Mamah.”Dalam beberapa detik, suara Arina sudah tak terdengar lagi, berganti dengan suara lembut ibunya. “Ini Mamah, Neng.”“Mamah, si Arina itu nyebelin banget. Dia masukin baju bolong-bolong ke tas aku,” geram Eca tanpa jeda. “Tolong banget … minta Sari sama Fitri atau siapa aja, deh, bawain baju aku ke sini sekarang. Baju apa saja terserah, yang penting
Last Updated : 2026-05-06 Read more