Eca melotot tajam. Hampir tak percaya kalimat seperti itu bisa keluar dari mulut Arina.Benar-benar ya … gadis itu kalau bicara, tidak pernah disaring dulu.“Ih, mulut kamu tuh betul-betul ya, Arina,” sahutnya, masih menahan kesal. “Biarin aja, lah. Mereka cuma ambil makanan lebih, bukan ngambil uang kamu. Itu pun mereka izin.”“Makanan yang diambil nggak sebanding sama tenaga mereka dari kemarin bantu-bantu di sini. Jadi orang jangan pelit amat. Nanti hidup kamu yang sempit sendiri,” omel Eca. Ia merasa Arina benar-benar sudah kelewatan kali ini. Perkara makanan saja dipermasalahkan.Arina mendengkus, jelas tak terima. “Susah ngomongnya kalau sama-sama orang kampung.”Eca hanya menggeleng pelan saat gadis itu berlalu begitu saja, tanpa merasa bersalah. Dada Eca masih terasa panas, tetapi ia memilih diam.“Kok bisa ya …,” gumamnya lirih, “ada orang nyebelinnya … nyebelin banget.”Setelah para tetangga yang tersisa ikut pamit, giliran keluarganya yang beranjak pulang menjelang sore ha
Last Updated : 2026-04-22 Read more